UNAIR NEWS – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) Kelompok 19 menggelar Focus Group Discussion (FGD) dan rangkaian pelatihan di Kampung Udapi Hilir, Manokwari, pada Agustus–September 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui edukasi gizi dan pemanfaatan potensi pangan lokal.
Koordinator lapangan TEP Kelompok 19, Wadiah Hasna menjelaskan bahwa kegiatan ini menyasar perubahan nyata agar masyarakat mampu mengetahui pentingnya gizi dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Setiap pihak terlibat untuk memahami potensi yang sudah ada, kendala yang dihadapi, serta peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan.
“Harapannya, hasil diskusi ini dapat menjadi dasar untuk merancang edukasi gizi dan pengembangan pangan lokal yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat Prafi,” ungkapnya.
Gali Potensi Pangan Lokal
Dari hasil pemetaan dalam FGD, Hasna dan tim mendapatkan data sejumlah komoditas lokal yang menyimpan potensi gizi tinggi namun belum maksimal. Mulai dari singkong, keladi, dan jagung sebagai sumber karbohidrat, serta ikan ekor kuning, lele, dan ikan gabus sebagai sumber protein hewani.
“Kami melihat komoditas tersebut bukan hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga sebagai peluang untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan,” tegasnya.
Menurutnya, komoditas seperti singkong, keladi, dan jagung menyimpan potensi besar jika masyarakat mengolahnya menjadi produk yang lebih beragam. Seperti keripik singkong, stik keladi, atau olahan jagung. Begitu pula dengan ikan ekor kuning, lele, dan gabus yang dapat mereka kembangkan menjadi abon, bakso ikan, atau stik ikan.
“Dengan menghubungkan petani, pelaku usaha perikanan, pemilik toko, dan pelaku UMKM, kami ingin melihat peluang agar potensi pangan lokal tidak berhenti pada produksi dan penjualan bahan mentah. Tetapi dapat berkembang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” jelasnya.

Hasna bercerita, salah satu momen menarik dari FGD adalah munculnya diskusi mengenai kemungkinan pengolahan bahan pangan lokal menjadi produk yang lebih beragam. Misalnya, ikan yang selama ini lazim dikonsumsi sebagai lauk ternyata menyimpan potensi untuk mereka kembangkan menjadi bahan tambahan dalam bolu dan produk olahan lainnya.
“Gagasan ini menarik karena memunculkan berbagai pertanyaan. Mulai dari bagaimana mengolah ikan agar tidak menimbulkan aroma amis, bagaimana mempertahankan tekstur dan cita rasa bolu, hingga apakah produk tersebut nantinya dapat diterima oleh konsumen,” imbuhnya.
Pendampingan UMKM
Dalam pelatihan, Hamsinah SKM selaku narasumber menjelaskan bahwa pengawasan dapat dilakukan melalui puskesmas dengan inspeksi langsung ke lapangan. Ia juga memaparkan alur pengajuan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) melalui PTSP, pengurusan PIRT, serta pentingnya penerapan higiene sanitasi dasar seperti penggunaan APD dan kebersihan area produksi.
“Praktik sederhana yang dapat diterapkan UMKM antara lain menggunakan apron, sarung tangan yang sesuai untuk penanganan pangan, penutup kepala, dan masker sesuai kebutuhan, dan membiasakan cuci tangan serta menjaga kebersihan peralatan maupun area produksi,” paparnya.
Sementara itu, M Fauzi SAg MHI menekankan pentingnya kehalalan bahan baku, kepatuhan SOP, serta pencegahan kontaminasi najis. Ia mengingatkan UMKM agar konsisten menjaga kehalalan walau terjadi perubahan bahan atau pemasok.
“Fokus kami mendorong UMKM menerapkan pengetahuan ini secara bertahap pada produk mereka,” pungkasnya.
Penulis: Putri Andini
Editor: Yulia Rohmawati
