Penelitian ini mengkaji pengaruh latar belakang pendidikan Chief Executive Officer (CEO) dari universitas bereputasi terhadap inovasi perusahaan, serta peran kondisi batas (boundary conditions) dalam hubungan tersebut. Fenomena ini sangat relevan mengingat pentingnya inovasi perusahaan dalam lanskap bisnis kontemporer untuk mencapai transisi rendah karbon, khususnya bagi perusahaan yang peduli lingkungan (eco-aware companies). Beberapa studi sebelumnya telah mengeksplorasi atribut CEO seperti gender, pengalaman, dan karakteristik wajah terhadap inovasi, namun peran spesifik dari pendidikan universitas bereputasi masih belum banyak diteliti. Minimnya perhatian pada aspek ini meninggalkan celah mengenai bagaimana prestise pendidikan dapat berfungsi sebagai sinyal kompetensi manajerial dan akses jaringan untuk memobilisasi sumber daya inovasi yang berisiko tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh langsung dari CEO lulusan universitas bereputasi terhadap inovasi perusahaan, serta peran kemampuan manajemen risiko Environmental, Social, and Governance (ESG) dan leverage keuangan dalam memoderasi hubungan tersebut. Data yang digunakan mencakup 411 observasi dari perusahaan publik berstatus eco-aware di kawasan ASEAN pada tahun 2022, yang dievaluasi oleh lembaga pemeringkat Sustainalytics. Pemilihan kawasan dan konteks ini didorong oleh reformasi proaktif pemerintah di Asia Tenggara dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, di mana nilai-nilai budaya Asia menempatkan pendidikan dari universitas ternama sebagai prioritas utama kesuksesan. Konteks ini relevan karena inovasi berwawasan lingkungan membutuhkan investasi berjangka panjang dan menghadapi tekanan legitimasi yang kuat, sehingga menuntut kepemimpinan yang mampu mereduksi asimetri informasi
Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan mengintegrasikan Upper Echelons Theory (UET) dan Signaling Theory untuk menjelaskan peran ganda dari pendidikan bereputasi, baik sebagai pendorong kognitif internal maupun sinyal simbolis eksternal. Dari sisi praktis, temuan penelitian ini memberikan wawasan penting bagi dewan direksi dan investor terkait pentingnya merekrut CEO dari universitas bereputasi, terutama pada perusahaan dengan tingkat utang tinggi, serta urgensi memperkuat infrastruktur tata kelola ESG internal. Keterbaruan penelitian ini terletak pada identifikasi kondisi batas, yang memberikan perspektif baru bahwa kapasitas konversi dari modal intelektual CEO sangat bergantung pada tata kelola ESG dan kendala pembiayaan eksternal perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan: Apakah latar belakang pendidikan CEO dari universitas bereputasi berpengaruh terhadap inovasi perusahaan di ASEAN, dan bagaimana tata kelola ESG serta leverage memengaruhi hubungan tersebut?
Metode Penelitian dan Hasil
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi Ordinary Least Squares (OLS) serta pengujian ketahanan menggunakan Heckman two-stage dan Propensity Score Matching (PSM). Variabel dependen yang digunakan adalah inovasi perusahaan, yang diukur dengan intensitas Research and Development (R&D) melalui rasio beban R&D terhadap total aset, untuk menangkap komitmen riil perusahaan pada inovasi. Variabel independen yang dianalisis adalah status CEO dari universitas bereputasi, yang diukur menggunakan variabel dummy berdasarkan peringkat global QS World University Rankings 2022. Analisis kondisi batas dilakukan dengan membagi sampel berdasarkan metrik risiko ESG dari Sustainalytics dan tingkat leverage keuangan, dengan mengontrol berbagai variabel seperti usia CEO, ukuran perusahaan, dan Produk Domestik Bruto (PDB).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara CEO lulusan universitas bereputasi dengan inovasi perusahaan, yang menegaskan bahwa latar belakang pendidikan elit memfasilitasi pengenalan peluang strategis dan memperkuat sinyal kredibilitas perusahaan. Lebih penting lagi, hasil analisis interaksi menunjukkan bahwa kemampuan manajemen risiko ESG memiliki efek moderasi yang signifikan, yang memperkuat hubungan positif antara CEO bereputasi dan luaran inovasi. Tata kelola ESG terbukti berfungsi sebagai infrastruktur penting untuk mengubah keunggulan kognitif CEO menjadi inovasi yang nyata. Selain itu, hubungan tersebut juga teramplifikasi secara signifikan pada perusahaan dengan leverage keuangan yang tinggi, mengindikasikan bahwa kredibilitas pendidikan eksekutif sangat krusial dalam meyakinkan kreditur guna memastikan keberlanjutan pembiayaan inovasi meskipun terdapat hambatan finansial.
Penulis : Iman Harymawan
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://www.emerald.com/jed/article/28/3/224/1383272/Corporate-innovation-in-eco-aware-companies-in-the
