Melalui KORA, FKM UNAIR Ajak Mahasiswa Belajar Mendengarkan Teman tanpa Menghakimi

15 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Tekanan akademik dan persoalan pribadi dapat memengaruhi kesehatan mental mahasiswa. Sebagai respons atas situasi tersebut, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga menyelenggarakan kegiatan Connect with KORA (Koala Ramah Obrolan) di Ruang 4.08, Gedung Kuliah Bersama (GKB) Kampus MERR-C, Minggu (18/10/2026). Kegiatan tersebut sekaligus menjadi peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia.

Connect with KORA menghadirkan Dosen FKM, Dr Riris Diana Rachmayanti SKM MKes; dan content creator psikologi dan self development, Tabitha Neema Christy SPsi.

Dr Riris menjelaskan bahwa kesehatan mental mencakup kesejahteraan emosional, kemampuan berkonsentrasi, menjalin hubungan sosial, dan menghadapi masalah. Beban tugas, tuntutan akademik, kecemasan, maupun persoalan hubungan juga dapat memengaruhi kondisi mahasiswa.

Ia mengingatkan bahwa stres tidak selalu berdampak buruk. “Stres itu sebenarnya ada dua. Ada yang positif, ada yang negatif,” jelasnya. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mengenali pemicu stres dan memahami respons diri. Misalnya dengan memperhatikan situasi yang memunculkan rasa marah, sedih, atau cemas.

Mahasiswa juga perlu melatih pengelolaan diri, berbelas kasih kepada diri sendiri saat mengalami kegagalan, dan tidak terus-menerus membandingkan pencapaian dengan orang lain. Keberhasilan teman dapat menjadi bahan pembelajaran, sedangkan perkembangan diri dapat dinilai dari waktu ke waktu. 

Dr Riris mengingatkan agar mahasiswa tidak melakukan diagnosis mandiri. Jika persoalan emosional mengganggu aktivitas, mereka dapat mencari bantuan profesional atau berkonsultasi dengan pihak pendamping.

Menurut Dr Riris, dukungan sosial dapat dimulai dari perhatian sederhana kepada teman yang kesulitan. Ketika seseorang menarik diri, kehilangan minat, atau tampak sedih berkepanjangan, teman sebaiknya tidak langsung menginterogasi atau terburu-buru memberi solusi. Kesediaan untuk menemani dan mendengarkan bisa menjadi langkah awal yang berarti.

“Cukup menjadi temannya dulu saja. Temani dia, jangan biarkan sendirian,” pesannya. Jika masalah yang dihadapi cukup berat, mahasiswa dapat mendampingi temannya mencari bantuan profesional, alih-alih mencoba mendiagnosis atau menyelesaikan persoalan seorang diri.

Sementara itu, Tabitha menyoroti pentingnya bercerita untuk mengenali emosi sekaligus membangun koneksi. Menurutnya, bercerita bukan sekadar meluapkan perasaan, tetapi juga memberi kesempatan bagi seseorang untuk merasa didengar. “Kadang kita butuh someone to talk,” ungkapnya.

Meski demikian, ia menekankan bahwa keterbukaan membutuhkan rasa aman dan kepercayaan. “Mahasiswa tidak harus menceritakan semua persoalan kepada setiap orang; mereka dapat mengenali karakter lawan bicara dan menentukan batas yang membuat diri tetap nyaman,” imbuhnya.

Melalui KORA, mahasiswa diajak mengenali kondisi diri, mendengarkan tanpa menghakimi, serta mencari dukungan ketika diperlukan. Kepedulian terhadap kesehatan mental dapat dimulai dari percakapan sederhana yang dilakukan dengan empati.

Penulis: Abraham Chrisanta Putra

Editor: Yulia Rohmawati

Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top