Di tengah pesatnya pembangunan kesehatan di Indonesia, masih ada wilayah yang harus berjuang hanya untuk mendapatkan air bersih dan sanitasi layak. Salah satunya adalah Kabupaten Manggarai di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di daerah yang indah dengan bentang alam pegunungan dan pedesaan ini, diare masih menjadi ancaman nyata bagi masyarakat, terutama anak-anak.
Banyak orang menganggap diare sebagai penyakit biasa. Padahal, menurut WHO, diare masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada anak di bawah lima tahun di dunia. Di Indonesia sendiri, penyakit ini masih sering muncul sebagai kejadian luar biasa, terutama di wilayah dengan akses sanitasi dan air bersih yang terbatas.
Melalui penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI), penulis bersama tim mencoba melihat persoalan diare tidak hanya dari sisi angka kasus, tetapi juga dari kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat. Penelitian ini memetakan wilayah-wilayah berisiko tinggi diare di Kabupaten Manggarai dengan menggabungkan data kasus diare, akses jamban sehat, akses air bersih, dan kebiasaan cuci tangan menggunakan pendekatan pemetaan spasial berbasis Geographic Information System (GIS).
Hasilnya cukup menarik sekaligus memprihatinkan. Wilayah seperti Cibal Barat, Rahong Utara, dan Cibal ditemukan sebagai daerah prioritas tinggi untuk penanganan diare. Daerah-daerah ini memiliki angka kejadian diare yang tinggi, tetapi akses sanitasi, air bersih, dan perilaku hidup bersih masyarakatnya masih rendah.
Bayangkan hidup di daerah yang air bersihnya sulit diakses, jamban sehat belum tersedia secara merata, dan fasilitas kesehatan hanya berupa puskesmas dengan tenaga terbatas. Dalam kondisi seperti itu, penyakit menular sangat mudah berkembang. Diare bukan sekadar soal sakit perut, tetapi juga tentang kualitas hidup, kemiskinan, dan ketimpangan pembangunan.
Penelitian ini juga menemukan fakta menarik. Ada wilayah seperti Lelak yang sebenarnya memiliki akses sanitasi dan air bersih cukup baik, tetapi angka diare tetap tinggi. Artinya, persoalan kesehatan tidak selalu sesederhana membangun jamban atau menyediakan air bersih. Ada faktor lain seperti kebersihan makanan, perilaku sehari-hari, kualitas lingkungan rumah, hingga keterlambatan akses layanan kesehatan yang ikut memengaruhi.
Di sisi lain, beberapa wilayah seperti Langke Rembong, Wae Ri’i, dan Satar Mese Utara menunjukkan kondisi yang lebih baik. Angka diare rendah dan indikator sanitasi cukup optimal. Wilayah-wilayah ini bisa menjadi contoh praktik baik bagi daerah lain. Ketika akses air bersih membaik, sanitasi diperhatikan, dan masyarakat mulai membiasakan hidup bersih, dampaknya sangat terasa terhadap penurunan penyakit.
Masalahnya, pembangunan kesehatan di daerah terpencil sering kali belum merata. Banyak wilayah pedesaan masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dasar. Padahal, akses air bersih dan sanitasi adalah hak dasar manusia. Tidak seharusnya masyarakat harus berjalan jauh hanya untuk mendapatkan air layak konsumsi.
Penelitian ini menjadi pengingat bahwa kesehatan masyarakat tidak bisa dipisahkan dari kondisi lingkungan. Program kesehatan tidak cukup hanya fokus pada pengobatan di fasilitas kesehatan. Pencegahan harus dimulai dari rumah, sekolah, lingkungan, hingga kebijakan pemerintah daerah.
Pemetaan berbasis GIS seperti dalam penelitian ini sebenarnya sangat penting untuk membantu pemerintah menentukan prioritas intervensi. Dengan mengetahui wilayah mana yang paling berisiko, sumber daya yang terbatas bisa diarahkan lebih tepat sasaran. Program jambanisasi, penyediaan air bersih, edukasi cuci tangan, hingga penguatan layanan kesehatan primer dapat difokuskan pada daerah yang benar-benar membutuhkan.
Lebih jauh lagi, persoalan diare juga berkaitan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan nomor 3 tentang kesehatan yang baik dan kesejahteraan serta tujuan nomor 6 tentang akses air bersih dan sanitasi layak. Jika masalah sanitasi tidak diselesaikan, maka target pembangunan kesehatan akan sulit tercapai.
Di era digital saat ini, pendekatan kesehatan masyarakat juga harus lebih inovatif. Edukasi perilaku hidup bersih bisa dikembangkan melalui media sosial, aplikasi kesehatan, video pendek, maupun pendekatan berbasis komunitas yang lebih dekat dengan masyarakat. Perubahan perilaku tidak cukup hanya dengan poster di dinding puskesmas. Masyarakat perlu diajak memahami bahwa kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dengan air bersih dapat menyelamatkan nyawa.
Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa diare bukan hanya soal penyakit, tetapi tentang bagaimana negara hadir dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakatnya. Ketika masih ada anak-anak yang sakit karena air yang tidak layak, maka pembangunan belum benar-benar selesai. Air bersih seharusnya bukan kemewahan. Sanitasi layak bukan privilese. Dan hidup sehat bukan hanya milik masyarakat perkotaan.
Artikel asli dapat dibaca pada jurnal MPPKI: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/MPPKI/article/view/8605
Oleh: Muthmainnah





