UNAIR NEWS – Tingginya akses internet di Indonesia belum sejalan dengan kecakapan mengelola keuangan di ruang digital. Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Tika Widiastuti SE MSi, menekankan hal itu saat membuka Studium Generale pada Jumat (23/10/2026).
Gagasan Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) FEB UNAIR menghadirkan forum diskusi literasi finansial. Forum ini mengangkat peran generasi muda sebagai fondasi cerdas dalam menghadapi finansial ekonomi digital yang berlangsung di Aula Soepoyo Kampus Dharmawangsa-B.
Literasi sebagai Tantangan Generasi Muda Menghadapi Ekonomi Digital
Prof Tika juga menampilkan potret di masyarakat. “Kita juga mengetahui di era digitalisasi saat ini, masyarakat pasti terakses dengan internet. Berarti sebenarnya semuanya bisa memanfaatkan berbagai platform digital,” jelasnya.
Ia menyampaikan bahwa permasalahan menghadapi ekonomi digital berkaitan dengan kemampuan literasi finansial. “Kita bisa lihat beberapa hasil survei, salah satunya dari OJK. Kalau dari sisi proses pembelajaran, tingkat literasi finansial kita belum sebagus negara-negara lain,” ungkapnya.
Data statistik memperlihatkan bahwa lebih dari 90 persen masyarakat Indonesia memiliki akses terhadap internet. “Sehingga apabila saat ini kita berbicara tentang hal yang berdasarkan teknologi digital, ini bukan suatu hal yang sulit dari kehidupan,” ujarnya.
Ia menyoroti akses digital di Indonesia harus mampu berkontribusi dalam peningkatan literasi masyarakat. Potensi generasi muda menjadi poin penting dalam menghadapi berbagai dinamika ekonomi digital.
“Oleh karena itu, karena sehari-hari kita mempelajari ekonomi, bisnis, dan entrepreneur, maka kita perlu lihat bagaimana dan seberapa cepat dinamika ekonomi dan digitalisasi saat ini,” jelasnya.
Tantangan Besar Akademisi dalam Finansial Digital
Prof Tika mengingatkan apabila mahasiswa tidak memiliki literasi finansial yang baik, akan timbul konsekuensi yang harus mereka terima. “Kalau kita tidak bersiap dari sekarang, banyak permasalahan muncul. Salah satu yang bisa kita lihat adalah maraknya judi online, pinjol, dan berbagai permasalahan lain,” paparnya.
Ia menyampaikan data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 40 persen masyarakat Indonesia yang terjerat pinjol dan judol memiliki latar belakang pendidikan sarjana. “Kalau dikategorikan berdasarkan profesi, yang cukup banyak itu profesi guru,” tambahnya.
Artinya, masyarakat dengan latar belakang pendidikan yang baik tidak berbalik lurus dengan literasi finansial yang mereka miliki. “Dengan kondisi seperti ini, sebagai pelaku akademik kita harus agile. Hal ini berarti kita agile terhadap banyak informasi dan hal-hal baru yang perlu kita adaptasi,” tegasnya.
Penguasaan ilmu pelaku akademik menjadi langkah strategis dalam mempertahankan eksistensi ekonomi. “Agenda Studium Generale ini, Political Case Seminar di 2026, mampu memberikan kontribusi tinggi dalam memberikan dampak dalam keberlanjutan ekonomi digital,” pesannya.
Penulis: Qurrota A’yuni Latifa
Editor: Khefti Al Mawalia
