UNAIR NEWS – Dua mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil menyabet Juara 3 dalam Airlangga Futurepreneur Competition (AFC). M Irfan Rafi Gunawan dan Mashayu Aulia Zahrina menggagas WADAR sebagai solusi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam cabang lomba business plan pada Sabtu (24/10/2026).
WADAR merupakan platform berbasis situs web yang menyatukan kecerdasan buatan (AI), sistem Point of Sale (POS), dan Customer Relationship Management (CRM) dalam satu ekosistem. Pelaku UMKM dapat memanfaatkan platform ini untuk mencatat transaksi, menyusun laporan keuangan otomatis, memantau persediaan, hingga memberikan rekomendasi bisnis berbasis data.
Mengubah Data Menjadi Keputusan
Irfan dan Mashayu menilai persoalan UMKM tidak terletak pada kurangnya data, tetapi pada kemampuan membacanya. WADAR hadir untuk menjawab persoalan itu melalui empat fungsi AI, yakni fitur stok, keuangan, Customer Chat, hingga Business Consultation.
“Pada pengelolaan stok dirancang untuk menganalisis kecepatan, memperkirakan, dan memberi rekomendasi jumlah. Wadar dirancang membantu pemilik usaha memahami keuntungan per produk,” papar Mashayu.
Fitur Customer chat mampu menjawab pertanyaan pelanggan berdasarkan katalog, informasi stok, dan kebijakan toko. Layanan Business Consultation di dalam WADAR mempersilakan pemilik usaha bertanya terkait kondisi bisnisnya.
“Kami tidak ingin AI menggantikan pemilik usaha. Kami ingin AI bisa memberi informasi yang lebih jelas agar pemilik mampu mengambil keputusan bisnis dengan lebih terarah,” tegasnya.
Kemudahan Akses dan Ramah bagi Pengguna Baru
Tim memilih Progressive Web App (PWA) sebagai media aplikasi WADAR. Dengan berbasis situs web, WADAR mampu memberi kemudahan akses pengguna tanpa harus mengunduh aplikasi baru dari toko aplikasi.
“PWA merupakan aplikasi berbasis web yang dapat diakses melalui browser, dan pada perangkat yang mendukung dapat dipasang seperti aplikasi. Penggunaannya lebih praktis sekaligus mengurangi kebutuhan pengembangan aplikasi native secara terpisah,” jelasnya.
WADAR juga mengintegrasikan WhatsApp Business Platform. “Dengan demikian platform ini tidak hanya berfokus pada pencatatan transaksi melalui web, tetapi mendukung pelayanan pelanggan melalui kanal yang relevan dengan aktivitas bisnis,” ujarnya.
Untuk menghadapi literasi digital rendah, tim menyiapkan onboarding, materi edukatif, webinar, dan komunitas UMKM. Pengguna bisa memulai dari kebutuhan paling mendesak, lalu mempelajari fitur lain secara bertahap.
“Kami menawarkan tiga paket, Starter seharga Rp79.000 per bulan, Growth Rp199.000 per bulan, dan Pro Rp399.000 per bulan belum termasuk PPN. Perbedaan paket dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan dan skala operasional UMKM,” urainya.
Uji Kebutuhan Pasar Sebelum Melangkah Jauh
Tim menyusun roadmap bertahap, mulai dari Minimum Viable product (MVP), yakni versi awal dengan fitur inti. Fitur ini untuk menguji apakah solusi yang mereka tawarkan menjadi kebutuhan target pengguna. Mereka juga menjalankan survei terhadap 100 UMKM dan 20 wawancara mendalam.
“Kami menguji rancangan antarmuka dan menargetkan pilot pada 30 UMKM selama delapan minggu. Pilot ini untuk mengukur kegunaan produk, akurasi chatbot, dan kesediaan pengguna berlangganan,” tuturnya.
Tim juga memprioritaskan akurasi AI dan keamanan data sejak awal. Sistem menjawab berdasarkan data relevan, meneruskan pertanyaan yang meragukan kepada pemilik, dan menjaga kerahasiaan. Hal ini sebagai prioritas karena kepercayaan pengguna akan menentukan keberhasilan.
“Kami juga melihat inkubator bisnis, program pendanaan mahasiswa, hibah, dan kompetisi sebagai peluang untuk memperoleh pendampingan, memperluas jaringan, serta mendukung proses pengembangan produk,” tutupnya.
Penulis: Qurrota A’yuni Latifa
Editor: Khefti Al Mawalia
