Dari Ide ke Produk, UNAIR Dorong Lahirnya Technopreneur Muda di SMKN 1 Singgahan Tuban

96 Views•5 minutes read

UNAIR NEWS – Perkembangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 membawa tantangan sekaligus peluang bagi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Di era ini, penguasaan keterampilan teknis saja tidak lagi cukup. Siswa juga perlu mengembangkan pola pikir kreatif dan inovatif, kemampuan memecahkan masalah, serta jiwa kewirausahaan berbasis teknologi agar mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi. Siswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) dan Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB) sejatinya telah memiliki bekal kompetensi dalam desain dua dimensi (2D) dan tiga dimensi (3D).

Namun, kemampuan tersebut masih perlu diperkuat agar dapat menjawab kebutuhan dunia usaha dan industri yang semakin dinamis, khususnya dalam menghasilkan produk inovatif sesuai kebutuhan pasar. Pengenalan terhadap pendekatan pengembangan produk yang berpusat pada pengguna (user-centered innovation) serta teknologi manufaktur digital menjadi langkah penting untuk menjembatani kesenjangan tersebut.

Berangkat dari kebutuhan itu, Program Studi Fisika, Departemen Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di SMKN 1 Singgahan, Kabupaten Tuban, pada Selasa (20/10/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk mendorong siswa mengembangkan kreativitas dan keterampilan teknis menjadi inovasi produk yang berpotensi memiliki nilai ekonomi, sekaligus menumbuhkan jiwa technopreneur muda yang siap menghadapi tantangan dunia industri.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini diwujudkan melalui pelatihan design thinking, desain produk, dan teknologi 3D printing yang diikuti oleh 15 siswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV), 15 siswa jurusan Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), serta sejumlah guru. Pelatihan ini diharapkan menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas, mengasah kemampuan memecahkan masalah, dan menerjemahkan ide menjadi produk nyata yang berpotensi memiliki nilai ekonomi.

Untuk memperkuat pemahaman siswa, kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dengan materi yang saling melengkapi. Prof Dr Imron Mawardi MSi menyampaikan materi “Prinsip Dasar Technopreneur–Design Thinking dan Desain Produk”. Dalam materinya, ia menekankan pentingnya membangun pola pikir kewirausahaan yang bertumpu pada kreativitas, inovasi, dan pemahaman terhadap kebutuhan pengguna.

Melalui pendekatan design thinking, siswa diperkenalkan pada proses mengenali persoalan di lingkungan sekitar, mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, merumuskan berbagai alternatif solusi, hingga menyusun rancangan produk yang berpotensi memberikan manfaat nyata. Inovasi dapat tumbuh dari kepekaan dalam melihat persoalan sehari-hari dan keberanian menawarkan solusi yang lebih efektif. Dengan demikian, kompetensi kejuruan yang dimiliki siswa dapat menjadi titik awal untuk mengembangkan gagasan usaha yang relevan dengan kebutuhan pasar.

Siswa sedang mengamati proses pencetakan 3D printer (Foto: Istimewa)

Perspektif tersebut diperkuat oleh Prof Dr Aminatun Ir MSi melalui materi “Teknologi 3D Printing: dari Ide Digital menjadi Produk Nyata bagi Technopreneur Muda SMK”. Teknologi 3D printing diperkenalkan sebagai metode manufaktur modern yang memungkinkan desain digital diwujudkan menjadi objek fisik melalui proses pencetakan secara bertahap dan berlapis. Teknologi ini memberikan peluang bagi siswa untuk mengembangkan prototipe, mengevaluasi bentuk dan fungsi desain, serta menyempurnakan produk berdasarkan kebutuhan calon pengguna. Dalam pengembangan kewirausahaan berbasis teknologi (technopreneurship), kemampuan tersebut menjadi bekal penting. Sebuah gagasan produk perlu melalui proses perancangan, pembuatan prototipe, pengujian, dan penyempurnaan sebelum dipasarkan.

