Universitas Airlangga Official Website

Dampak Faktor Lingkungan dan Perilaku Terhadap Kejadian Demam Berdarah di Indonesia

Infeksi demam berdarah diperkirakan terjadi 390 juta kali dalam setahun, dimana 96 juta di antaranya menimbulkan gejala akibat meningkatnya kejadian infeksi Dengue Virus (DENV). Selain itu, diperkirakan ada 565.900 cacat dan 9.110 kematian pada tahun 2013 karena infeksi virus dengue. Jumlah kasus demam berdarah di Indonesia mencapai 143.000 pada akhir tahun 2022, dengan Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah memiliki jumlah kasus demam berdarah tertinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui variabel risiko yang mempengaruhi kejadian demam berdarah dengue  di Indonesia, termasuk keberadaan larva, praktik menggantung pakaian, dan gerakan 3M. Keunikan dari penelitian ini adalah peneliti berusaha mensintesis data dari semua penelitian yang dilakukan antara tahun 2015 dan 2023 untuk menguji hubungan antara variabel yang mempengaruhi kejadian demam berdarah dengue  .

Penelitian ini menggunakan Metode Meta Analisis dengan teknologi PICOS. Beberapa sumber informasi yang digunakan termasuk Google Scholar, Research Gate, dan Plos ONE, dengan bantuan kata kunci seperti “Faktor lingkungan” dan “Perilaku.” 193 artikel diperoleh, 151 artikel berasal dari Google Scholar, 37 artikel dari Research Gate, dan 5 artikel dari Plos ONE. Artikel yang diperoleh disaring menggunakan kriteria inklusi seperti artikel yang memiliki tabel 2×2, dan membahas demam berdarah dan perilaku dengan jumlah artikel terpilih sebanyak 21. Pada tahap penyaringan, peneliti menggunakan desain penelitian cross sectional. Aplikasi JASP versi 0.16.3.0 digunakan untuk memproses data meta-analisis.

Temuan utama menunjukkan bahwa kebiasaan menggantung pakaian memiliki risiko  2,386 lebih tinggi sebagai penyebab demam berdarah dengue,  dengan nilai OR yang dikumpulkan sebagai berikut e0,87 = 2,386 (CI 95% 0,17-1,57). Ketika nyamuk bertelur, mereka lebih suka tempat basah dan gelap. Di kamar di mana lebih banyak pakaian digantung, akan ada peningkatan sarang nyamuk,  dalam hal ini, sangat penting untuk mengetahui tentang pencegahan demam berdarah, terutama kebiasaan menggantung pakaian, agar dapat menekan pertumbuhan populasi nyamuk.

Keberadaan larva memiliki risiko 2,075 untuk demam berdarah dengan nilai gabungan sebagai berikut: e0,73 = 2,075 (CI 95% 0,12-1,33). Perkembangan larva nyamuk secara langsung dipengaruhi oleh parameter seperti suhu dan salinitas. Telur nyamuk Aedes aegypti akan menetas jika air memiliki pH yang tepat, salinitas oksigen terlarut dan suhu. Suhu air di mana nyamuk Aedes aegypti berkembang biak berkisar antara 26,50C hingga 29,30C.

Gerakan 3 M memiliki risiko 0,406 untuk kejadian demam berdarah dengan nilai gabungan sebagai berikut e-0,90 = 0,406 (CI 95% -1,66-0,15). Meskipun Gerakan 3 M mempunyai risiko yang paling kecil diantara variable lainnya, Kegiatan ini sangat dibutuhkan dengan melakukan pengurasan tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, mengubur barang bekas. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi tempat breeding places nyamuk Aedes aegypti.

Kesimpulannya adalah Terdapat pengaruh kebiasaan menggantung pakaian, adanya larva dan gerakan 3M terhadap kejadian demam berdarah dengue.  Kebiasaan menggantung pakaian merupakan faktor yang memiliki nilai risiko tertinggi di antara ketiga faktor penelitian tersebut. Dengan temuan tersebut, dapat direkomendasikan untuk tidak menggantung pakaian dan alternatifnya adalah melipat pakaian dan menyediakan tempat pakaian kotor yang didesinfeksi agar tidak menjadi sarang nyamuk. Sedangkan untuk keberadaan jentik nyamuk dapat diberantas dengan melakukan 3 M dan rutin membersihkan genangan air yang mungkin timbul.

Penulis: R. Azizah

THE IMPACT OF ENVIRONMENTAL AND BEHAVIORAL FACTORS ON THE INCIDENCE OF DENGUE HEMORRHAGIC FEVER IN INDONESIA: META-ANALYSIS

https://jurnal.poltekkespalu.ac.id/index.php/JIK/article/view/3133