Raya Rambu Syawala Aisyahra (kiri) dan Karen Maqdalene Pramono (kanan) saat memenangkan penghargaan Silver Medal dalam ajang Mandalika Essay Competition (MEC) 9 di Lombok pada Sabtu (24/10/2026) (foto: Narasumber)

Mahasiswa Akuakultur UNAIR Olah Limbah Lele Jadi Nutrisi Tanaman

57 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Limbah hasil budidaya perikanan, khususnya ikan lele berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak terkelola dengan baik. Petani ikan kerap membuang limbah bekas budidaya begitu saja tanpa menyadari potensi di baliknya. 

Berdasarkan persoalan tersebut, tim mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK), Universitas Airlangga (UNAIR) yang beranggotakan Raya Rambu Syawala Aisyahra dan Karen Maqdalene Pramono mengusung gagasan pengelolaan air limbah budidaya lele melalui fermentasi Lactobacillus berbasis gula merah sebagai nutrisi tanaman sawi. Esai bertajuk “Optimalisasi Air Limbah Budidaya Ikan Lele (Clarias batrachus) melalui Fermentasi Lactobacillus Berbasis Gula Merah sebagai Nutrisi Tanaman Sawi (Brassica juncea)” dengan sub tema lingkungan berhasil mengantongi Silver Medal dalam ajang Mandalika Essay Competition (MEC) 9 di Lombok pada Sabtu (24/10/2026). 

“Sebagai mahasiswa akuakultur, kami ingin menunjukkan bahwa kegiatan budidaya perikanan tidak hanya berfokus pada hasil produksi ikan, tetapi juga perlu memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan,” ungkap Raya. 

Gagas Inovasi Fermentasi Limbah Lele untuk Pertanian

Raya menyebut kebaruan inovasi terletak pada proses menghubungkan pengelolaan air limbah budidaya ikan lele dengan pemenuhan nutrisi pada sawi. Proses tersebut melalui fermentasi menggunakan Lactobacillus dan gula merah sebagai sumber energi bagi mikroorganisme. Selama ini, pengelolaan air limbah masih berfokus pada upaya mengurangi dampak pencemaran. Namun, upaya ini belum sampai ke tahap menelisik potensi manfaat yang terkandung dalam limbah. “Lewat esai ini, kami melihat limbah bukan sekadar sebagai sesuatu yang harus ditangani, tetapi juga sebagai sumber daya yang bisa memberi manfaat bagi pertanian,” ujarnya. 

Kendati demikian, Raya, Karen, dan rekannya, menyadari bahwa gagasannya masih perlu melewati pengujian lebih lanjut. Hal itu guna mengetahui efektivitas, terutama mengenai kandungan nutrisi, keamanan penggunaan, dan respons pertumbuhan tanaman sawi. Oleh karena itu, Raya dan Karen melihat inovasi ini sebagai alternatif yang berpotensi untuk mendapat pengembangan lebih lanjut. 

Dari Kompetisi ke Dampak Nyata 

Penerapan gagasan ini dapat mulai dari skala kecil, seperti unit budidaya ikan lele yang memiliki keterbatasan lahan untuk pertanian. Tahapannya meliputi pengumpulan air limbah lele, kemudian fermentasi dengan Lactobacillus berbasis gula merah, serta evaluasi hasil sebelum proses pengujian pada tanaman sawi. Sehingga, sinergi dari berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan inovasi. “Perlu adanya kolaborasi antara mahasiswa, dosen, pembudidaya lele, petani sayuran, dan pemerintah. Itu agar gagasan dari esai dapat berkembang menjadi solusi nyata yang bermanfaat,” ucap Raya. 

Selepas kompetisi, Raya dan Karen berharap gagasan tersebut tidak sekadar berhenti sebagai karya tulis. Lebih jauh, gagasan ini dapat menjadi kajian dan diskusi bersama dengan dosen, mahasiswa, serta berbagai pihak yang tertarik pada bidang akuakultur berkelanjutan. “Bagi kami, keberhasilan sebuah esai tidak hanya tentang penghargaan yang diperoleh. Keberhasilan sebuah esai adalah tentang sejauh mana gagasan di dalamnya bisa terus dikembangkan dan memberikan manfaat,” pungkasnya. 

Penulis: Amelia Farah Putri Iswara

Editor: Ragil Kukuh Imanto 

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top