Prof Dr I Made Narsa SE MSi Ak CA menyampaikan sambutan dalam kuliah umum di Aula Serbaguna Gedung Nanizar Zaman Joenoes, Fakultas Farmasi UNAIR, Kampus MERR-C, Kamis (5/11/2026)

Prof Made Ajak Mahasiswa Bawa Jamu Tradisional Menuju Pengembangan Produk Fitofarmaka

20 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Kekayaan tanaman obat Nusantara menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk kesehatan. Dalam sambutannya pada kuliah umum di Aula Serbaguna Gedung Nanizar Zaman Joenoes, Fakultas Farmasi (FF) Universitas Airlangga (UNAIR) Kampus MERR-C, pada Kamis (5/11/2026), Sekretaris Direktorat Pendidikan UNAIR Prof Dr I Made Narsa SE MSi Ak CA, mengajak mahasiswa membawa pengetahuan tradisional tentang jamu menuju pengembangan produk fitofarmaka melalui riset ilmiah.

Ia menekankan bahwa jamu bukan sekadar ramuan tradisional. Jamu adalah pengetahuan, pengalaman bertahun-tahun, dan kearifan yang diwariskan turun-temurun yang perlu dikembangkan melalui penelitian agar manfaatnya dapat terus dirasakan masyarakat.

Prof Made menjelaskan bahwa pengetahuan tentang jamu mengajarkan masyarakat memahami alam, menjaga kesehatan, dan mempertahankan keharmonisan dengan lingkungan. Oleh karena itu, warisan tersebut perlu diteruskan melalui pendekatan akademik dengan memadukan pengetahuan tradisional dan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi.

Ia menegaskan bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam proses tersebut. “Tugas mahasiswa adalah membawa warisan ini agar terus berkembang melalui riset dan pengujian ilmiah yang valid,” ujarnya.

Pengujian ilmiah perlu untuk mengkaji potensi tanaman obat secara terukur. Dengan begitu, pengembangan produk kesehatan tidak hanya bertumpu pada pengalaman penggunaan, tetapi juga memiliki dasar penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Lebih lanjut, Prof Made menyoroti pentingnya kemampuan bangsa mengolah kekayaan alam menjadi produk kesehatan sendiri. Transformasi pengetahuan tentang tanaman obat menjadi jamu dan produk fitofarmaka dapat menjadi langkah untuk memperkuat kedaulatan kesehatan.

Menurutnya, kemandirian tidak cukup terwujud dengan memanfaatkan sumber daya alam. Indonesia juga perlu memiliki kemampuan mengembangkan dan memproduksi produk kesehatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Hal tersebut membutuhkan dukungan riset, penguasaan teknologi, dan kapasitas produksi.

“Kalau transformasi warisan kearifan yang kita miliki dapat diwujudkan, kedaulatan juga bisa kita miliki. Dari situlah muncul kemandirian,” tuturnya.

Dengan kemampuan tersebut, kekayaan tanaman obat Nusantara berpeluang memberikan manfaat. Bahan alam yang selama ini menjadi bagian dari tradisi dapat dikembangkan menjadi produk kesehatan yang mendukung kebutuhan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Prof Made mengingatkan mahasiswa agar aktif menggali pengetahuan selama mengikuti kuliah umum. Ia mendorong peserta untuk tidak sekadar menyimak materi, tetapi juga mengajukan pertanyaan kritis dan menyerap pengalaman dari para narasumber.

Menurutnya, sikap aktif diperlukan agar mahasiswa memperoleh wawasan dan inspirasi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. “Ajukan pertanyaan-pertanyaan kritis dan seraplah ilmunya. Raihlah masa depan dengan menggali serta menangkap inspirasi yang disampaikan para narasumber,” ucapnya.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menghubungkan kekayaan alam Nusantara, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tanggung jawab membangun kemandirian kesehatan nasional. Potensi jamu harapannya dapat terus berkembang melalui riset tanpa meninggalkan kearifan yang diwariskan generasi terdahulu.

Penulis: Abraham Chrisanta Putra

Editor: Yulia Rohmawati

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top