Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Mekanisme Peningkatan Kekebalan Alergi Debu Dengan Imunoterapi

241 Views•4 minutes read

Rinitis Alergi (RA) adalah gangguan peradangan kronis pada mukosa hidung dan saluran pernapasan yang dipicu oleh reaksi hipersensitivitas. Saat ini, RA telah menjadi masalah kesehatan global yang memengaruhi sekitar 25% populasi dunia, dengan angka kejadian yang terus meningkat di berbagai negara. Penyakit ini tidak hanya memicu berbagai komorbiditas (penyakit penyerta), tetapi juga menurunkan kualitas hidup pasien secara signifikan, mengganggu produktivitas kerja, membatasi interaksi sosial, serta meningkatkan beban finansial pada sistem layanan kesehatan. Pada individu hipersensitif, paparan allergen akan memicu reaksi alergi baik akut maupun kronis. Reaksi alergi fase akut ditandai dengan gejala seperti hidung gatal, bersin, rinore (hidung meler), dan hidung tersumbat. Fase kronis reaksi alergi ditandai dengan infiltrasi persisten sel-sel pro-inflamasi (eosinofil, sel mast, dan limfosit T) serta peningkatan produksi dan pelepasan sitokin pro-inflamasi (IL-4, IL-5, dan IL-13) pada mukosa hidung. Akumulasi mediator ini menyebabkan peradangan mukosa terus berlanjut, memicu kerusakan jaringan, dan memperparah kondisi penyakit.

Faktor lingkungan memegang peranan sentral pada etiologi RA. Di antaranya, tungau debu rumah (house dust mite / HDM) merupakan alergen inhalan utama penyebab reaksi hipersensitivitas pada RA. Spesies HDM paling dominan adalah Dermatophagoides pteronyssinus yang mengandung protein dengan potensi alergenisitas tinggi yang dikenal sebagai Der p1. Efek alergenik Der p1 berkaitan erat dengan aktivitas proteolitiknya yang kuat. Aktivitas ini mampu merusak integritas dinding (sawar) epitel dengan cara memecah protein pengikat antarsel, seperti okludin dan klaudin. Akibatnya, alergen dapat dengan mudah menembus masuk dan meningkatkan jumlah antigen pada mukosa. Selain merusak sawar epitel, protease dari HDM juga menimbulkan berbagai efek imunopatogenik. Gugus enzim protease tersebut mampu memecah protein surfaktan pada epitel saluran napas, serta menargetkan reseptor imunitas yang diekspresikan pada sel dendritik, sel B, dan sel T, mengaktifkan protein damage-associated molecular patterns (DAMPs), serta aktivasi reseptor imunitas pada sel epitel.

Penatalaksanaan RA saat ini terutama berfokus pada pengendalian gejala dengan menggunakan antihistamin, antagonis reseptor leukotrien, dan kortikosteroid. Namun, obat-obatan ini tidak mengatasi penyebab dasar penyakit tersebut. Imunoterapi alergen (AIT) merupakan satu-satunya jenis terapi yang dapat mengatasi penyebab dasar alergi. AIT bekerja melalui mekanisme imunologis yang spesifik, dengan menginduksi toleransi spesifik-alergen (desensitisasi). Efikasi AIT sangat bergantung pada kualitas dan standardisasi ekstrak alergen. Ekstrak tersebut harus berasal dari sumber biologis yang relevan dan secara akurat mencerminkan sifat imunogenik penyebab alergi. Mengingat peran penting HDM dalam patogenesis RA, standardisasi ekstrak HDM merupakan strategi yang menjanjikan untuk mengoptimalkan AIT. Perlu dicatat bahwa ekstrak alergen dari wilayah atau produsen yang berbeda sering kali menunjukkan potensi alergenik yang bervariasi. Perbedaan tersebut dapat timbul akibat polimorfisme protein, variasi bahan baku, serta ketidakkonsistenan dalam komposisi ekstrak.

Untuk menjawab kebutuhan akan terapi kausatif bagi penyakit terkait alergi, termasuk rinitis alergi (RA), dilakukan kajian potensi dan mekanisme desensitisasi ekstrak alergen tungau debu rumah (HDM) sebagai imunoterapi pada model hewan coba yang mengalami RA. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas dan kemungkinan mekanisme desensitisasi dari imunoterapi (AIT) berbasis ekstrak alergen tungau debu rumah (HDM) pada model mencit dengan rinitis alergi (AR). Efektivitas HDM-AIT dievaluasi berdasarkan perilaku menggosok hidung dan bersin, ekspresi mRNA IL-4, infiltrasi eosinofil ke dalam jaringan mukosa hidung, kadar IgE serum, kadar IgG2a serum, serta rasio IgE/IgG2a serum.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian HDM-AIT mengurangi perilaku menggosok hidung dan bersin, menurunkan ekspresi mRNA IL-4 dan infiltrasi eosinofil ke dalam jaringan mukosa hidung, menurunkan kadar IgE serum, meningkatkan kadar IgG2a serum, serta menurunkan rasio IgE/IgG2a serum pada mencit AR. Secara keseluruhan, pemberian HDM-IT efektif dalam menginduksi respons toleransi/ desensitisasi terhadap alergen HDM dengan dibuktikan berkurangnya gejala gatal pada hidung (lebih sedikit episode menggosok hidung dan bersin), penekanan ekspresi mRNA IL-4, berkurangnya infiltrasi eosinofil pada mukosa hidung, kadar IgE serum yang lebih rendah, peningkatan kadar IgG2a serum, serta penurunan rasio IgE/IgG2a serum. Temuan ini menekankan potensi HDM-AIT dalam menyeimbangkan peradangan yang dipicu oleh Th2 dan mendorong respons imunitas yang bersifat protektif terhadap stimulasi alergi.

Penulis: Junaidi Khotib

Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/pdf/10.1155/adpp/7002987

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top