Tanaman gambir merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat potensial yang diperoleh dari daun dan ranting dengan manfaat yang beragam untuk kesehatan karena mengandung berbagai metabolit sekunder antara lain alkaloid, flavonoid (gambirin), catechins (hingga 51%), zat penyamak (22-40%), pewarna alami serta senyawa lainnya yang belum digali secara optimal. Secara traditional, oleh masyarakat tumbuhan ini sering digunakan sebagai bahan campuran sirih, luka bakar, sakit kepala, diare, disentri, obat kumur, maag, penyakit kulit serta pewarna tekstil.
Secara konvensional pengolahan gambir dilakukan dengan berbagai cara, namun secara umum ekstraksi senyawa bioaktif terutama katecin dilakukan dengan pelarut air. Sumber air yang digunakan untuk mengekstraksi senyawa yang terdapat di dalam daun gambir sangat mempengaruhi perolehan katecin. Studi terhadap 19 spesies gambir sebagai antioksidan menunjukkan bahwa ekstraksi menggunakan etanol dan etyl asetat dari daun menunjukkan aktivitas antioksidan lebih tinggi (IC50, 13,8-16,2 µg/mL) dibanding pelarut air (IC50 27,4 µg/mL) [8, 9]. Ke-empat kultivar yang ada di Sumatera Barat memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi [10]. Hal ini disebabkan oleh adanya senyawa flavonoid katecin yang ada di tumbuhan tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan dari 12 sampel yang diuji sampel olahan-2 gambir yang diekstrak menggunakan etil asetat memiliki aktivitas antioksidan tertinggi, sedangkan kadar fenol tertinggi terdapat pada sampel gambir olahan-2 yang diekstrak menggunakan etyl asetat, sedangkan kadar flavonoid tertinggi diperoleh pada ekstrak n-heksan sampel campuran daun dan ranting kering. Kadar katecin tertinggi juga diperoleh pada sampel ekstrak etil asetat olahan-2. Profil metabolomik dari lima sampel gambir menunjukkan jenis metabolit terbanyak adalah lipid (425 jenis), diikuti oleh terpenoid (201 jenis), benzena dan derivatnya (129 jenis), flavonoid (118 jenis), dan alkaloid (96 jenis). Luaran penelitian dalam bentuk artikel ilmiah telah disubmit pada jurnal ilmiah bereputasi Q1 yaitu Bio Integration.
Uncaria gambir Roxb. Cubadak menunjukkan potensi antioksidan yang kuat, dengan profil metabolit LC-MS mengungkapkan berbagai metabolit sekunder, termasuk flavonoid dan alkaloid. Kombinasi olahan-2 (G2) dan ekstraksi etil asetat menghasilkan aktivitas antioksidan DPPH tertinggi, bersama dengan peningkatan kadar TPC, TFC, dan katekin. Aktivitas antioksidan yang kuat, berkorelasi dengan kandungan metabolit yang tinggi, selanjutnya didukung oleh analisis korelasi Pearson.
Dari hasil penelitian indentifikasi senyawa bioaktif pada berbagai sampel Uncaria gambir Roxb. cv Cubadak diketahui bahwa ekstrak gambir memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai uji aktivitas ekstrak gambir sebagai obat herbal, antara lain uji aktivitas antioksidan secara in vivo, uji aktivitas sebagai anti inflamasi, dan uji antikanker.
Penulis: Yosephine Sri Wulan Manuhara
Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/exploring-the-medicinal-potency-of-uncaria-gambir-w-hunter-roxb-c/
