Malaria hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan global. Meningkatnya resistensi terhadap obat antimalaria saat ini mendorong eksplorasi terapi alternatif. Empedu kambing merupakan bagian dari kambing yang tidak dimakan manusia karena rasanya pahit, tetapi dipercaya oleh sebagian masyarakat Indonesia secara tradisional dapat digunakan untuk meningkatkan stamina dan mengobati malaria.
Penelitian ini membahas efek cairan empedu kambing (CEK) terhadap malaria eksperimental pada hewan coba, yaitu mencit putih sebagai inang, khususnya terhadap tingkat parasitemia dan respons imun inang. Eksperimen dimulai dengan menginfeksi mencit menggunakan darah yang mengandung parasit malaria, Plasmodium berghei ANKA (Pb). Parasit malaria menyerang sel darah merah inang. Salah satu penanda adanya infeksi malaria adalah peningkatan jumlah sel darah merah yang terinfeksi malaria (parasitemia). Saat inang telah terinfeksi parasit malaria, sistem kekebalan tubuh merespons dengan meningkatkan respons imun untuk melawan infeksi. Reaksi ini diamati melalui dua penanda imunologis dalam tubuh inang, yaitu kadar IL-12 dan IL-6, karena infeksi malaria ditandai dengan peningkatan kadar IL-12. Sitokin IL-6 merupakan sitokin pleurotropik yang dapat berperan sebagai sitokin proinflamasi maupun antiinflamasi, dengan kadar yang dapat meningkat maupun menurun.
Konsentrasi CEK yang digunakan adalah CEK 50% (CEK50), yaitu CEK yang dilarutkan dalam air steril dengan volume yang sama. Penelitian sebelumnya telah melaporkan bahwa pemberian dosis tinggi CEK50 lebih baik dalam merespons infeksi dibandingkan dengan CEK dosis tinggi (CEK100) maupun doses rendah (CEK25). Oleh karena itu, CEK50 dipilih untuk memahami pengaruhnya terhadap inflamasi pada mencit yang diinfeksi Pb.
Sebanyak 50 ekor mencit dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kelompok 1 dan 2 mencit sehat yang tidak diinfeksi parasit malaria. Kelompok 1 sebagai kontrol sehat diberi air steril (KS). Kelompok 2 diberi CEK50 (S+CEK50). Kelompok 3, 4 dan 5 diinfeksi parasit malaria. Kelompok 3 diberi air steril (KPb), Kelompok 4 diberi CEK50 (Pb+CEK50), dan Kelompok 5 diberi obat antimalaria standar, yaitu dihidroartemisin-piperakuin (DHP) 187,2 mg/kg berat badan (Pb+DHP). Perlakuan diberikan sebanyak 200 µl/ekor, 1 hari sekali, selama 4 hari. Perubahan tingkat parasitemia diamati setiap hari melalui hapusan darah dari ekor mencit yang diwarnai dengan pewarnaan Giemsa. Setelah masa perlaluan selesai, mencit dibedah untuk mengambil darah dari jantung, kemudian disentrifugasi untuk memisahkan serum yang akan digunakan untuk mengukur kadar IL-12 dan IL-6 menggunakan metode ELISA.
Efek CEK50 menunjukkan bahwa kondisi fisik mencit setelah pemberian CEK50 mengalami diare ringan. Hal ini juga terjadi pada penelitian-penelitian sebelumnya yang telah melaporkan bahwa diare merupakan efek toksik dari CEK pada mencit. Pemberian CEK50 secara signifikan menurunkan tingkat parasitemia pada mencit yang terinfeksi Pb (Pb+CEK50) dibandingkan dengan kelompok terinfeksi tetapi tidak diberi CEK (KPb). Kelompok Pb+CEK50 menunjukkan penurunan persentase parasitemia pada hari ke-2 hingga mencapai 1,5 % pada hari ke-4 setelah pengobatan. Pengobatan dengan DHP menunjukkan pembersihan parasit secara total pada hari ke-4. Hal ini menunjukkan bahwa DHP merupakan obat antimalaria yang sangat poten.
Penelitian ini menunjukkan bahwa CEK50 tidak hanya memiliki aktivitas antimalaria, tetapi juga berpotensi sebagai imunomodulator. Hal ini ditunjukkan oleh mencit sehat yang diberi CEK50 (KS+CEK50) di mana kadar IL-12 sangat rendah, sedangkan IL-6 sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan mencit sehat tanpa perlakuan (kelompok KS). Temuan ini mengindikasikan bahwa komponen empedu dalam CEK50 dapat memicu sinyal peradangan ringan pada kondisi tanpa infeksi. Sebaliknya, keberadaan parasit menghasilkan profil imunomodulator yang berbeda setelah perlakuan dengan CEK50. Kelompok mencit yang diinfeksi Pb dan diberi CEK50 (Pb+CEK50) menunjukkan kadar IL-12 yang lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan kelompok terinfeksi Pb tanpa CEK50 yang menunjukkan kadar IL-12 yang sangat tinggi. Sebagai sitokin proinflamasi, kadar IL-12 yang rendah mengindikasikan peningkatan respons imun terhadap infeksi malaria karena berkurangnya persentase parasitemia oleh CEK mengakibatkan menurunnya jumlah antigen, sehingga menurun pula aktivasi makrofag dan sel dendritik setelah pemberian CEK50 dalam memproduksi IL-12 sebagai respons terhadap antigen parasit. Sebaliknya, IL-6 yang berperan baik sebagai sitokin proinflamasi maupun antiinflamasi terlihat meningkat pada kelompok Pb+CEK50 dibandingkan dengan kelompok Pb tanpa CEK. Hal ini menunjukkan bahwa IL-6 dalam penelitian ini berperan sebagai sitokin antiinflamasi dalam melawan infeksi.
Temuan ini mengindikasikan bahwa CEK50 memiliki aktivitas antimalaria tingkat sedang, dan dapat memodulasi respons imun inang selama infeksi malaria; namun, diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai mekanisme pasti yang mendasari efek tersebut.
Penulis: Heny Arwati
Informasi detail riset ini dapat diakses pada:
MJMHS. 2026. 22(S7): 10-16
https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/2026071513234702_MJMHS_0782.pdf
