Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Modal asing, tenaga terampil, dan efisiensi: kunci ekspor industri makanan dan minuman Indonesia

25 Views•3 minutes read

Permintaan pangan dunia terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan konflik global yang kerap mengganggu distribusi pangan. Di tengah kondisi ini, Indonesia memegang peran penting sebagai salah satu pemasok makanan dan minuman (mamin) terbesar di dunia. Sektor mamin merupakan penyumbang terbesar kedua bagi perekonomian nasional, menciptakan nilai tambah, dan menyerap banyak tenaga kerja. Bagi perusahaan, ekspor bukan sekadar tambahan pendapatan, melainkan indikator utama kinerja dan daya saing. Namun, kajian yang secara khusus menelusuri faktor apa saja yang membuat perusahaan mamin Indonesia mampu menembus pasar ekspor masih sangat terbatas.

Penelitian ini menjawab pertanyaan tersebut dengan menggunakan data mikro dari 2.491 perusahaan mamin hasil survei industri periode 2010–2015. Tingkat efisiensi teknis setiap perusahaan diukur dengan stochastic frontier analysis (SFA), yaitu seberapa dekat output aktual perusahaan dengan output maksimal yang mungkin dicapai dari input yang sama. Selanjutnya, peluang perusahaan untuk mengekspor dianalisis dengan model logistik.

Hasilnya menunjukkan bahwa industri mamin Indonesia masih beroperasi di bawah potensinya. Rata-rata efisiensi teknis sektor mamin hanya sekitar 0,57 dari nilai maksimal 1, bahkan turun dari 0,62 pada 2010 menjadi 0,53 pada 2015. Di industri makanan, efisiensi rata-rata hanya 0,44 dan terus menurun, sementara industri minuman justru membaik dari 0,42 menjadi 0,53. Artinya, penggunaan input produksi seperti modal, tenaga kerja, bahan baku, dan energi belum optimal.

Meski efisiensinya rendah, efisiensi teknis justru menjadi faktor paling kuat yang menentukan peluang perusahaan untuk mengekspor. Perusahaan yang memiliki modal asing (FDI) dan mempekerjakan tenaga kerja terampil juga lebih berpeluang mengekspor, baik di industri makanan maupun minuman. Ukuran perusahaan mendorong ekspor di sektor mamin secara keseluruhan dan di industri minuman, tetapi berpengaruh sebaliknya di industri makanan. Konsentrasi industri meningkatkan peluang ekspor, kecuali di industri minuman. Menariknya, penggunaan bahan baku impor tidak berpengaruh signifikan terhadap ekspor.

Kombinasi beberapa faktor ternyata memberikan dorongan yang lebih besar. Perusahaan yang efisien sekaligus berskala besar, atau efisien sekaligus berada di industri yang terkonsentrasi, memiliki peluang ekspor lebih tinggi. Perusahaan besar yang mempekerjakan tenaga terampil juga lebih banyak mengekspor dibandingkan perusahaan kecil, meskipun pola ini tidak ditemukan di industri minuman.

Temuan ini membawa sejumlah implikasi kebijakan. Pemerintah perlu membuka diri terhadap investasi asing di sektor mamin melalui perbaikan kualitas infrastruktur dan penyederhanaan birokrasi. Akses pendidikan formal dan pelatihan keterampilan perlu diperluas agar pasokan tenaga kerja terampil meningkat. Perusahaan perlu didorong untuk meningkatkan efisiensi dengan mencari kombinasi input yang menghasilkan output tinggi dengan biaya serendah mungkin. Karena bahan baku impor tidak berpengaruh terhadap ekspor, penggunaan bahan baku lokal patut diutamakan. Selain itu, perusahaan kecil dapat didorong untuk bergabung membentuk perusahaan yang lebih besar agar mampu bersaing di pasar global.

Penulis: Rossanto Dwi Handoyo

Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://journals.francoangeli.it/index.php/ecagoa/article/view/19002

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top