Universitas Airlangga Official Website

Amuba dari sumber air daerah endemis kusta mendukung daya tahan hidup bakteri kusta Mycobacterium leprae

Kusta
Ilustrasi Kusta (Sumber: Alodokter)

Kusta merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini menyebabkan kecacatan dan masih menyisakan stigma buruk di Masyarakat bagi penderitanya. Kusta yang merupakan penyakit tua, saat ini masuk dalam kategori “neglected tropical diseases”. Meskipun program eliminasi kusta dari WHO sudah mencapai target dengan angka prevalensi kusta 1/10.000 penduduk Indonesaia, namun demikian kantong-kantong daerah endemis masih ditemukan dengan kasus baru penderita yang masih bermunculan.

Kantong daerah endemis yang masih tercatat di Indonesia menyisakan pertanyaan, bagaimana penularan kusta masih terjadi? Para peneliti dunia menemukan bahwa lingkungan air dan tanah di daerah endemis bisa menjadi faktor penularan selain penularan dari penderita. Keberadaan “non-human reservoir”, yaitu faktor penularan selain manusia kemungkinan bisa berasal dari nine-banded armadillo, tupai, primata, nyamuk, kutu, dan free-living amuba (amuba yang hidup bebas di air dan tanah).

Penelitian oleh Wahyuni R., dkk tahun 2010 menemukan keberadaan bakteri tahan asam, yang merupakan salah satu ciri M. leprae, di dalam amuba yang diisolasi dari sumber air di daerah endemis kusta. Penelitian lanjutan oleh Wahyuni R., dkk (2024) menemukan bahwa amuba (Acanthamoeba sp.) yang telah diisolasi tersebut mendukung kehidupan M. leprae yang berasal dari penderita dalam pengamatan selama 28 hari di laboratorium, namun belum bisa dibuktikan adanya pembelahan sel M. leprae di dalam amuba. M. leprae dapat bertahan hidup di dalam amuba tanpa adanya kerusakan atau kematian bakteri kusta tersebut.

Penelitian oleh Wahyuni R., dkk tersebut menjadi salah satu bukti pendukung yang melengkapi penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para peneliti sebelumnya tentang keberadaan non-human reservoir di daerah endemis kusta yang dapat menjadi faktor penularan. Harapan selanjutnya adalah program eliminasi kusta yang dijalankan kedepannya juga memperhatikan faktor penularan dari selain penderita (human).

Penulis: Ratna Wahyuni