Hiperpigmentasi adalah kondisi kulit yang umum ditandai dengan bercak atau noda gelap pada kulit. Melanin, yang merupakan pigmen yang bertanggung jawab atas warna kulit, rambut, dan mata, dapat terakumulasi atau diproduksi secara berlebihan, yang mengarah pada masalah estetika dan potensi masalah kesehatan yang terkait dengan hiperpigmentasi. Pemutihan kulit mengacu pada penggunaan produk alami atau sintetis untuk mengurangi kadar melanin dan mencapai warna kulit yang lebih merata. Sementara agen depigmentasi tradisional seperti hidrokuinon, kortikosteroid, dan asam kojat memang efektif tetapi dapat menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan dengan penggunaan jangka panjang, termasuk okronosis, atrofi, karsinogenesis, dan efek samping lainnya.
Menjelajahi manfaat ekstrak alami dan botani yang menawarkan peluang untuk mengembangkan produk baru untuk mengatasi masalah pigmentasi. Senyawa aktif yang berasal dari tanaman, seperti arbutin, aloesin, asam gentisat, flavonoid, hesperidin, akar manis, niacinamide, turunan ragi, dan polifenol, telah ditemukan dapat menghambat produksi melanin tanpa merusak melanosit melalui berbagai mekanisme. Penelitian ini memberikan gambaran tentang tren terkini dalam memanfaatkan ekstrak tanaman sebagai perawatan topikal untuk gangguan hiperpigmentasi, dengan menekankan ekstrak alami yang signifikan dan metabolit sekunder, serta hasil skrining in vitro dan temuan uji klinis yang relevan yang mendukung efikasinya.
Penulis: Rico Ramadhan Departemen Kimia, FST UNAIR
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada artikel ilmiah di:
https://link.springer.com/chapter/10.1007/978-981-97-1908-2_17





