Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

COVID-19 belum benar-benar pergi: Akankah kembali lagi?

11 Views•5 minutes read

Kita sudah melepas masker. Sudah kembali bepergian, berkumpul, dan menjalani hidup seperti sebelum pandemi. Tetapi, apakah virusnya benar-benar pergi?

Ada masa ketika selembar masker terasa lebih penting daripada dompet. Ketika batuk kecil membuat kita saling curiga. Ketika berjabat tangan terasa seperti sebuah kemewahan dan pelukan harus ditunda demi keselamatan.

Pandemi COVID-19 pernah mengubah cara manusia menjalani kehidupan. Jutaan orang terinfeksi, jutaan keluarga kehilangan orang yang mereka cintai, sementara dunia dipaksa berhenti sejenak untuk menghadapi sesuatu yang bahkan tidak dapat dilihat dengan mata.

Kini, sebagian besar kenangan itu terasa semakin jauh. Namun, SARS-CoV-2—virus penyebab COVID-19—belum benar-benar pergi.

Lalu muncul pertanyaan yang mungkin kembali menghantui sebagian orang: ’akankah COVID-19 mengalami rebound?’ Jawabannya, kemungkinan peningkatan kasus tetap ada. Namun, rebound tidak selalu berarti kita akan kembali ke masa-masa paling gelap pandemi.

Virus yang Pandai Beradaptasi

SARS-CoV-2 bukan virus yang diam. Ia terus bereplikasi dan mengalami perubahan genetik. Dari proses tersebut dapat muncul varian baru dengan karakteristik yang berbeda. Perubahan pada virus dapat memengaruhi cara virus menyebar dan berinteraksi dengan sistem kekebalan manusia. Ketika suatu varian memiliki keuntungan tertentu, varian tersebut dapat menyebar lebih luas dibandingkan varian sebelumnya. Namun, ada satu hal yang sering dilupakan, yaitu virus yang lebih mudah menular tidak otomatis lebih mematikan.

Dampak sebuah gelombang COVID-19 ditentukan oleh banyak faktor. Selain sifat virus, kita juga harus melihat tingkat kekebalan masyarakat, usia dan kondisi kesehatan orang yang terinfeksi, serta kemampuan sistem kesehatan dalam memberikan perawatan. Karena itu, ketika kasus mulai meningkat, kita tidak cukup hanya melihat angka positif. Kita juga perlu bertanya: apakah rumah sakit mulai penuh? Apakah angka kematian meningkat? Kelompok masyarakat mana yang paling terdampak?

Kita Berubah, Virus Juga Berubah

Ada perbedaan besar antara manusia pada awal pandemi dan manusia sekarang. Ketika SARS-CoV-2 pertama kali muncul, sistem kekebalan sebagian besar penduduk dunia belum pernah berhadapan dengan virus tersebut. Kini situasinya berbeda. Banyak orang telah memperoleh kekebalan melalui vaksinasi, infeksi sebelumnya, atau kombinasi keduanya.

Tetapi kekebalan bukanlah sebuah tembok yang selamanya tidak dapat ditembus. Perlindungan terhadap infeksi dapat berkurang seiring waktu. Virus pun terus mengalami perubahan. Akibatnya, seseorang yang pernah terkena COVID-19 atau telah mendapatkan vaksin tetap dapat mengalami infeksi ulang.

Namun, infeksi ulang tidak selalu berarti penyakit berat. Sistem kekebalan manusia memiliki beberapa lapisan pertahanan. Respons imun yang telah terbentuk sebelumnya dapat membantu tubuh menghadapi virus dengan lebih baik, terutama dalam mengurangi risiko penyakit berat pada banyak orang. Inilah salah satu alasan mengapa kondisi saat ini tidak dapat disamakan begitu saja dengan awal pandemi.

