Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Perilaku sebagai Pendorong Distribusi SARS-CoV-2 pada Pekerja Migran Madura Pasca Kepulangan dari Malaysia

10 Views•3 minutes read

Penelitian ini mengkaji fenomena penyebaran COVID-19 varian Delta yang terjadi di kalangan pekerja migran asal Madura yang kembali dari Malaysia. Fokus utama studi adalah untuk menguji apakah pembentukan “Klaster COVID-19 Madura” lebih disebabkan oleh faktor etnis ataukah oleh kerentanan struktural yang melekat pada status migrasi. Penelitian dilakukan selama periode April 2021 hingga Juli 2022, dengan lokus pada kamp-kamp penampungan di Malaysia yang didominasi pekerja migran Madura serta komunitas kepulangan di Pulau Madura, Indonesia. Penelitian ini melibatkan 29 informan yang terdiri dari 19 pekerja migran aktif di Malaysia dan 10 pekerja migran yang telah kembali ke Indonesia. Sebagian besar informan memiliki tingkat pendidikan rendah, umumnya hanya menyelesaikan pendidikan dasar. Pekerja laki-laki umumnya bekerja di sektor konstruksi dan perkebunan kelapa sawit, sementara pekerja perempuan bekerja di sektor domestik. Kondisi ini mencerminkan profil demografis umum pekerja migran Madura yang tidak berdokumen di Malaysia.

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa penyebaran cepat varian Delta didorong oleh tiga faktor yang saling terkait. Pertama, sikap mengabaikan protokol kesehatan yang muncul akibat rendahnya literasi kesehatan di kalangan masyarakat Madura. Banyak di antara mereka yang menganggap ancaman “virus kelaparan” lebih nyata daripada COVID-19 itu sendiri. Sikap ini diperkuat oleh pandangan bahwa ketakutan berlebihan justru dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, serta keyakinan bahwa kematian sepenuhnya merupakan kehendak Tuhan. Penolakan terhadap penggunaan masker dan penghindaran vaksinasi menjadi manifestasi nyata dari perilaku ini.

Kedua, akses terbatas terhadap layanan kesehatan di lingkungan marginal. Pekerja migran tanpa dokumen menghadapi hambatan struktural yang signifikan, termasuk ketakutan akan penangkapan dan deportasi jika mengunjungi fasilitas kesehatan. Mereka juga harus menanggung biaya medis sendiri, yang menjadi beban berat terutama ketika banyak yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi. Kondisi hunian yang padat di kamp penampungan semakin memperparah risiko penularan. Kebijakan Malaysia yang awalnya menjanjikan layanan kesehatan gratis bagi semua migran berubah menjadi penahanan bagi pekerja tanpa dokumen, menciptakan siklus ketakutan dan penghindaran layanan kesehatan.

Ketiga, meluasnya penyebaran hoaks dan infodemik melalui media sosial. Informasi keliru tentang COVID-19, termasuk anggapan bahwa virus tersebut adalah konspirasi atau bahwa rumah sakit sengaja memberi label COVID-19 untuk keuntungan finansial, tersebar luas di kalangan pekerja migran. Minimnya kemampuan menyaring informasi membuat mereka rentan terhadap narasi-narasi menyesatkan yang melemahkan kepatuhan terhadap protokol kesehatan.

Faktor penting lainnya adalah pengaruh tokoh informal seperti kyai, guru, dan orang tua dalam struktur kepemimpinan masyarakat Madura. Tokoh-tokoh ini memiliki legitimasi lebih tinggi dibandingkan pemimpin formal (rato) dan sering kali menyerukan agar masyarakat tidak takut terhadap COVID-19 serta tidak menghalangi ibadah. Seruan “Jangan takut COVID-19, hanya takut Allah” atau “Bukan COVID-19 yang menyebabkan kematian, tetapi Allah” semakin memperkuat resistensi terhadap protokol kesehatan.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembentukan “Klaster Madura” bukanlah akibat dari karakteristik etnis semata, melainkan produk dari ketidaksetaraan struktural yang mempengaruhi pekerja migran. Status tanpa dokumen, kondisi hidup yang padat, pekerjaan informal yang rentan, akses layanan kesehatan yang terbatas, dan kurangnya literasi kesehatan merupakan faktor-faktor penentu yang lebih signifikan daripada etnisitas. Pelabelan etnis dalam krisis kesehatan publik berisiko memperkuat stigma dan mengaburkan akar masalah struktural yang sesungguhnya.

Studi ini merekomendasikan perlunya pendekatan intervensi yang disesuaikan dengan karakteristik unik komunitas seperti etnis Madura, serta kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama, media, dan masyarakat dalam menangani pandemi. Pendidikan kesehatan dan peran pemimpin komunitas menjadi kunci untuk meningkatkan kesadaran di tengah masyarakat yang mempertahankan tradisi. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan desain komparatif lintas etnis dan pendekatan kuantitatif untuk mengukur hubungan antara status migrasi, literasi kesehatan, dan risiko penularan penyakit secara lebih komprehensif.

Penulis: Sri Endah Kinasih

Detail tulisan ini dapat dilihat di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/behavioral-drivers-of-sars-cov-2-distribution-post-returning-madu/

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top