Universitas Airlangga Official Website

AEEC Soroti Ancaman Burnout di Tengah Percepatan Transformasi Digital

Narasumber dan peserta berfoto bersama usai pelaksanaan webinar AEEC. (Foto: Dokumentasi Panitia)

UNAIR NEWS – Transformasi digital membawa berbagai kemudahan bagi dunia kerja. Akan tetapi, percepatan tersebut juga dapat menghadirkan tekanan baru bagi sumber daya manusia. Beban kerja berlebih, target tinggi, konflik, ketidakjelasan peran, hingga ketidakseimbangan kehidupan dan pekerjaan menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kesehatan mental. Isu tersebut menjadi perhatian dalam Free Executive Webinar “Digital Leadership di Era Digital dan AI” yang terselenggara oleh Airlangga Executive Education Center (AEEC UNAIR), Jumat (14/8/2026).

Webinar menghadirkan Prof Dr Gancar C Premananto CDM QCRO AIBIZ CESGI, Guru Besar Bidang Sustainable Consumer Behaviour UNAIR serta Prof Dr Nurul Hartini SPsi MKes Psikolog Ketua Airlangga Assessment Center dan Guru Besar Bidang Psikologi Klinik dan Kesehatan Mental UNAIR.

Dalam sesi mengenai kesehatan mental di tempat kerja, Nurul menekankan bahwa stres merupakan respons yang wajar ketika seseorang menghadapi tuntutan, perubahan, maupun berbagai tantangan. Namun, tekanan yang berlangsung secara berlebihan dan berkepanjangan perlu mendapat perhatian karena dapat berkembang menjadi burnout, kecemasan, penurunan energi, hingga gangguan terhadap fungsi sehari-hari.

“Stres merupakan bagian yang wajar dalam kehidupan dan perlu dikelola dengan tepat,” jelas Nurul. Pengelolaan stres menjadi penting agar tekanan yang dialami individu tidak berkembang menjadi kondisi yang mengganggu aktivitas dan kinerja.

Menurutnya, kesehatan mental tidak dapat dibebankan hanya kepada individu. Organisasi juga perlu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan karyawan. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pemberian beban kerja yang sesuai kapasitas, sistem penghargaan yang seimbang, komunikasi yang harmonis, serta budaya kerja yang sehat. Organisasi juga dapat menyediakan dukungan melalui layanan seperti Employee Assistance Program (EAP).

Keseimbangan kehidupan dan pekerjaan juga membutuhkan penyesuaian yang dinamis. Kebutuhan setiap individu terhadap waktu untuk diri sendiri, keluarga, maupun pekerjaan dapat berubah sesuai fase kehidupan, tanggung jawab, dan prioritas. Karena itu, tidak terdapat satu pola keseimbangan yang berlaku secara permanen bagi setiap orang.

Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa produktivitas tidak seharusnya dicapai dengan mengorbankan kesehatan manusia. Digitalisasi dan kesejahteraan perlu berjalan beriringan agar organisasi dapat berkembang secara berkelanjutan.

Kepemimpinan masa depan, sebagaimana menjadi salah satu kesimpulan webinar, membutuhkan keseimbangan antara kompetensi dan well-being. Organisasi perlu meningkatkan kapabilitas digital sekaligus membangun budaya kolaborasi dan lingkungan kerja yang sehat melalui komunikasi yang baik, beban kerja proporsional, serta dukungan terhadap kesejahteraan karyawan.

Penulis: Naswa Thalita Zada

Editor: Yulia Rohmawati