Dr Dr Nadya Afdholy SHum MPd MHum, Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Airlangga (UNAIR) saat mengikuti Diskusi Meja Bundar “Mampukah Sastra Indonesia Mendunia?” yang bekerja sama dengan The Korea-Indonesia Center di Gedung Pascasarjana, HUFS pada Selasa (6/10/2026) (foto: narasumber)

Mengajar di HUFS, Akademisi UNAIR Buka Jalan Internasionalisasi Sastra Indonesia

40 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Dr Nadya Afdholy SHum MPd MHum, Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Airlangga (UNAIR), berkesempatan menjadi visiting lecturer di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), Korea Selatan yang resmi berjalan pada Rabu (1/9/2026). Dalam masa tugasnya, ia tidak hanya mengajar, namun turut berpartisipasi dalam ruang dialog akademik lintas negara lewat Diskusi Meja Bundar “Mampukah Sastra Indonesia Mendunia?”. Kegiatan tersebut bekerja sama dengan The Korea-Indonesia Center di Gedung Pascasarjana, HUFS pada Selasa (6/10/2026). 

“Kesempatan menjadi visiting lecturer di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) adalah bagian dari perluasan kolaborasi sekaligus upaya internasionalisasi kajian sastra dan budaya Indonesia,” ungkapnya. 

Dr Nadya Afdholy SHum MPd MHum, Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Airlangga (UNAIR) bersama akademisi Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), Korea Selatan (foto: narasumber)
Dr Nadya Afdholy SHum MPd MHum, Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Airlangga (UNAIR) bersama akademisi Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), Korea Selatan (foto: narasumber)
Sastra Indonesia dan Tantangan Mendunia

Bagi Dr Nadya, sastra Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk mendunia. Hal tersebut lewat terobosan batas bahasa, seperti penerjemahan, publikasi internasional, serta partisipasi aktif penulis Indonesia dalam forum sastra. Tetapi, kehadiran sastra Indonesia di berbagai negara belum sepenuhnya memperoleh visibilitas sebanding dengan kekayaan tradisi dan persoalan yang menjadi fokusnya. 

Kualitas karya, ketersediaan terjemahan, akses terhadap buku, pengenalan konteks sosial-budaya Indonesia, serta dukungan institusi pendidikan dan penerbitan menjadi faktor penerimaan sastra Indonesia di kalangan pembaca asing. Persoalan sastra Indonesia tidak berhenti pada tawaran karya bagi dunia. Persoalan juga bagaimana pengalaman lokal di dalam karya sastra dapat dikomunikasikan, diterjemahkan, dan dipertemukan dengan pengalaman pembaca dari kebudayaan lain.

“Mungkin kita perlu mengubah cara memandang internasionalisasi sastra. Karena tujuannya bukan semata-mata membuat karya Indonesia mengikuti selera pasar global, melainkan membangun kondisi agar karya tersebut dapat hadir dengan kekhasan estetik dan perspektif kritisnya sendiri,” ujarnya.

Tema-tema karya sastra seperti keluarga, relasi antargenerasi, ketimpangan sosial, gender, dan identitas memiliki kedudukan relevan lintas budaya yang menjadi titik temu pengalaman masyarakat Indonesia dan Korea. Ia juga menekankan perlunya pendekatan kontekstual dan dialogis sebagai upaya memudahkan proses pembacaan sekaligus menyoroti peran strategis perguruan tinggi guna membangun apresiasi lintas negara. 

Kontribusi bagi UNAIR dan Peluang Kolaborasi 

Pengalaman selama di HUFS, Korea Selatan, menjadi modal akademik dalam mengembangkan sastra Indonesia di lingkup universitas serta tingkat internasional. Peluang kontribusi menjadi salah satu buah tangan yang dapat membuka ruang untuk memperkenalkan sekaligus mengkaji bahasa, sastra, dan budaya Indonesia dalam lingkungan akademik yang berbeda. Selama mengajar di HUFS, kesempatan berinteraksi dengan mahasiswa yang memiliki latar bahasa dan budaya beragam juga menjadi pengalaman edukatif bagi Dr Nadya. 

“Bagi saya, kita tidak hanya perlu menduniakan sastra Indonesia, tetapi harus memastikan bahwa akademisi dan mahasiswa Indonesia ikut berperan aktif. Perannya adalah dalam menentukan bagaimana sastra kita dibaca, ditafsirkan, dan didiskusikan di tingkat internasional,” pungkasnya. 

Penulis: Amelia Farah Putri Iswara

Editor: Ragil Kukuh Imanto 

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top