Chief Executive Officer (CEO) memiliki peran penting dan secara signifikan memengaruhi keputusan finansial dan non-finansial organisasi (Bouaziz et al., 2020). Di Indonesia, posisi CEO sama dengan direktur utama yang bertugas di sebuah perusahaan. Berdasarkan teori upper-echelon, kinerja perusahaan dan keputusan strategis yang diambil oleh pemimpin perusahaan dipengaruhi oleh karakteristik dan kondisi masing-masing CEO (Hambrick & Mason, 1984). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa karakteristik CEO memiliki peran yang sangat penting dalam hasil organisasi.
Kemaskulinan wajah CEO adalah salah satu faktor yang dipercayai mempengaruhi perilakunya. Kemaskulinan wajah seseorang dipengaruhi langsung oleh hormon testosteron, yaitu hormon steroid yang mendorong seseorang untuk mengambil lebih banyak risiko dan menempati posisi dominan dalam kompetisi (Kamiya et al., 2019). Tingkat testosteron pada manusia diyakini memiliki hubungan dengan perilaku seseorang melalui mekanisme saraf (Dabbs & Mallinger, 1999; Mehta & Beer, 2010). Beberapa penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa karakteristik biologis CEO, terutama kemaskulinan wajah CEO, berhubungan dengan kebijakan keuangan dan kinerja perusahaan (Hambrick & Mason, 1984). Wong et al., (2011) menemukan bahwa CEO laki-laki dengan fWHR tinggi mencapai kinerja keuangan yang lebih baik dibandingkan dengan CEO laki-laki dengan fWHR rendah.
Karakteristik yang ada pada seorang CEO menjadi faktor penting dalam setiap keputusan strategis perusahaan. Salah satu keputusan strategis yang dihasilkan adalah terkait dengan keputusan untuk menghindari pajak korporasi. Penghindaran pajak korporasi mencakup perencanaan pajak legal dan penghindaran pajak ilegal yang bertujuan untuk mengurangi beban pajak korporasi melalui investasi dan struktur aktivitas bisnis dalam lingkup hukum pajak atau melanggar hukum pajak dan peraturan terkait (Dyreng et al., 2019). Karena kompleksitas dan ambiguitas dalam hukum pajak, otoritas pajak mungkin mengalami kesulitan dalam menentukan pajak yang harus dibayar perusahaan, terutama ketika perusahaan secara agresif menghindari pajak (Hanlon et al., 2017).
Penelitian ini dilakukan di Indonesia karena beberapa studi sebelumnya telah mendokumentasikan bagaimana maskulinitas wajah CEO berhubungan dengan manajemen laba (Prasetyo dkk., 2022) dan leverage (Tjaraka dkk., 2022). Temuan penelitian menjelaskan bahwa penurunan dan peningkatan praktik riset dan pengembangan berdampak pada peningkatan dan penurunan nilai maskulinitas CEO dan pertumbuhan serta penurunan nilai perusahaan riset dan pengembangan (Prasetyo dkk., 2022). Selain itu, temuan lain menjelaskan bahwa penurunan dan peningkatan praktik manajemen laba berdampak pada peningkatan dan penurunan nilai wajah maskulin CEO pria dan peningkatan serta penurunan pentingnya leverage perusahaan (Tjaraka dkk., 2022).
Metode Penelitian dan Hasil
Iman Harymawan, Nadia Anridho, Adib Minanurohman, Sri Ningsih, Khairul Anuar Kamarudin, Yulianti Raharjo melalui penelitiannya ingin mengumpulkan bukti tentang bagaimana karakteristik CEO yang diwakili oleh maskulinasnya berhubungan dengan penghindaran pajak. Sampel penelitian yang digunakan adalah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk tahun 2010-2019. Penelitian ini menerapkan kriteria pemilihan sampel untuk mencapai sampel akhir yang mencakup 1.529 observasi tahun perusahaan.
Berdasarkan temuan penelitian ini, terdapat pengaruh yang signifikan antara fitur wajah maskulin seorang CEO dengan kecenderungan mereka untuk melakukan penghindaran pajak. Selain itu, penelitian ini mengungkapkan bahwa fWHR seorang CEO berbanding lurus dengan kecenderungan mereka untuk terlibat dalam penghindaran pajak. Selain itu, penelitian ini juga mencakup beberapa analisis tambahan untuk meningkatkan analisis utama dan memastikan keandalan hasil.
Kontribusi dari penelitian ini dapat menambah literatur yang berkembang mengenai hubungan antara maskulinitas wajah CEO dan penghindaran pajak, terutama dalam konteks negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada penerimaan pajak. Sejauh yang diketahui, penelitian ini memberikan bukti panel statistik pertama mengenai hubungan ini antara perusahaan publik Indonesia. Hasil dari penelitian ini akan menarik bagi pembuat kebijakan dan regulator dalam memilih CEO perusahaan. Para stakeholder juga dapat mempertimbangkan hasil penelitian ini dalam membuat keputusan, karena karakteristik CEO yang diukur oleh tingkat maskulinitasnya memiliki hubungan dengan penghindaran pajak.
Penulis: Nadia Anridho
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/23311975.2023.2171644
Harymawan, I., Anridho, N., Minanurohman, A., Ningsih, S., Kamarudin, K. A., & Raharjo, Y. (2023). Do more masculine-faced CEOs reflect more tax avoidance? Evidence from Indonesia. Cogent Business & Management, 10(1), 2171644. https://doi.org/10.1080/23311975.2023.2171644





