Suasana diskusi bersama jajaran pakar Monash University dalam sesi panel ketiga bertajuk Workshop Strategic Framing of UNAIR–Monash Research Collaboration pada Senin (2/11/2026) di Ruang Bima Suci, Gedung Airlangga Convention Center (ACC), Kampus MERR-C UNAIR. (foto: Humas UNAIR)

Kesehatan Digital dan Ketahanan Iklim Jadi Sorotan Kolaborasi UNAIR dan Monash University

34 Views•2 minutes read

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) melalui Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) bersama Monash University menggelar lokakarya Thematic International Research Collaboration Forum Internal DRI yang berlangsung pada Senin (2/11/2026) di Ruang Bima Suci, Gedung Airlangga Convention Center (ACC), Kampus MERR-C UNAIR. Dalam sesi panel ketiga bertajuk Workshop Strategic Framing of UNAIR–Monash Research Collaboration tersebut menghadirkan jajaran pakar dari Monash University, Australia. 

Bahas Kesehatan Digital dan Penerapan Kecerdasan Buatan 

Professor of Practice in Digital Health, Monash University, Prof Chris Bain menyebut kesehatan digital di setiap negara memiliki cakupan yang luas. Menurutnya, pemahaman akan kesehatan digital secara menyeluruh diperlukan dalam peningkatan efisiensi layanan medis, terlebih dengan menyertakan kecerdasan buatan di dalamnya. “Nilai utama AI dalam kesehatan digital mutakhir terletak pada kecerdasan tertambah. Fungsinya untuk mmeningkatkan efisiensi dan kemampuan dokter, perawat, apoteker, pasien, maupun pengasuh,” ungkapnya. 

Professor of Practice in Digital Health, Monash University, Prof Chris Bain saat menyampaikan materi dalam sesi panel ketiga bertajuk Workshop Strategic Framing of UNAIR–Monash Research Collaboration pada Senin (2/11/2026) di Ruang Bima Suci, Gedung Airlangga Convention Center (ACC), Kampus MERR-C UNAIR. (foto: Humas UNAIR)
Professor of Practice in Digital Health, Monash University, Prof Chris Bain saat menyampaikan materi dalam sesi panel ketiga bertajuk Workshop Strategic Framing of UNAIR–Monash Research Collaboration pada Senin (2/11/2026) di Ruang Bima Suci, Gedung Airlangga Convention Center (ACC), Kampus MERR-C UNAIR. (foto: Humas UNAIR)

Selain itu, diskusi juga berlanjut pada aspek keamanan siber perangkat Medical Internet of Things (IoT), privasi data medis, federated learning hingga pengembangan kecerdasan buatan berbasis citra untuk analisis medis dan dermatologi. Kemudian berlanjut oleh jajaran pihak Monash University lainnya, yakni Prof Juliana Sutanto dan Muhamad Erza Aminanto. 

Aksi Mitigasi Perubahan Iklim hingga Kesehatan Lingkungan

Klaster selanjutnya mengkaji isu krisis iklim oleh Professor Human Geography, Anthropology and Development Studies Monash University, Prof Narelle Warren. Ia menyebut isu krisis iklim sebagai jembatan kepentingan lintas negara antara Indonesia dan Australia. Dampak perubahan iklim seperti kebakaran hutan hingga banjir yang tidak mengenal batas wilayah administratif menjadi sorotan. 

“Meski menghadapi persoalan serupa seperti kebakaran hutan, dampak di Indonesia dirasakan jauh lebih luas karena keterbatasan kemampuan masyarakat untuk menghindar, sehingga menuntut penciptaan solusi inovatif,” jelasnya. 

Oleh karena itu, ia memetakan kerangka riset dalam tiga tahapan aksi. Kerangka tersebut mencakup identifikasi risiko awal dan antisipasi dampak buruk lingkungan. Dampak tersebut terhadap kesehatan, penyediaan sistem respon tanggap bencana, serta penyusunan peta jalan jangka panjang guna mencegah hal serupa terulang. 

“Melalui kerangka melindungi, merespons, dan mencegah yang berkaitan dengan perubahan iklim dan kesehatan, kita ingin menetapkan fokus di bawah satu payung besar untuk menghasilkan sesuatu yang konkret,” pungkasnya. 

Penulis: Amelia Farah Putri Iswara

Editor: Ragil Kukuh Imanto 

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top