UNAIR NEWS – Mahasiswi Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), Athaya Maheswari Jumhur, berhasil menembus jajaran finalis Miss Indonesia 2026 dengan membawa sash Kepulauan Riau. Pencapaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengembangan dirinya, mulai dari pengalaman merepresentasikan fakultas hingga mengasah kemampuan berpikir kritis dan membawa advokasi pendidikan ke panggung nasional.
Bekal Akademik Antar Athaya ke Miss Indonesia
Keikutsertaan Athaya dalam Miss Indonesia 2026 berawal dari dorongan keluarga, teman, hingga masyarakat di media sosial. Setelah mengikuti program summer school di Utrecht, ia mulai menerima perhatian dari sejumlah portal pageant Indonesia yang melihat potensinya untuk mengikuti ajang kecantikan tersebut.
Pada Mei 2026, Athaya memutuskan mengikuti audisi dengan membawa sash Kepulauan Riau, daerah kelahirannya sekaligus daerah asal ibunya. Sebelum kompetisi, ia mempersiapkan diri melalui kelas public speaking, latihan catwalk, olahraga rutin, dan pengembangan personal branding.
Sebagai mahasiswa Ilmu Sejarah, Athaya menilai pengalaman akademik turut membantunya menghadapi tantangan kompetisi. Kebiasaan menganalisis peristiwa, memahami hubungan sebab-akibat, serta mempertimbangkan beragam perspektif menjadi bekal dalam menyusun argumentasi secara terstruktur.
“Selama perkuliahan, saya terbiasa menganalisis suatu peristiwa. Selain itu, memahami latar belakang permasalahan, melihat hubungan sebab-akibat, serta mempertimbangkan berbagai perspektif sebelum menarik kesimpulan,” ungkapnya.
Pengalaman sebelumnya sebagai Duta Fakultas Ilmu Budaya UNAIR pada 2023 juga menjadi pijakan penting. Dari pengalaman tersebut, Athaya mulai belajar public speaking, representasi institusi, hingga membangun citra diri yang kemudian membantunya menghadapi kompetisi di tingkat nasional.
Jaga Akademik, Perluas Advokasi Pendidikan
Di balik pencapaiannya sebagai finalis Miss Indonesia 2026, Athaya tetap berupaya menjaga tanggung jawab sebagai mahasiswa. Salah satu tantangan terbesarnya terjadi ketika jadwal Ujian Tengah Semester (UTS) bertepatan dengan masa karantina kompetisi. Ia akhirnya dapat mengikuti UTS susulan setelah memperoleh keringanan dari Program Studi Ilmu Sejarah UNAIR.
“Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa manajemen waktu bukan sekadar membuat jadwal, tetapi juga mengetahui kapan harus menentukan prioritas dan berani mengambil keputusan berdasarkan tanggung jawab yang kita miliki,” jelasnya.
Selain menjalani kompetisi, Athaya membawa advokasi pendidikan melalui AYOUTH. Organisasi sosial tersebut dirintis sejak 2024 dan berfokus pada literasi serta penyaluran bantuan buku kepada anak-anak yang membutuhkan. Ia berharap AYOUTH dapat berkembang melalui program antologi cerita anak, yang memberi kesempatan bagi anak-anak dampingan untuk menuangkan imajinasi menjadi karya tulis.
Bagi Athaya, pengalaman menjadi finalis Miss Indonesia bukanlah akhir perjalanan, melainkan kesempatan untuk memperluas kontribusi. Ia menargetkan menyelesaikan pendidikan sarjana tepat waktu pada 2027, melanjutkan studi magister, dan memperluas jangkauan advokasi pendidikan melalui AYOUTH.
“Keduanya dapat berjalan beriringan selama kita mampu menentukan prioritas dan bertanggung jawab atas pilihan kita,” pesannya kepada mahasiswa yang ingin mengikuti ajang serupa.
Penulis: Katara Joy Kurniawan
Editor: Ragil Kukuh Imanto
