Universitas Airlangga Official Website

Alumni UNAIR Presentasikan Kebijakan Investasi Hijau untuk Pertanian di Forum FAO Indonesia

Aidatul Fitriyah menjadi presenter dalam Youth Innovation Challenge 2025 oleh Forum Food and Agriculture Organization (FAO) (Foto: Istimewa).
Aidatul Fitriyah menjadi presenter dalam Youth Innovation Challenge 2025 oleh Forum Food and Agriculture Organization (FAO) (Foto: Istimewa).

UNAIR NEWS – Aidatul Fitriyah, tak henti-hentinya unjuk prestasi dalam bidang riset dan inovasi. Kali ini, alumnus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) itu, terpilih sebagai salah satu dari enam presenter terbaik dalam Youth Innovation Challenge 2025. Ia berhasil mengeliminasi 230 proposal kebijakan dan inovasi yang telah peserta lain submit. 

Gelaran itu sukses terselenggara oleh Food and Agriculture Organization (FAO) berkolaborasi dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga, Pijar Foundation, dan World Food Forum Indonesia. Bertempat di Jakarta pada Sabtu (8/11/2025). 

Tawarkan Kebijakan Pembiayaan Hijau

Forum tersebut mengangkat tema ekonomi sirkular untuk masa depan yang berkelanjutan. Dalam kesempatan itu, Afriya membawakan gagasan Rent-to-Own Modular Circular Units (RM-CU). Gagasan ini berupa model kebijakan pembiayaan hijau berbasis sistem sewa-beli unit biogas dan bio-pupuk ultra-kecil yang dapat diproduksi secara lokal. Gagasan ini bertujuan membantu petani kecil mengolah limbah pertanian menjadi energi dan pupuk organik secara berkelanjutan.

“RM-CU bukan sekadar alat, tapi model kebijakan pembiayaan hijau yang menautkan teknologi, keuangan, dan pemberdayaan desa,” ujar Afriya. 

Lebih lanjut, Afriya menjelaskan inovasinya itu berangkat dari realitas kondisi di lapangan. “Saya melihat paradoks bagaimana limbah pertanian melimpah, tetapi teknologi pengolahannya justru jarang diadopsi. Dari situ saya berpikir, solusi teknologi hijau tidak akan berkelanjutan tanpa inovasi kebijakan pembiayaan.”

Adapun sebelum memasuki tahap presentasi, Afriya turut melalui proses seleksi ketat. Ia kerap melakukan riset literatur mendalam dari FAO, OECD, dan Bappenas untuk memperkuat dasar ilmiah gagasannya. Ia mengaku tantangan terbesarnya adalah menyusun ide teknis yang kompleks menjadi proposal kebijakan yang jelas, terukur, dan relevan untuk konteks Indonesia.

Menemukan Ekosistem yang Kolaboratif

Kendati demikian, Afriya justru mendapat inspirasi baru dari para inovator muda lain yang bergerak di bidang pertanian digital, teknologi pangan, dan bioteknologi. “Yang paling berkesan adalah bertemu dengan mereka dan menyadari bahwa ekonomi sirkular bisa tumbuh dari banyak pintu,” ungkapnya. 

Ia menambahkan bahwa dari pengalaman tersebut banyak memberinya pelajaran berharga. “Saya belajar bahwa kebijakan bukan sekadar dokumen, melainkan ekosistem kolaboratif lintas sektor, baik dalam akademik, bisnis, dan sosial,” ucap Afriya. 

Ke depan, Afriya ingin mendorong RM-CU menjadi pilot policy di tingkat daerah. Ia akan bekerja sama dengan pemerintah kabupaten atau BUMDes untuk menguji kelayakan teknis dan skema pembiayaannya. Ia juga menargetkan publikasi hasil riset lanjutan di jurnal kebijakan lingkungan serta mengintegrasikan model RM-CU dalam peta jalan ekonomi sirkular nasional.

“Harapan saya, kebijakan ini bisa menjadi contoh konkret bahwa ekonomi hijau tidak harus mahal, asal desainnya inklusif dan terdesentralisasi,” pungkas Afriya. 

Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah

Editor: Ragil Kukuh Imanto