Peningkatan kemajuan industri di Indonesia dari tahun ke tahun, selain memberikan dampak positif berupa peningkatan lapangan kerja, peningkatan transportasi dan komunikasi serta peningkatan taraf hidup, juga berpotensi besar sebagai sumber pencemaran lingkungan berupa limbah industri. Salah satu limbah industri yang menjadi sumber pencemar lingkungan yang paling berbahaya adalah logam berat, seperti merkuri.
Merkuri terdiri dari tiga bentuk utama yaitu merkuri elemental, merkuri organik, dan merkuri anorganik. Metilmerkuri adalah salah satu bentuk organomerkuri yang paling populer dan merupakan senyawa merkuri yang paling beracun. Kasus keracunan metilmerkuri pernah menjadi berita besar setelah perang dunia kedua di Jepang pada tahun 1950-an yang dikenal dengan penyakit Minamata. Ini melibatkan 700 kasus keracunan dan lebih dari 70 kematian.
Di Indonesia, kandungan Merkuri ditemukan di beberapa sungai khususnya di Jawa Timur telah melebihi ambang batas yang ditetapkan pemerintah (0,001 ppm). Penelitian yang dilakukan oleh Shovitri et al. (2010), menunjukkan kadar merkuri pada tahun 2009 di bagian tengah sedimen di Kalimas Surabaya sebesar 0,105 ppm dan meningkat pada tahun 2011 di bagian hilir sedimen di Kalimas sebesar 6,3 ppm.
Jalur utama paparan methylmercuri adalah melalui organisme laut yang sering dikonsumsi oleh manusia dan hewan. Metilmerkuri sangat mudah diserap oleh tubuh melalui saluran pencernaan, masuk ke sirkulasi dan dengan cepat didistribusikan ke seluruh sistem organ termasuk sistem reproduksi. Merkuri telah terbukti menyebabkan kerusakan pada sistem reproduksi pria dan dapat mengakibatkan tingginya tingkat infertilitas pada penduduk. Metilmerkuri menyebabkan perubahan morfologi tubulus seminiferus, degenerasi dan disosiasi sel spermatogenik.
Dau Kelor (Moringa oleifera) dikenal memiliki banyak aktivitas farmakologis seperti antimikroba, antiinflamasi, antikanker, antihepatotoksik, antioksidan, kardiovaskular, antiepilepsi, antiasma, antidiabetes, antiurolitik, diuretik, anthelmintik, antiulkus, penyembuhan luka, analgesik, depresan SSP, dan aktivitas anti kanker. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor dapat mencegah toksisitas testis dari alkohol dan paparan kromium. Pemberian ekstrak daun kelor juga menunjukkan susunan normal sel germinal, sel Sertoli, sel Leydig dengan peningkatan sel spermatid pada paparan merkuri klorida.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun kelor dalam mengurangi kerusakan tubulus seminiferus testis mencit (Mus musculus) yang dipapar metilmerkuri. Mencit jantan sebanyak 20 ekor dibagi menjadi lima kelompok (C-, C+, T1, T2, T3) dan diberi perlakuan selama 21 hari. C- diberi aquadest 0,01 ml, C+ diberi metil merkuri 0,4 mg/Kg, T1 diberi ekstrak daun kelor 200 mg/Kg + metil merkuri 0,4 mg/Kg, T2 diberi 400 mg/Kg ekstrak daun kelor + 0,4 mg/Kg bb methylmercury, dan T3 diberi 800 mg/Kg ekstrak daun kelor + 0,4 mg/Kg methylmercuri. Gambaran histopatologi tubulus seminiferus diperiksa menggunakan metode Modified Johnsen Scoring. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor menurunkan tingkat kerusakan tubulus seminiferus testis mencit (Mus musculus) yang terpapar metilmerkuri. Ekstrak daun kelor dengan dosis 400 mg/Kg bb memberikan efek perlindungan yang paling baik dibandingkan dengan dosis 200 dan 800 mg/Kg bb.
Penulis: Widjiati
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan dihttp://www.envirobiotechjournals.com/issue_articles.php?iid=348&jid=3





