Universitas Airlangga Official Website

Analisis Data Time Series: Strategi Aman Buka Sekolah

Ilustrasi siswa sekolah dasar (Foto: Center for Indonesian Policy Studies)
Ilustrasi siswa sekolah dasar (Foto: Center for Indonesian Policy Studies)

Dalam upaya untuk mengurangi kemungkinan penularan COVID-19, pemerintah telah menerapkan pembatasan masyarakat seperti pembelajaran jarak jauh. Namun, hal ini mengakibatkan penurunan kualitas pendidikan. Akibatnya, ada diskusi tentang pembukaan kembali sekolah.

Namun, penyebaran COVID-19 terus berubah dan tidak dapat diprediksi karena penularannya yang tinggi,  berbagai gejala, potensi kegagalan banyak organ, dan dampaknya yang belum pernah terjadi sebelumnya pada masyarakat, membuat pertumbuhannya sangat tidak stabil dan eksponensial. Akibatnya, para pembuat keputusan bingung ketika mencoba untuk pulih dari hilangnya pembelajaran selama pandemi karena dinamika COVID-19 mengancam penyakit dan kematian yang parah.

Gangguan pendidikan telah mendorong lembaga-lembaga dunia seperti UNESCO, UNICEF, dan Bank Dunia untuk bergegas membuat kerangka kerja untuk membuka kembali sekolah selama pandemi dan juga pedoman dari pemerintah nasional. Namun, kerangka kerja tersebut terutama berkonsentrasi pada strategi teknis ketika sekolah dibuka, seperti menjaga protokol kesehatan, tanggung jawab orang tua dan guru untuk memantau dan mengurangi risiko paparan, dan fasilitas apa yang harus disiapkan di sekolah.

Kerangka kerja tersebut hanya menyebutkan cara menyiapkan langkah-langkah mitigasi risiko dan cara berkoordinasi dengan masyarakat dan pemerintah daerah. Menariknya, para ahli menyatakan bahwa tidak ada konsensus ilmiah tentang pembukaan kembali sekolah karena paparan COVID-19. Akibatnya, pertanyaan tentang kapan dan sekolah mana yang dapat dibuka dengan pasti masih belum terjawab. Hal ini menekankan pentingnya penelitian, yang dapat berdampak signifikan terhadap masalah penyelamatan sektor pendidikan di tengah pandemi yang tidak menentu.

Di satu sisi, pembukaan sekolah dapat berdampak pada penyebaran pandemi. Akibatnya, para pembuat kebijakan disarankan untuk mengadopsi pendekatan evaluasi holistik.

Meskipun algoritma dan teknologi kecerdasan buatan (AI) berbasis prediksi seharusnya mampu menilai data historis sebagai sumber untuk membuat keputusan di masa mendatang, sayangnya, tidak ada penelitian tentang dinamika model COVID-19 untuk generalisasi pengambilan keputusan, khususnya yang berkaitan dengan pembukaan kembali sekolah.

Namun, hanya memprediksi penyebaran COVID-19 dalam waktu dekat dengan membandingkan kekuatan dan keuntungan dari algoritma atau metode yang mereka usulkan.

Pengembangan model prediktif yang memanfaatkan AI.Model ini dirancang khusus untuk menganalisis data yang beragam dan luas, meningkatkan akurasi dan relevansi prediksi untuk keputusan pembukaan kembali sekolah.

  1. Analisis terperinci dinamika COVID-19 di kecamatan. Tidak seperti penelitian yang ada yang berfokus pada tingkat geografis yang lebih luas, penelitian kami mencakup 100 kecamatan, yang memberikan pemahaman terperinci tentang pola pandemi lokal. Hal ini memungkinkan penilaian yang lebih tepat tentang kondisi pembukaan kembali sekolah yang aman, yang secara langsung memengaruhi pembuatan kebijakan dengan data yang didukung secara ilmiah.
  2. Integrasi DL untuk meningkatkan akurasi prediksi. Dengan menggabungkan DL, yang dikenal karena kemampuan prediktifnya yang kuat, model kami secara signifikan meningkatkan evaluasi tren infeksi dan potensi risiko yang terkait dengan operasi sekolah selama pandemi. Implementasi ini sangat penting untuk mengembangkan strategi yang andal untuk membuka kembali sekolah dengan aman.
  3. Penyetelan hiperparameter untuk mengoptimalkan kinerja model. Kami telah menggunakan penyetelan hiperparameter yang ekstensif untuk mengoptimalkan kinerja model AI kami. Pendekatan yang cermat ini memastikan bahwa prediksi kami akurat dan berlaku di berbagai skenario, sehingga menyediakan dasar yang andal untuk keputusan pendidikan yang penting.
  4. Penilaian Faktor-Faktor Utama yang Memengaruhi Keputusan Pembukaan Kembali Sekolah. Studi kami mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor-faktor utama yang seharusnya memengaruhi keputusan untuk membuka kembali sekolah, seperti tingkat infeksi dan metrik rawat inap di setiap kecamatan. Faktor-faktor yang ditemukan sangat penting untuk menentukan waktu dan kondisi yang tepat untuk melanjutkan pembelajaran tatap muka dengan aman.

Pengelompokan wilayah mengacu pada pola penyebaran COVID-19 yang mencerminkan karakteristik pengendalian atau kerentanan. Menariknya, ditemukan tiga faktor utama yang secara signifikan memengaruhi pandemi yang dapat dikendalikan, yang pada kenyataannya, konsisten dengan penetapan Pemerintah mengenai pembelajaran tatap muka.

Pemerintah Indonesia mengeluarkan pedoman pembatasan mobilitas bahwa suatu wilayah dinyatakan dalam Level 1 untuk dibuka kembali jika (1) terdapat kasus terkonfirmasi positif COVID-19 kurang dari 20 per 100 ribu penduduk per minggu, (2) jumlah rawat inap kurang dari lima orang per 100 ribu penduduk, (3) kasus kematian kurang dari satu orang per 100 ribu penduduk, (4) cakupan dosis awal dan selanjutnya imunisasi COVID-19.

Sementara satu faktor lainnya adalah tingkat penularan  sebagai output dari pemodelan COVID-19. Tiga faktor utama memengaruhi kondisi pandemi yang terkendali sebagai landasan untuk membuat pedoman untuk membuka kembali sekolah dengan aman selama pandemic yaitu  tingkat penularan, penurunan jumlah kematian , dan penurunan jumlah kasus yang diduga.

Penulis : Riris Diana Rachmayanti, S.KM., M.Kes

Jurnal dapat diakses pada https://www.scopus.com/record/display.uri?eid=2-s2.0-86000784226&origin=inward&txGid=dfe2105b32371df921d6b19dbbc7040f