Universitas Airlangga Official Website

Waspada El Nino, Akademisi UNAIR Beberkan Strategi Mitigasi

Ilustrasi Dampak El Nino. (Sumber: Liputan6.com)
Ilustrasi Dampak El Nino (Foto: Liputan6.com)

UNAIR NEWS – Fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan panjang di berbagai wilayah Indonesia kerap berujung pada kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, El Nino juga berpotensi menimbulkan risiko bencana sekunder (secondary disaster).

Dosen Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Aditya Prana Iswara ST MSc PhD, mengungkapkan bahwa mitigasi fenomena El Nino tidak akan berjalan optimal apabila penanganan bencana di lapangan masih cenderung reaktif. Menurutnya, upaya tersebut kerap terhambat oleh tata kelola bencana yang tumpang tindih di Indonesia.

“Mitigasi bencana sangat penting dilakukan terutama untuk bencana tahunan. Baik itu banjir maupun kekeringan. Namun, sampai saat ini tata kelola dan sinergi antarlembaga di Indonesia masih tumpang tindih sebab ego sektoralnya masih sangat besar,” ungkapnya.  

Aditya menyoroti pentingnya kepemilikan cadangan air mandiri sebagai solusi individu dalam meminimalisir risiko krisis air ketika kekeringan melanda. Ia menyebut, reservoir atau cadangan air dapat diupayakan dengan melakukan pemanenan air hujan (rain harvesting).

“Kita harus punya reservoir sendiri. Dari mana kita ambil airnya? Kita bisa mengambil air ketika posisi sumber air masih banyak, contohnya ketika sedang hujan. Kita bisa melakukan rain harvesting,” ujarnya. 

Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Aditya Prana Iswara ST MSc PhD (Foto: Dok. Istimewa)

Aliran air hujan dari talang rumah akan diarahkan ke satu sudut. Sedangkan sudut lainnya mengarah ke tandon dengan melewati proses sterilisasi sebelum digunakan. Meski volume air yang berasal dari proses tersebut tidak sebanyak kebutuhan harian, Aditya menilai langkah tersebut efektif dalam menghasilkan cadangan air mandiri.

“Talang kita arahkan ke satu sudut, satu sisi ke arah tandon di bawah dengan melewati proses filter lebih dulu sehingga nanti airnya bisa digunakan. Meskipun mungkin sangat minim ya, karena penggunaan air kita sehari-hari cukup besar,” lanjutnya.

Saat kekeringan melanda, masyarakat menghadapi kesulitan terhadap akses air bersih. Sumber air yang semula kedalamannya hanya berjarak 1 meter bisa merosot hingga 10 meter. Sehingga, terjadi penurunan tingkat higienitas masyarakat yang memicu potensi penyakit baru. 

Di sisi lain, durasi kekeringan berkepanjangan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Seperti perubahan iklim hingga pola konsumsi masyarakat yang belum ramah lingkungan (green consumption). Dengan demikian, sinergi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama guna menekan dampak bencana. 

Menjaga kelestarian lingkungan turut menjadi langkah awal dalam mitigasi El Nino. Meskipun, pemerintah telah memetakan dan mengamankan sumber-sumber air potensial, masyarakat harus memiliki kesadaran untuk mematuhi aturan baku mutu lingkungan. Langkah ini turut berkontribusi dalam pemenuhan tujuan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) dan SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

“Kita harus mulai berbicara terkait dengan green consumption, jangan terlalu over consumption. Kita harus menata kebutuhan sesuai dengan apa yang benar-benar kita butuhkan,” pungkasnya.

Penulis: Amelia Farah Putri Iswara

Editor: Yulia Rohmawati