Rebound Tidak Harus Menjadi Pandemi Kedua

Kata ’rebound’ terdengar menakutkan. Seolah-olah begitu kasus meningkat, kita akan kembali pada antrean panjang di rumah sakit, pembatasan aktivitas, dan suasana penuh kecemasan. Padahal, tidak selalu demikian. Peningkatan kasus penyakit menular dapat terjadi tanpa berkembang menjadi bencana kesehatan global. COVID-19 dapat mengalami gelombang infeksi ketika varian tertentu lebih mudah menyebar, kekebalan terhadap infeksi menurun, atau aktivitas masyarakat meningkat.

Kondisi lingkungan juga dapat memainkan peran. Pertemuan dalam ruangan dengan ventilasi buruk, misalnya, dapat meningkatkan peluang penularan berbagai virus pernapasan. Karena itu, kita perlu belajar membedakan antara kenaikan kasus dan krisis kesehatan. Keduanya bukan hal yang sama.

Di Balik Angka, Ada Manusia

Di tengah pembicaraan mengenai angka kasus dan varian, kita kadang tidak ingat bahwa statistik sebenarnya adalah kumpulan manusia. Satu angka kematian berarti ada keluarga yang kehilangan seseorang. Satu pasien yang dirawat di rumah sakit berarti ada seseorang yang mungkin sedang berjuang untuk kembali bernapas dengan normal.

Tidak semua orang menghadapi COVID-19 dengan risiko yang sama. Lansia dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu dapat menghadapi risiko penyakit berat yang lebih tinggi.

Karena itu, kehidupan setelah pandemi bukan berarti kita harus melupakan COVID-19 sepenuhnya. Kita justru perlu belajar hidup dengan kewaspadaan yang lebih proporsional. Bukan kembali hidup dalam ketakutan. Bukan pula menganggap virus itu sudah tidak ada.Tetapi berada di tengah-tengah, waspada tanpa panik.

Pertanyaan yang Lebih Penting

Mungkin pertanyaan ‘Apakah COVID-19 akan kembali?’ bukanlah pertanyaan yang paling penting. Sebab, virusnya sebenarnya belum benar-benar pergi. Pertanyaan yang lebih penting adalah, jika kasus kembali meningkat, apakah kita siap?

Kesiapan itu bukan hanya soal menyediakan tempat tidur rumah sakit. Ia mencakup pemantauan varian, sistem surveilans yang baik, vaksinasi sesuai rekomendasi kesehatan, akses terhadap pengobatan, komunikasi publik yang transparan, serta kesadaran masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala penyakit.

Pandemi telah mengajarkan bahwa kesehatan seseorang tidak sepenuhnya menjadi urusan dirinya sendiri. Keputusan sederhana, seperti tidak memaksakan diri datang ke tempat ramai ketika sedang sakit, dapat membantu melindungi orang lain.

Kita Tidak Bisa Menebak Masa Depan, tetapi Bisa Bersiap

Tidak ada yang dapat memastikan kapan atau seberapa besar gelombang COVID-19 berikutnya akan terjadi. Virus terus berevolusi, sementara perilaku manusia dan tingkat kekebalan masyarakat juga berubah. Yang dapat kita lakukan adalah memantau perkembangan berdasarkan bukti ilmiah dan tidak mudah terjebak dalam dua ekstrem, ketakutan berlebihan atau rasa aman yang berlebihan.

COVID-19 mungkin akan terus menjadi bagian dari kehidupan manusia, seperti sejumlah penyakit pernapasan lainnya. Sesekali kasus dapat meningkat, kemudian menurun kembali. Mungkin inilah bentuk ’kehidupan setelah pandemi’ yang sesungguhnya, bukan dunia tanpa COVID-19, melainkan dunia yang lebih siap menghadapi COVID-19.

Kita telah melewati masa ketika sebuah virus membuat dunia berhenti.

Kini, tantangannya adalah memastikan bahwa jika suatu hari ia kembali mengetuk pintu, kita tidak lagi menyambutnya dengan kepanikan, melainkan dengan ilmu pengetahuan, kesiapsiagaan, dan kepedulian terhadap sesama. Karena pandemi mungkin berakhir, tetapi pelajarannya seharusnya tidak pernah berakhir.

Penulis: Yetti Hernaningsih

Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://he01.tci-thaijo.org/index.php/bulletinAMS/article/view/284005

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top