Bayangkan bangun besok dan mendapati harga beras melonjak sepuluh persen. Bagi jutaan keluarga Indonesia, ini bukan sekadar berita, tetapi kekhawatiran sehari-hari. Harga pangan, terutama beras, daging ayam, dan minyak goreng, secara langsung memengaruhi inflasi dan anggaran rumah tangga. Sebuah studi terbaru yang menggunakan data harga mingguan dari Januari 2021 hingga September 2023 menerapkan metode statistik yang disebut Vector Error Correction Model (VECM) untuk memprediksi harga-harga tersebut. Hasilnya? Model tersebut dapat memprediksi harga pangan dengan akurasi hampir 99%, menawarkan alat praktis untuk menstabilkan pasar dan melindungi konsumen.
Jadi, apa yang ditemukan para peneliti? Pertama, setiap jenis pangan berperilaku berbeda. Harga beras relatif stabil, bergerak antara Rp 13.150 dan Rp 14.700 per kilogram. Harga terendah tercatat pada Desember 2021, sedangkan harga tertinggi terjadi pada September 2023 sebagian karena kekeringan El Nino yang mengurangi hasil panen. Harga daging ayam lebih fluktuatif, mencapai puncaknya pada Agustus 2023 karena pakan ternak impor menjadi mahal. Minyak goreng adalah komoditas yang paling sulit diprediksi, mencapai titik tertingginya pada pertengahan tahun 2022 ketika harga minyak sawit mentah melonjak.
Wawasan sebenarnya terletak pada bagaimana harga-harga ini saling terkait. Dalam jangka panjang, harga daging ayam dan minyak goreng secara signifikan memengaruhi harga beras. Artinya, jika ayam atau minyak menjadi mahal, beras pada akhirnya akan ikut naik. Namun, dalam jangka pendek, perubahan harga beras sebagian besar didorong oleh beras itu sendiri; lebih dari 80% naik turunnya berasal dari pergerakan harga beras di masa lalu. Studi ini juga menemukan hubungan dua arah antara harga beras dan daging ayam: masing-masing memengaruhi yang lain.
Mengapa ini penting bagi masyarakat awam? Karena mengetahui pola-pola ini membantu semua orang untuk bersiap. Pemerintah dapat menimbun beras ketika harga diprediksi akan naik. Petani dan pedagang dapat merencanakan dengan lebih baik. Konsumen dapat menyesuaikan pengeluaran mereka sebelum terjadi lonjakan harga.
Model VECM terbukti sangat andal. Kesalahan prediksinya berada di bawah 1% untuk ketiga komoditas tersebut: hanya 0,267% untuk beras, 0,738% untuk daging ayam, dan 0,857% untuk minyak goreng. Tingkat akurasi ini berarti bahwa para pembuat kebijakan, produsen, dan bahkan pedagang kecil dapat menggunakan perkiraan ini untuk membuat keputusan yang lebih cerdas, seperti membangun cadangan, menstabilkan harga pakan, atau mengelola pasokan minyak goreng. Di negara di mana harga pangan dapat memicu keresahan sosial, memiliki sistem peringatan dini yang andal bukan hanya bermanfaat, tetapi juga sangat penting. Ternyata, matematika dapat membantu menjaga stabilitas meja makan Anda.
Penulis: Sediono
Link





