Universitas Airlangga Official Website

Keanekaragaman Mikroalga di Beberapa Sub-Habitat yang Berbeda

Foto by Suara.com

Mikroalga merupakan golongan plankton yang memiliki klorofil sehingga mampu untuk melakukan proses fotosintesis yang menghasilkan oksigen terlarut dan bahan organik di lingkungan perairan. Proses fotosintesis terjadi pada ekosistem perairan yang dilakukan oleh mikroalga menjadi sumber energi utama bagi organisme air lainnya yang berperan sebagai konsumen, sehingga mikroalga memegang peranan yang penting bagi ekosistem perairan. Beberapa mikroalga ada yang hidup di perairan bersih dan beberapa dapat hidup di perairan yang tercemar, sehingga keberadaan mikroalga dapat dijadikan sebagai indikator kondisi kualitas dari suatu perairan. Mikroalga dapat dibedakan menjadi lima berdasarkan ukuran tubuhnya yaitu ultraplankton berukuran <5µm, nanoplankton berukuran 5µm – 50µm, mikroplankton berukuran 50µm – 500µm, mesoplankton berukuran 500µm, makroplankton berukuran 5000µm – 50.000µm, dan megaplankton dengan ukuran >50.000µm.

Plankton dari golongan mikroalga memiliki warna, dimana didominasi oleh warna hijau dikarenakan mengandung pigmen klorofil. Hal ini menyebabkan adanya warna di perairan, namun warna ini dapat berubah dikarenakan ketersediaan nutrien dan faktor lingkungan dalam perairan yang dapat mempengaruhi perubahan metabolisme dari alga. Beberapa jenis alga yang terdiri dari lima filum mikroalga yang mendiami perairan yaitu Chlorophyta (alga hijau), Chrysophyta (alga kuning), Cyanophyta (alga biru), Phyrrophyta, dan Euglenophyta atau Rhophyta.

Pada aspek keanekaragaman suatu organisme dapat diketahui melalui jenis serta jumlah jenis. Nilai keanekaragaman ditentukan berdasarkan jumlah takson yang berbeda serta keseragaman yaitu penyebaran individu pada suatu kategori sistemik, misalnya jenis. Indeks keanekaragaman memiliki fungsi utama yaitu sebagai parameter untuk mengetahui stabilitas komunitas atau gangguan yang terjadi pada faktor – faktor lingkungan maupun biotik terhadap suatu komunitas. Perairan dengan kualitas ekosistem yang baik, umumnya memiliki nilai keanekaragaman jenis yang tinggi, sedangkan pada perairan dengan nilai keanekaragamn rendah menandakan bahwa perairan tersebut memiliki kondisi kurang baik atau mengalami pencemaran.

Suhu perairan tergolong ke dalam faktor fisika air yang dapat mempengaruhi kehidupan biota perairan serta proses – proses yang terjadi pada badan air. Suhu memiliki peran sebagai pengendali kondisi dari suatu ekosistem perairan. Suhu yang semakin tinggi dapat menyebabkan semakin cepat pula perairan mengalami kejenuhan atau penurunan akan oksigen. Metabolisme serta pernafasan meningkat pada kondisi suhu tinggi, sehingga konsumsi akan oksigen meningkat dan menyebabkan kandungan oksigen mengalami penurunan. Biota perairan memiliki kisaran suhu tertentu yang optimum bagi proses pertumbuhannya. Suhu yang baik bagi pertumbuhan plankton yaitu berkisar 27 – 29,5oC. Bagi mikroalga suhu yang terlalu tinggi dari suhu optimum berpotensi merusak jaringan tubuh, sehingga proses fotosintesisnya dapat terganggu.

Derajat keasaman (pH) merupakan nilai yang menyatakan kandungan kosentrasi ion hidrogen yang ada dalam suatu larutan tertentu. Biota perairan memiliki toleransinya masing – masing terhadap pH. Pada umumnya perairan memiliki pH berkisar 6 – 9, sementara biota akuatik menyukai perairan dengan pH berkisar 7 – 8,5. Nilai pH yang optimal untuk pertumbuhan mikroalga berkisar antara 6,0 – 8,0 sementara untuk zooplankton berkisar 5,0 – 8,0. Metabolisme dan respirasi pada biota perairan termasuk plankton dapat terganggu apabila perairan memiliki derajat keasaman yang bersifat terlalu asam maupun terlalu basa. Kelangsungan hidup biota perairan dapat terancam jika nilai pH terlalu rendah dikarenakan semakin tingginya mobilitas senyawa logam yang bersifat toksik. Sementara itu, pH yang terlalu tinggi atau diatas normal dapat mengakibatkan terganggunya keseimbangan amoniak dan amonium dalam air, dimana konsentrasi amoniak yang meningkat akan bersifat sangat toksik bagi biota perairan.

Oksigen terlarut (DO) adalah salah satu unsur terpenting dalam proses metabolisme biota perairan. Ketersedian nutrien di dalam perairan dipengaruhi oleh pola distribusi jumlah oksigen terlarut. Sumber utama oksigen terlarut berasal dari proses fotosintesis seta penyerapan oksigen dari udara yang mengalami kontak dengan permukaan air. Nilai oksigen terlarut yang baik bagi perairan yaitu berkisa 5 – 7 mg/l. Sementara itu, oksigen terlarut yang optimal bagi kehidupan plankton yaitu > 3 mg/l. Biota akuatik akan mengalami kematian apabila kandungan oksigen terlaurt di perairan tersebut dibawah 2 mg/l. Oksigen terlarut akan menurun seiring dengan meningkatnya suhu dari suatu perairan. Penuurun oksigen terlarut, umumnya terjadi akibat adanya proses respirasi dari plankton.

Penulis: Luthfiana Aprilianita Sari, S.Pi., M.Si.

Sumber: Microalgae diversity in several different sub-habitats  

https://www.gjesm.net/article_249637_fa53b392a13ed5ab6bf30af8c865a45c.pdf