Universitas Airlangga Official Website

CEO dengan Latar Belakang STEM dan Penghindaran Pajak: Bukti dari Perusahaan Berkelanjutan Teratas

Ilustrasi CEO (foto: Talenta)

Penelitian ini mengkaji hubungan antara latar belakang pendidikan CEO di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dan kecenderungan mereka melakukan praktik penghindaran pajak, khususnya pada perusahaan-perusahaan berkelanjutan terbaik. Menggunakan teori Upper Echelon, studi ini menyoroti bahwa karakteristik pribadi seorang CEO, seperti latar belakang pendidikan, dapat memengaruhi keputusan strategis perusahaan, termasuk strategi fiskal. Sampel penelitian terdiri dari 862 perusahaan global yang termasuk dalam daftar top ESG menurut penilaian Sustainalytics tahun 2022. Data latar belakang pendidikan CEO dikumpulkan secara manual dari laporan tahunan, sementara data keuangan diperoleh dari basis data OSIRIS.

Penelitian ini menggunakan Effective Tax Rate (ETR) sebagai indikator penghindaran pajak—semakin rendah nilai ETR, semakin tinggi indikasi penghindaran pajak. Hasil utama menunjukkan bahwa CEO dengan latar belakang pendidikan STEM secara signifikan lebih cenderung melakukan penghindaran pajak dibanding CEO non-STEM. Temuan ini tetap konsisten setelah dilakukan uji robustnes melalui Wu-Hausman test, Coarsened Exact Matching (CEM), dan pendekatan Two-Stage Least Squares (2SLS) untuk mengatasi potensi endogenitas.

Analisis tambahan menunjukkan bahwa hubungan antara STEM CEO dan penghindaran pajak lebih menonjol pada perusahaan yang berada di negara maju, di lingkungan dengan sistem perpajakan yang efisien, serta di perusahaan yang memiliki tingkat pengeluaran R&D (riset dan pengembangan) tinggi. Di negara non-G7, di mana sistem regulasi cenderung lebih longgar, STEM CEO juga menunjukkan pengaruh yang lebih kuat dalam mendorong strategi penghindaran pajak. Temuan ini mengindikasikan bahwa CEO berlatar belakang STEM, dengan orientasi kuat pada efisiensi dan inovasi, cenderung melihat penghindaran pajak sebagai sarana untuk mengalokasikan dana pada aktivitas produktif seperti R&D. Ironisnya, meskipun perusahaan-perusahaan ini dikategorikan sebagai berkelanjutan dan etis, praktik penghindaran pajak tetap terjadi secara signifikan, menimbulkan pertanyaan etis terkait keselarasan antara citra keberlanjutan dan praktik fiskal mereka.

Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam literatur perpajakan dan teori Upper Echelon, serta menjadi peringatan bagi investor dan pemangku kepentingan bahwa status ESG tinggi tidak selalu mencerminkan praktik keuangan yang sepenuhnya etis. Studi ini juga memiliki implikasi kebijakan, yakni pentingnya regulasi yang mewajibkan transparansi pajak dalam laporan keberlanjutan. Pemerintah di negara maju disarankan untuk menyederhanakan sistem perpajakan guna menutup celah yang bisa dimanfaatkan untuk penghindaran pajak. Kedepannya, penelitian lebih lanjut disarankan untuk mengeksplorasi strategi penghindaran pajak spesifik yang dilakukan oleh eksekutif berlatar belakang STEM dan memperluas periode pengamatan agar menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif.

Author(s): Atikah Azmi Ridha Paramayuda; Ummi Junaidda Hashim; Iman Harymawan

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

https://scholar.unair.ac.id/en/publications/stem-ceos-and-tax-avoidance-evidence-from-top-sustainable-compani