Universitas Airlangga Official Website

Deteksi Infeksi Chlamydia trachomatis dari Bahan Hapusan Vagina

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Infeksi menular seksual sering kali dianggap masalah sederhana yang mudah diobati. Namun, Chlamydia trachomatis justru menunjukkan wajah sebaliknya: infeksi yang sangat umum, sering tanpa gejala, tetapi dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang serius—terutama pada kesehatan reproduksi perempuan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 129 juta kasus baru chlamydia genital terjadi setiap tahun di seluruh dunia. Ironisnya, lebih dari tiga perempat kasus pada perempuan tidak menimbulkan keluhan sama sekali. Tanpa disadari, infeksi ini dapat merusak tuba falopi, menyebabkan kehamilan ektopik, penyakit radang panggul, hingga infertilitas permanen.

Masalah utama bukan hanya pada penyakitnya, tetapi pada cara kita mendeteksinya. Berbeda dengan bakteri lain, Chlamydia trachomatis adalah parasit intraseluler obligat. Artinya, ia hanya bisa hidup dan berkembang di dalam sel manusia. Bakteri ini memiliki dua bentuk kehidupan:

  • Elementary body (EB), bentuk infeksius yang masuk ke sel
  • Reticulate body (RB), bentuk yang aktif berkembang biak di dalam sel

Siklus hidup yang tersembunyi ini membuat klamidia sulit dideteksi dengan metode laboratorium konvensional. Pewarnaan biasa, pemeriksaan darah, atau kultur bakteri standar sering kali gagal menemukan keberadaannya. Inilah sebabnya banyak pasien dinyatakan “normal”, padahal infeksi terus berlangsung secara diam-diam.

Metode Diagnosis Modern: Canggih, tetapi Tidak Selalu Terjangkau

Saat ini, pemeriksaan molekuler seperti NAAT (Nucleic Acid Amplification Test)—salah satu pemeriksaan dengan teknik molekular—dianggap sebagai standar emas karena sensitivitasnya sangat tinggi. Namun, metode ini memiliki keterbatasan nyata:

  • Membutuhkan peralatan mahal dan laboratorium khusus
  • Tidak tersedia luas di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas
  • Tidak menunjukkan lokasi infeksi di jaringan
  • Berisiko hasil palsu jika sampel rusak atau terkontaminasi

Di banyak daerah, terutama negara berkembang, kondisi ini membuat diagnosis klamidia tetap menjadi tantangan besar.

Imunohistokimia: Solusi Praktis untuk Deteksi Chlamydia

Imunohistokimia (IHK) menawarkan pendekatan yang menarik. Metode ini tidak mendeteksi DNA, tetapi langsung menampilkan antigen chlamydia di dalam jaringan tubuh, menggunakan antibodi spesifik.

Keunggulan utama imunohistokimia:

  • Dapat digunakan pada jaringan yang tersimpan dalam blok parafin, yang lazim tersedia di laboratorium patologi
  • Tidak memerlukan organisme hidup atau DNA utuh
  • Hasilnya stabil dan dapat diamati dengan mikroskop cahaya biasa
  • Biaya relatif lebih terjangkau dibanding teknik molekuler

Target antigen yang paling sering digunakan adalah Major Outer Membrane Protein (MOMP), protein utama pada dinding sel klamidia yang relatif stabil dan mudah dikenali.

Dengan IHK, dokter dan patolog dapat melihat langsung “jejak” klamidia di dalam sel epitel—sebuah bukti visual yang kuat.

Lokasi Sampel Juga Menentukan

Diagnosis klamidia tidak hanya bergantung pada metode, tetapi juga lokasi pengambilan sampel.

  • Endoserviks merupakan lokasi paling ideal karena menjadi target utama infeksi klamidia
  • Sampel uretra atau vagina memang lebih mudah diambil, tetapi sensitivitasnya lebih rendah

Untuk kasus infertilitas atau gangguan reproduksi, jaringan endoserviks memberikan akurasi diagnostik terbaik, terutama bila dikombinasikan dengan IHC.

Infeksi klamidia adalah contoh klasik penyakit dengan beban besar tetapi visibilitas rendah. Tanpa diagnosis yang tepat, pasien tidak diobati, penularan terus berlangsung, dan komplikasi muncul bertahun-tahun kemudian.

Artikel jurnal ini menegaskan bahwa pendekatan diagnostik harus selaras dengan biologi patogen. Untuk bakteri yang hidup tersembunyi di dalam sel, metode yang mampu “melihat langsung” ke dalam jaringan—seperti imunohistokimia—menjadi sangat relevan.

Di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan, terutama di negara berkembang, imunohistokimia bukan sekadar alternatif, tetapi pilihan rasional dan realistis untuk mendeteksi Chlamydia trachomatis. Dengan pemilihan target antigen yang tepat, teknik yang sesuai, dan lokasi sampel yang optimal, diagnosis klamidia dapat menjadi lebih akurat dan berdampak nyata pada pencegahan infertilitas.

Artikel ilmiah popular ini daimbil dari artikel jurnal dengan judul:

Target, Technique, and Tissue: A Triple Diagnostic Lens on Chlamydia Trachomatis Detection

yang telah terbit pada jurnal:

International Journal of Scientific Advances Volume: 6 Nomer: 5 tanggal  1 November 2025, dengan penulis Sri Wahyuni, Willy Sandhika, Ashon Saadi, Lukman Nur Rahman, Imanta Alifia Octavira

Link artikel jurnal: https://www.ijscia.com/target-technique-and-tissue-a-triple-diagnostic-lens-on-chlamydia-trachomatis-detection/