Universitas Airlangga Official Website

Rahasia Udara Bersih: Apa yang Diungkap Angin dan Kelembapan di Indonesia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Indonesia menyandang predikat yang kurang menguntungkan: negara paling tercemar di Asia Tenggara, dengan tingkat PM2.5 mencapai 34,3, jauh di atas ambang batas yang dianggap sehat. Meskipun kita sering menyalahkan kemacetan lalu lintas dan asap pabrik, sebuah studi ilmiah baru mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan: udara yang Anda hirup sangat bergantung pada angin, kelembapan, dan bahkan provinsi tetangga. Para peneliti dari Universitas Airlangga telah menemukan bahwa kualitas udara bukan hanya masalah lokal tetapi juga percakapan regional yang tertulis di langit.

Bayangkan polusi udara seperti asap dari barbekyu tetangga. Jika angin bertiup ke arah Anda, Anda akan mencium baunya tidak peduli seberapa bersih halaman Anda sendiri. Itulah yang terjadi di 34 provinsi di Indonesia. Studi ini memetakan Indeks Kualitas Udara (AQI) di seluruh kepulauan dan menemukan pola yang jelas: provinsi yang berbatasan juga berbagi udara. DKI Jakarta, misalnya, berada di kategori “sedang” dengan nilai PM2.5 sebesar 39,2. Sementara itu, sebagian besar provinsi lain menikmati udara “baik” atau bahkan “sangat baik”. Mengapa ada perbedaan? Geografi berperan penting.

Para peneliti menggunakan regresi spasial—istilah keren untuk mengatakan “lokasi itu penting”—dan menemukan bahwa dua faktor alami memainkan peran yang sangat besar. Pertama, kelembapan udara rata-rata: ketika kelembapan meningkat sebesar 1%, AQI meningkat hampir 0,2%. Udara lembap bertindak seperti spons lembut, menangkap partikel polutan kecil dan menariknya ke tanah. Kedua, kecepatan angin rata-rata: peningkatan kecepatan angin sebesar 1% meningkatkan kualitas udara hampir 1%. Angin menyapu gas berbahaya seperti SO2, mencegahnya bertahan di atas kota. Jadi, hari yang berangin dan lembap bukan hanya menyenangkan, tetapi juga merupakan layanan pembersihan alami.

Bagaimana dengan hujan? Anehnya, curah hujan tidak menunjukkan efek yang signifikan. Studi tersebut menjelaskan bahwa hujan hanya membersihkan partikel yang lebih besar (10 mikrometer atau lebih besar). Tetapi bahaya sebenarnya berasal dari partikel PM2.5 yang lebih kecil dari 2,5 mikrometer. Tetesan hujan hampir tidak menyentuhnya. Partikel-partikel tersebut tetap melayang, berpindah dari provinsi ke provinsi, dan bersarang jauh di dalam paru-paru manusia.

Namun, musuh yang paling jelas adalah kendaraan bermotor. Peningkatan 1% dalam persentase kendaraan bermotor menurunkan AQI hampir 0,48%. Lebih banyak mobil berarti lebih banyak emisi gas buang, dan lebih banyak emisi gas buang berarti lebih banyak PM2.5. Temuan ini menegaskan apa yang sudah dicurigai banyak warga perkotaan Indonesia: kemacetan bukan hanya frustrasi sehari-hari; tetapi juga risiko kesehatan sehari-hari.

Penelitian ini menawarkan peringatan sekaligus solusi. Model statistik terbaik ternyata adalah “model regresi kesalahan spasial,” yang mengasumsikan bahwa polusi di satu provinsi terkait dengan kesalahan atau kejutan polusi dari daerah tetangga. Sederhananya: udara tidak mengenal batas. Itu berarti kebijakan pemerintah tidak dapat bekerja secara terisolasi. Mengurangi kendaraan di Jakarta tidak akan sepenuhnya berhasil jika Jawa Barat atau Banten tertinggal. Demikian pula, melindungi koridor angin alami dan memelihara ruang hijau yang mendukung kelembapan bukanlah “hal yang baik untuk dimiliki,” melainkan alat kesehatan masyarakat yang penting.

Penulis: Suliyanto

Artikel lengkap:

https://pubs.aip.org/aip/acp/article-abstract/3326/1/080015/3382196/Air-quality-index-modelling-in-Indonesia-based-on?redirectedFrom=fulltext