UNAIR NEWS – Kementerian Pengabdian Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga (BEM FH UNAIR) melaksanakan Abdi Desa 2026 pada 21–30 Agustus 2026 di Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo. Kegiatan ini merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pemberdayaan masyarakat di bidang hukum, sosial, ekonomi, lingkungan, dan pendidikan.
Pada bidang hukum, Abdi Desa 2026 mendukung SDGs 16 melalui program Jala Asa sebagai tahap awal dengan menjaring aspirasi masyarakat di lima dusun yang kemudian menjadi dasar pelaksanaan kegiatan hukum selanjutnya, seperti Sosialisasi PMI, Bincang Agraria, dan Bincang Waris serta konsultasi melalui Klinik Hukum bersama LBH Muhammadiyah Ponorogo.
Di bidang ekonomi, Abdi Desa 2026 mendukung SDGs 1, 8, dan 9 melalui kegiatan Ayo Nganggo QRIS! yaitu sosialisasi pembuatan QRIS bagi UMKM di sekitar Telaga Ngebel. Sementara itu, Gemah Palolo mengajak ibu-ibu PKK mengolah komoditas lokal menjadi produk bernilai ekonomi, serta program Work From Home. Selain pengembangan UMKM, terdapat Sosialisasi Budidaya Ayam Joper untuk pengembangan BUMDes serta Kunjungan Tambak untuk mengenal budidaya ikan nila.

Pada bidang pendidikan, program Abdi Desa 2026 mendukung SDGs 4 melalui pembelajaran interaktif dan fun learning di SDN 3 dan 4 Wagir Lor serta SMPN 1 Ngebel. Di antaranya, English Fair mengenalkan Bahasa Inggris melalui permainan, sedangkan Sadar Pilah Sampah dan Trash to Treasure mengajarkan pemilahan serta pemanfaatan barang bekas. Ready for Life mendorong siswa mengenali potensi diri, sementara Festival Film mengedukasi bahaya judi online melalui film. Selain itu, Si Dol (Sinau lan Dolanan) mendampingi anak-anak Dusun Dayakan belajar dan bermain permainan tradisional.
Komitmen terhadap lingkungan diwujudkan melalui SDGs 12 dan 13 dalam program Zero Waste On Going bersama ibu-ibu PKK melalui edukasi dan praktik mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi. Lindungi Aku! diwujudkan melalui pemasangan convex mirror di titik rawan kecelakaan Dusun Dayakan. Sementara itu, Ruang Budoyo bersama Sanggar Tari Naresworo menjadi ruang diskusi mengenai budaya Ponorogo sekaligus praktik Tari Jathil.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Abdi Desa 2026 menjadi ruang kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, pemerintah desa, akademisi, dan pihak terkait untuk memperkuat kapasitas masyarakat serta mendorong pembangunan desa yang berkelanjutan.
Penulis: Firsta Naurah Salsabilah