Antusiasme peserta terlihat jelas selama pelatihan berlangsung. Rasa ingin tahu siswa terhadap proses pencetakan dan hasil akhir desain tiga dimensi yang mereka buat menjadi daya tarik tersendiri. Pengalaman mengubah rancangan digital menjadi produk nyata tidak hanya memberikan pemahaman praktis, tetapi juga menumbuhkan ketertarikan mereka untuk mendalami teknologi 3D printing. Bahkan, para peserta berharap pelatihan serupa dapat dilanjutkan dengan materi yang lebih mendalam agar mereka semakin terampil memanfaatkan teknologi ini untuk mengembangkan ide kreatif menjadi produk inovatif yang berpotensi memiliki nilai ekonomi.

Lebih dari sekadar meningkatkan keterampilan teknis, kegiatan ini mencerminkan peran perguruan tinggi dalam menghubungkan pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Inisiatif tersebut juga sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs) serta implementasi program flagship Universitas Airlangga.

Dari sisi pendidikan, kegiatan ini berkontribusi terhadap SDGs Poin 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education), melalui penguatan kompetensi siswa agar selaras dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masa depan. Pelatihan design thinking, desain produk, dan 3D printing memadukan pemahaman konsep dengan praktik langsung. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam menghadapi perubahan dunia kerja sekaligus mendorong lahirnya inovasi dari lingkungan pendidikan vokasi.

Keterkaitan dengan SDGs Poin 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth) juga menjadi aspek penting dalam kegiatan ini. Pengenalan technopreneurship diharapkan dapat memperluas wawasan siswa mengenai peluang usaha berbasis teknologi, mulai dari pengembangan produk inovatif hingga pemanfaatan potensi ekonomi lokal melalui perintisan usaha mandiri, pengembangan UMKM, maupun usaha komunitas yang berpotensi membuka lapangan kerja baru.

Pada tingkat institusi, kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi program flagship UNAIR melalui AIRGROW (Airlangga Initiative for Resilient Growth and Work Opportunities), yang antara lain diarahkan pada akselerasi UMKM dan usaha komunitas siswa SMK untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta penciptaan kesempatan kerja lokal. Pada akhirnya, kolaborasi perguruan tinggi dan SMK seperti ini perlu terus diperkuat agar penguasaan teknologi dapat menjadi modal bagi tumbuhnya inovasi dan kewirausahaan di kalangan generasi muda.

Salah satu langkah konkret dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini adalah penyerahan hibah alat 3D printer yang diterima langsung oleh Ibu Rina Wijayanti, S.Pd., M.M selaku kepala SMKN 1 Singgahan. Dukungan sarana tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan siswa untuk mengenal dan memanfaatkan teknologi manufaktur digital, sekaligus menjadi modal awal bagi pengembangan pembelajaran berbasis inovasi dan kewirausahaan di lingkungan pendidikan vokasi. Dengan pendampingan berkelanjutan, siswa berpeluang mengembangkan produk yang relevan dengan kebutuhan lokal, membentuk kelompok usaha, dan membangun jejaring dengan UMKM maupun dunia industri.

Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan memberikan manfaat yang melampaui ruang kelas dan laboratorium. Penguatan kompetensi siswa melalui pendidikan berkualitas dapat menjadi fondasi bagi tumbuhnya technopreneur muda. Sementara pengembangan usaha berbasis teknologi dapat membuka peluang kerja dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi lokal. Sinergi antara SDGs  4, SDGs 8 dan program AIRGROW menegaskan bahwa pendidikan vokasi, inovasi teknologi, dan kewirausahaan merupakan tiga elemen penting dalam menyiapkan generasi muda yang produktif, mandiri, dan mampu menciptakan peluang ekonomi bagi lingkungannya.

Penulis: Prof Dr. Aminatun Ir MSi

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top