Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Aktivitas Fisik Rendah Berkaitan dengan Hipertensi pada Lansia

54 Views•3 minutes read

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami oleh lansia. Kondisi ini dapat terjadi karena berbagai faktor, mulai dari usia, pola makan, berat badan, hingga kebiasaan sehari-hari. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah aktivitas fisik. Lansia yang kurang bergerak dapat memiliki risiko lebih tinggi mengalami tekanan darah tinggi karena jantung perlu bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Aktivitas fisik secara rutin dapat membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Lansia dengan aktivitas fisik yang rendah cenderung memiliki denyut jantung istirahat yang lebih tinggi sehingga jantung harus bekerja lebih keras setiap kali memompa darah. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan pada dinding pembuluh darah. Sebaliknya, aktivitas fisik secara teratur membantu tubuh beradaptasi dengan beban kerja, menurunkan denyut jantung saat istirahat, serta mendukung kerja jantung yang lebih efisien. Bahkan aktivitas ringan hingga sedang dapat membantu menurunkan tekanan darah.

Selain aktivitas fisik, kondisi psikologis seperti depresi juga dapat berkaitan dengan kesehatan jantung dan tekanan darah. Depresi dapat membuat tubuh berada dalam kondisi stres yang berkepanjangan sehingga meningkatkan aktivitas saraf simpatis dan hormon kortisol yang dapat memengaruhi tekanan darah. Depresi juga dapat secara tidak langsung memperburuk kondisi kesehatan karena menurunkan motivasi untuk melakukan aktivitas fisik, mengonsumsi obat secara teratur, maupun menjalankan perilaku hidup sehat.

Penelitian yang dilakukan pada 63 lansia di UPTD Griya Wreda Jambangan Surabaya menemukan bahwa 41,3% responden mengalami hipertensi. Sebanyak 47,6% responden mengalami depresi ringan, sedangkan 52,4% melakukan aktivitas fisik sedang hingga berat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik memiliki hubungan yang signifikan dengan hipertensi. Lansia yang melakukan aktivitas fisik ringan memiliki peluang 62 kali lebih besar mengalami hipertensi dibandingkan lansia yang melakukan aktivitas sedang hingga berat.

Namun, hasil berbeda ditemukan pada depresi. Meskipun secara teori depresi dapat memengaruhi tekanan darah, penelitian ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara tingkat depresi dan hipertensi. Artinya, pada kelompok lansia yang diteliti, depresi belum dapat dikatakan berkaitan langsung dengan kejadian hipertensi. Kondisi tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain, seperti pola makan, penggunaan obat, penyakit penyerta, faktor genetik, berat badan, dan aktivitas fisik.

Temuan ini menunjukkan bahwa tetap aktif secara fisik merupakan salah satu langkah penting bagi lansia untuk mengurangi risiko hipertensi. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang dapat menjadi pilihan yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing lansia. Dengan tetap bergerak secara rutin, kesehatan jantung dan pembuluh darah dapat lebih terjaga sehingga risiko tekanan darah tinggi dapat diminimalkan.

Penulis: Farapti dan Auliya Fathimah

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di Media Gizi Indonesia (National Nutrition Journal)

https://e-journal.unair.ac.id/MGI/article/view/75377

Latifah IA, Farapti F, Gracela E, Mat Issa Z. (2026). The Relationship Between Depression Levels and Physical Activity with Hypertension Among the Elderly at Institutional Care Surabaya. Media Gizi Indonesia, 21(3), 429–438. https://doi.org/10.20473/mgi.v21i3.429-438

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top