UNAIR NEWS – Kombinasi ketelitian analisis kasus audit dan kejelian memanfaatkan kecerdasan buatan mengantarkan tim Finding Memo S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga mengukir prestasi gemilang. Mereka meraih juara 3 Nasional ajang Assurance Intelligence Challenge (AIC) CPA Days 2026.
Ajang tahunan garapan Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI) di BINUS University Alam Sutera pada (8–10/10/2026) itu diikuti 34 tim se Indonesia. Tiga mahasiswa angkatan 2024 Griffan Qisthan Rafidayn, Kiara Clarissa Farandy, dan Kinan Nurul Atika tampil solid dan luar biasa melewati setiap tahapan.
Bangkit Lewat Simulasi Audit Nyata
Perjalanan tim Finding Memo menuju juara sangat menguji mental. Pada babak penyisihan awal, peserta diuji melalui video analisis kasus kecurangan (fraud) dan ujian komprehensif Catalyst Knowledge Round. Meski sempat berada di peringkat ke-17 saat menembus 20 besar semifinal, tim ini berhasil bangkit lewat ketajaman analisis studi kasus nyata.
Pada babak semifinal bertajuk The Audit Journey, peserta melakukan simulasi penanganan kasus audit perusahaan klien dalam waktu dua jam. “Kami berperan sebagai tim auditor yang merumuskan pertanyaan kepada panitia sebagai manajemen guna menggali bukti tambahan. Sesi ini menguji analisis dan koordinasi tim,” jelas Griffan.
Tantangan kian berat saat tim UNAIR mendapat urutan pertama mempresentasikan hasil audit. Ketenangan mereka berhasil melontarkan posisi tim ke peringkat tiga besar dengan nilai 80,20.
“Mendapat giliran presentasi pertama cukup meningkatkan adrenalin dan rasa gugup. Kuncinya pada keberanian dan kesiapan mental mempresentasikan pengerjaan di hadapan juri,” tutur Griffan.
Paduan Teknologi dan Sinergi Tim
Dibalik keberhasilan menembus babak grand final, Griffan mengungkapkan kunci utama kemenangan timnya terletak pada efisiensi waktu, pembagian peran merata, pemanfaatan teknologi, serta arahan kampus.
“Dari sisi akademik dan bimbingan, kami merasa mendapatkan dukungan yang sangat baik dari pihak kampus selama proses persiapan,” ungkap Griffan.
Selain bimbingan dosen, tim mengoptimalkan kolaborasi teknologi dan analisis mandiri. Hal itu terbukti ampuh hingga babak cerdas cermat grand final, menguji kecepatan serta ketepatan materi perpajakan, akuntansi manajemen, hingga isu ESG.
“Kami memanfaatkan AI untuk menganalisis bukti dan menyaring informasi relevan. Namun, keputusan audit tetap didasari pertimbangan profesional kami. Jika ada perbedaan pendapat, kami menyelesaikannya secara objektif melalui evaluasi bukti bersama,” tambahnya.
Pencapaian ini menjadi batu loncatan berharga untuk menerapkan teori perkuliahan ke dalam kasus nyata sekaligus bekal magang. “Bagi teman-teman yang masih ragu, jangan takut mencoba meskipun belum berpengalaman. Kemenangan adalah bonus dari proses, yang terpenting adalah keberanian memulai dan kemauan terus belajar,” pungkas Griffan.
Penulis: M Yasir Dharmawan Diniy
Editor: Khefti Al Mawalia
