Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Korelasi Kadar hs-CRP dan Duke Treadmill Score (DTS): Biomarker Inflamasi Kaskade Aterosklerosis sebagai Alternatif Stratifikasi Risiko Kardiovaskular

16 Views•3 minutes read

Stratifikasi risiko kardiovaskular merupakan tahapan krusial dalam pilar pencegahan primer penyakit jantung koroner guna mengidentifikasi individu berisiko tinggi sebelum terjadinya fase akut. Secara klinis, prosedur uji latih jantung beban (cardiac exercise stress test) menggunakan Duke Treadmill Score (DTS) menjadi salah satu modalitas prognostik yang valid dan banyak diterapkan. Namun, uji latih fisik ini memiliki keterbatasan aplikatif pada populasi pasien tertentu, seperti penderita gangguan mobilitas, artritis berat, penyakit vaskular perifer, dan kelainan neurologis. Selain itu, modalitas ini juga membawa risiko komplikasi subklinis, termasuk induksi infark miokard akut dan blok cabang berkas kiri (left bundle branch block). 

Oleh karena itu, diperlukan parameter laboratorium alternatif yang bersifat non-invasif namun memiliki nilai prediktif independen yang kuat. High-sensitivity C-reactive protein (hs-CRP) hadir sebagai biomarker protein fase akut yang mencerminkan intensitas inflamasi vaskular sistemik pada proses pembentukan serta instabilitas plak aterosklerosis. 

Studi kuantitatif ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Penelitian melibatkan 40 subjek yang menjalani uji latih jantung di Rumah Sakit Universitas Airlangga dan Laboratorium Telkom di Surabaya. 

  • Pemeriksaan hs-CRP: Sampel darah vena dianalisis menggunakan metode imunoturbidimetri otomatis melalui instrumen TMS 24i Premium Tokyo Boeki. 
  • Kalkulasi DTS: Subjek menjalani uji latih beban menggunakan Protokol Bruce di bawah supervisi kardiolog. Skor DTS dihitung berdasarkan formula standar yang mengintegrasikan durasi total latihan, deviasi segmen ST pada elektrokardiogram (EKG), dan indeks angina. 

Karakteristik subjek didominasi oleh kelompok usia produktif (rerata 43 tahun), berjenis kelamin laki-laki (60%), dan mengalami peningkatan kadar kolesterol LDL (92,5%). Berdasarkan hasil analisis laboratorium, ditemukan rerata kadar hs-CRP sebesar 6,04 ± 9,79 mg/L, sedangkan rerata skor DTS berada pada angka -5,13 ± 9,3. 

Uji statistik Spearman Rank menunjukkan adanya korelasi negatif yang sangat kuat dan signifikan antara kadar serum hs-CRP dengan nilai DTS, dengan nilai koefisien korelasi (𝜌) = -0,85 dan signifikansi p < 0,001. Hubungan berbalik nilai ini mengindikasikan bahwa setiap peningkatan konsentrasi hs-CRP di dalam serum akan diikuti oleh penurunan skor DTS secara linear. Lebih lanjut, ketika subjek dikelompokkan ke dalam stratifikasi risiko (rendah, sedang, tinggi), tingkat keselarasan (concordance rate) interpretasi antara parameter biokimia hs-CRP dan parameter fungsional DTS mencapai 80%. 

Hubungan linear negatif antara hs-CRP dan kapasitas fungsional jantung (DTS) dapat dijelaskan melalui mekanisme disfungsi endotel yang dipicu oleh inflamasi kronis. Peningkatan kadar hs-CRP menstimulasi produksi molekul adhesi vaskular dan radikal bebas (reactive oxygen species), yang secara langsung menurunkan bioavailabilitas nitrat oksida pada sel otot polos pembuluh darah. Ketiadaan sekresi  yang adekuat mengganggu regulasi tonus vaskular dan membatasi cadangan aliran darah koroner (coronary flow reserve) saat terjadi peningkatan kebutuhan metabolik miokardium selama aktivitas fisik. Kegagalan dilatasi arteri koroner ini memicu iskemia miokard yang bermanifestasi sebagai depresi segmen ST atau gejala angina pada EKG uji latih jantung, yang secara otomatis menurunkan akumulasi skor DTS pasien. 

Studi ini menyimpulkan bahwa kuantifikasi kadar hs-CRP memiliki validitas prediktif yang tinggi dalam merepresentasikan kapasitas performa jantung dan stratifikasi risiko kardiovaskular pasien. Biomarker hs-CRP dapat direkomendasikan secara klinis sebagai modalitas laboratorium alternatif yang efektif, ekonomis, dan aman untuk menggantikan atau menapis awal pemeriksaan uji latih jantung (treadmill test), terutama pada populasi pasien yang memiliki kontraindikasi fisik maupun keterbatasan akses medis.

Penulis : Muhamad Robiul Fuadi

Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://journal.iha.org.ir/article_242139.html

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top