UNAIR NEWS – Di tengah gempuran fast fashion dan maraknya budaya buang-pakai (throwaway culture), masa depan batik sebagai simbol identitas bangsa kembali diuji. Menjawab tantangan tersebut, hari pertama Asean Indonesia Youth Cultural Exchange and Study Program (AICECS) 2026 di Gedung C FISIP, Kampus B-Dharmawangsa UNAIR hadir membedah benang merah antara ancaman limbah tekstil modern dan urgensi pelestarian wastra lokal.
Menakar Sustainable Fashion
Dalam paparannya, Dr Dewi Meyrasyawati menyoroti peran penting busana yang tidak sekadar penutup tubuh, melainkan media komunikasi identitas dan penentu kepercayaan diri. Namun, maraknya industri fast fashion saat ini berpotensi mengikis pemaknaan terhadap nilai wastra nusantara.
Ia menegaskan bahwa masyarakat harus memahami perbedaan mendasar antara batik tulis, batik cap, dan tekstil bermotif batik. Batik sejati dibuat menggunakan teknik rintang lilin, sedangkan tekstil bermotif batik hanyalah produk cetakan mesin pabrik.
“Kain cetak bermotif batik memang membuat motif batik lebih terjangkau oleh masyarakat luas. Namun, hal yang paling krusial adalah tidak mengklaim kain cetak pabrik tersebut sebagai batik buatan tangan,” tegas Wakil Dekan III Fakultas Ilmu dan Budaya (FIB) tersebut.
Lebih lanjut, ia menjelaskan tentang pesatnya industri fast fashion yang mendorong lahirnya throwaway culture atau budaya buang-pakai. Hal itu berdampak buruk bagi lingkungan akibat tingginya konsumsi air, pencemaran limbah pewarna, dan penumpukan sampah tekstil.
Dr Dewi mengajak peserta untuk mulai menerapkan prinsip sustainable fashion dengan mengontrol konsumsi pakaian harian. “Sebagai generasi muda, mari kita pertanyakan kembali alasan kita membeli pakaian: apakah karena kebutuhan nyata,bentuk ekspresi diri, atau sekadar terbawa arus tren,” ujarnya.

Transformasi Batik Okra
Dilanjutkan oleh Pendiri Kampung Batik Okra Kranggan Surabaya, Ridi Sulaksono. Ia menceritakan awal mula berdirinya Kampung Batik Okra pada 22 Desember 2020 di tengah tekanan ekonomi akibat pandemi COVID-19.
“Sebagai Ketua RW saat itu, tergerak hati saya untuk mencari solusi agar perekonomian warga tidak terpuruk,” kenang Pak Ridi.
Melihat tantangan harga batik tulis yang tinggi, Pak Ridi mengubah strategi dari bisnis jual beli menjadi pusat edukasi membatik. Langkah itu berhasil membawa Batik Okra dikenal luas hingga mancanegara seperti Eropa, Amerika, dan kawasan ASEAN.
Pak Ridi mengakui keberhasilan digitalisasi dan kemajuan Batik Okra tidak terlepas dari peran aktif mahasiswa. “Saya awalnya tidak memahami teknologi maupun media sosial. Peran mahasiswa, khususnya dari Surabaya seperti UNAIR dan ITS, mencapai 85 persen dalam membesarkan nama Batik Okra,” ungkap purnawirawan TNI AU tersebut.
Selain mengedukasi, Pak Ridi turut merancang motif khas seperti Batik UNAIR dan Batik 10 Nopember, sembari menegaskan bahwa hakikat batik sejati wajib menggunakan teknik rintang lilin panas serta canting atau cap. Di akhir paparannya, ia berpesan agar generasi muda terus menjaga warisan budaya lokal. “Pesan dan harapan saya, jaga, pertahankan, dan lestarikan kebudayaan bangsa kita agar tidak hilang ditelan zaman,” tutupnya.
Penulis: M Yasir Dharmawan Diniy
Editor: Khefti Al Mawalia
