Glorya Angela saat menyampaikan materi pada Futurepreneur National Seminar 2026. (Foto: Istimewa)

Kenali Nilai Diri sebagai Bekal Mahal Sebelum Memulai Bisnis

130 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Setiap individu memiliki potensi dan keunggulan yang dapat dikembangkan. Sayangnya, tidak semua mahasiswa mampu mengenali kelebihan dalam dirinya sehingga hal tersebut kerap menghambat proses pengembangan diri. Persoalan ini menjadi salah satu sorotan Glorya Angela dalam Futurepreneur National Seminar 2026 yang diselenggarakan oleh Organisasi Bidikmisi Universitas Airlangga (UNAIR)

Sebagai rangkaian puncak dari Airlangga Futurepreneur Competition, seminar itu mengajak mahasiswa menemukan nilai diri sejak dini. Angela yang tampil sebagai pembicara pada Sabtu (24/10/2026) merupakan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) sekaligus pemilik ByLaw.Nails.

Angela menyampaikan bahwa nilai diri tidak bergantung pada gelar. Ia mengajak mahasiswa untuk berhenti menunggu pengakuan dari orang lain. Pencapaian dapat berubah, tetapi nilai yang kita pegang turut membentuk cara kita menghadapi perubahan.

Ia memaparkan tiga prinsip nilai diri. Prinsip itu mencakup keterampilan, karakter, dan dampak. “Attitude itu nomor satu. Kamu bisa pintar dan punya banyak uang, tetapi tanpa attitude, kamu tidak akan bertahan,” tegasnya.

Ia menceritakan pengalaman dan latar belakangnya. Keluarganya berlatar profesional, bukan wirausaha. Ia mengaku sempat ragu ketika memilih jalan bisnis. “Aku melihat diriku punya nilai adalah ketika masa sekolah. Mulai dari SD sampai SMA aku melihat diriku mampu membaca peluang saat itu. Jadi, pengalaman-pengalaman itu yang melatih kemampuan bisnisku,” paparnya.

Ia memberi rumus sederhana dalam memulai bisnis. “Pengalaman biasa bisa menyimpan nilai luar biasa. Kenali apa yang kamu bawa, latih yang masih kurang, lalu buktikan,” pesannya.

Angela juga membahas jaringan relasi bisnis dalam membangun hubungan profesional. Ia menolak anggapan bahwa jaringan selalu membutuhkan kartu nama. Ia menyebut jaringan sebagai hubungan pertemanan yang terjalin alami.

“Kunci utama networking adalah kepercayaan. Hubungan harus memberi manfaat bagi kedua pihak seperti mutualisme dan jangan sekedar saling mengikuti lalu menghilang,” tegasnya.

Ia mengajak mahasiswa untuk memulai dari kehidupan kampus. Ia membagikan empat tahap dalam membangun jaringan bisnis. Tahapan itu meliputi observe, initiate, contribute, dan follow up.

“Sebelum bertemu, pelajari dulu usaha lawan bicara. Setelahnya tawarkan peluang kerja sama. Jangan lupa rutin membangun hubungan seperti mengucapkan pada saat hari raya atau ulang tahun,” jelasnya.

Angela kemudian membagikan strategi dalam menjalankan bisnis sambil menempuh bangku perkuliahan. Ia menekankan pentingnya memprioritaskan tugas akademik dan menerapkan metode time blocking. Selain itu, ia juga mendelegasikan operasional bisnisnya kepada orang terpercaya.

“Delegating itu paling penting, serahkan tugas sulit kepada orang yang kamu percaya. Jangan lupa untuk sediakan buffer time satu sampai dua jam sehari untuk istirahat,” sarannya.

Ia menutup sesi dengan pesan terkait sistem bisnis. “Bisnis yang bertumbuh bukan hanya menghasilkan omzet, tetapi juga sistem yang membuat pemiliknya terus belajar,” pungkasnya.

Penulis: Qurrota A’yuni Latifa
Editor: Khefti Al Mawalia

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top