UNAIR NEWS – Dampak banjir terhadap masyarakat tidak hanya terlihat dari jumlah korban jiwa dan kerusakan bangunan. Bencana ini juga dapat memutus akses air bersih, menghambat pelayanan kesehatan, hingga menimbulkan risiko penyakit dan trauma psikologis yang berlanjut setelah air surut.
Dosen Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) Dr. Putri Ayuni Alayyannur SKM MKKK menekankan pentingnya memahami dampak tersebut dalam webinar nasional bertema Pahami Risikonya dan Siap untuk Menghadapi Bencana oleh Club MAWACANA (Mahasiswa Tanggap Bencana) Kementrian Pengabdian Masyarakat BEM FKM UNAIR pada Sabtu (31/10/2026) melalui aplikasi Zoom. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa pengurangan risiko banjir perlu memperhatikan kondisi lingkungan, keselamatan, dan kebutuhan kesehatan masyarakat.
Dampak Banjir Melampaui Korban Jiwa
Dr Putri menjelaskan, dampak banjir dapat berlangsung sejak bencana terjadi hingga berminggu-minggu setelahnya. Selain risiko tenggelam, cedera, dan sengatan listrik, banjir dapat mencemari sumber air minum serta meningkatkan risiko penyakit akibat lingkungan yang tidak sehat.
“Sebenarnya korban jiwa itu menunjukkan skala, tapi dia bukan menunjukkan seluruh dampak. Karena ada yang namanya dampak itu adalah dampak langsung dan tidak langsung,” jelasnya.
Dampak tidak langsung tersebut juga berkaitan dengan terganggunya fasilitas pelayanan kesehatan, distribusi kebutuhan pokok, dan aktivitas ekonomi warga. Dr Putri menyoroti kondisi pengungsian yang membutuhkan perencanaan memadai, mulai dari ketersediaan makanan, pakaian, hingga sanitasi dan akses air bersih.
“Yang pertama, misalkan ekonominya, tidak melakukan kegiatan ekonomi secara normal, maka teman-teman harus bisa mengidentifikasi di pengungsian itu harus ada apa. Minimal ada makan, minum, kemudian pakaian,” paparnya.
Ia turut mengingatkan pentingnya menjaga keamanan konsumsi air selama banjir. Air banjir yang tercemar dapat membahayakan kesehatan, terlebih ketika warga kesulitan memperoleh sumber air bersih.
Kesiapsiagaan Perlu Memperhatikan Kelompok Rentan
Dalam penanganan banjir, Dr Putri menekankan bahwa kebutuhan masyarakat tidak bisa disamaratakan. Anak balita, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, serta pasien dengan penyakit kronis membutuhkan perhatian khusus, termasuk dalam perencanaan evakuasi dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
“Dampak yang paling besar itu dirasakan bagi kelompok-kelompok rentan kita. Anak balita, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas,” ujarnya.
Ia mendorong masyarakat untuk mengenali kebutuhan kelompok rentan sejak sebelum bencana terjadi. “Jadi kita harus bisa mengidentifikasi kebutuhan lansia tadi apa, balitanya apa, butuh nggak sih susu, butuh nggak sih diapers, dan segala macamnya gitu ya,” jelasnya. Ia juga mengingatkan pentingnya menyiapkan kebutuhan pengobatan bagi lansia dan orang dengan penyakit kronis, minimal untuk tujuh hari.
Upaya memulai kesiapsiagaan juga perlu dari lingkup keluarga melalui pengenalan jalur evakuasi, penyiapan tas siaga bencana, serta pembagian tugas penyelamatan.
Lebih lanjut, Dr Putri mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu kondisi memburuk sebelum bertindak. “Kalau memang bisa ketika sudah ada tindakan pemantauan atau tindakan peringatan banjir dari lembaga-lembaga yang berwenang, tolong Anda bisa melakukan evakuasi yang lebih awal,” pungkasnya.
Selain kesiapan keluarga, mitigasi perlu dilakukan melalui pemeliharaan drainase dan sungai, pengurangan sampah, serta perlindungan daerah resapan air. Upaya tersebut menjadi bagian dari pengurangan risiko agar dampak banjir terhadap keselamatan dan kesehatan masyarakat dapat ditekan.
Penulis: Katara Joy Kurniawan
Editor: Ragil Kukuh Imanto
