Dalam ranah pendidikan vokasi, pembelajaran Bahasa Inggris mengacu pada bidang English for Specific Purposes (ESP). Dalam proses pembelajaran ini, mahasiswa mempelajari Bahasa Inggris sesuai dengan bidang ilmu masing-masing. Salah satu tantangan utama dalam proses belajar mengajar ESP adalah mengatasi kecemasan (anxiety) yang muncul dalam proses akuisisi bahasa Inggris.
Foreign Language Anxiety (FLA) atau kecemasan pembelajaran bahasa asing merupakan tekanan yang dialami mahasiswa karena mereka merasa tidak mampu dalam menerapkan ilmu kebahasaan mereka dalam dunia nyata. Penyebab utamanya adalah kurangnya pengalaman, kesulitan dalam memahami materi, perbedaan budaya, serta ketakutan akan kehilangan identitas diri. Faktor-faktor tersebut berpengaruh penting dalam keberhasilan penguasaan bahasa asing, dalam konteks ini adalah Bahasa Inggris.
Dalam perspektif umum, Psikolog mendefinisikan kecemasan sebagai “perasaan subjektif yang meliputi ketegangan, ketakutan, kegugupan, dan kekhawatiran yang terkait dengan kebangkitan sistem saraf otonom.” Dalam kelas ESP, FLA merupakan kecemasan situasional yang merupakan persepsi komplek serta perasaan dan perilaku yang berkaitan dengan proses pembelajaran bahasa. Penyebab utama FLA ini adalah Test Anxiety (Kecemasaan dalam Test), Fear of Negative Evaluation (Ketakutan menerima evaluasi negatif), dan Communicative Apprehension (kekhawatiran dalm berkomunikasi).
Tes Anxiety merupakan perasaan takut dalam menampilkan kemampuan bahasa asing. Hal ini disebabkan ekspektasi negatif dalam pembelajaran bahasa asing. Fear of Negative Evaluation adalah kecemasan untuk mendapatkan nilai jelek atau hasil yang tidak memuaskan dalam menampilkan kemampuan bahasa asing. Sementara itu, communication apprehension merupakan kekhawatiran dalam berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa asing. Perkembangan kecemasan tersebut juga dipengaruhi oleh faktor kelas, usia, jenis kelamin, dan persepsi diri.
Dalam penelitian ini, dua permasalahan utama yang ditekankan adalah domain FLA yang paling berpengaruh dan perbedaan perilaku mahasiswa ESP terhadap kecemasan. Peserta penelitian mengisi kuesioner yang berisi persepsi mereka terhadap tingkat kecemasan dalam pembelajaran ESP. Data tersebut kemudian diolah untuk mengambil kesimpulan mengenai pengaruh domain FLA dan persepsi mahasiswa terhadap kecemasan dalam pembelajaran ESP.
Dari hasil penelitian, Communication Apprehension atau kekhawatiran dalam berkomunikasi menjadi faktor utama yang menyebabkan kecemasan mahasiswa dalam kelas. Faktor ini diikuti Test anxiety dan Fear of Negative Evaluation berturut-turut. Kekhawatiran dalam berkomunikasi disebabkan oleh perasaan malu yang kemudian menjadi karakter ketakutan dalam berkomunikasi atau bercakap-cakap dengan orang lain menggunakan bahasa asing. Karena Bahasa Inggris merupakan bahasa asing di Indonesia, fenomena ini sering muncul dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris.
Dalam kelas ESP, siswa harus menguasai fitur kebahasaan dan struktur kalimat sesuai dengan profesi spesifik. Selain itu, kosa kata dan ekspresi khusus juga perlu dikuasai untuk menjelaskan topik keilmuan. Bagi mahasiswa Bisnis Administrasi, misalnya, mereka harus mampu menyampaikan informasi bisnis dan informasi terkini mengenai isu bisnis dalam bahasa Inggris. Masalah muncul saat mereka mengalami kendala dan kesulitan dalam menyampaikan pesan atau berbicara di depan publik. Dalam beberapa kasus, mereka juga mengalami kesulitan dalam memahami ujaran bahasa. Mahasiswa yang mengalami kecemasan ini umumnya memahami bahwa mereka memiliki kemampuan bahasa yang lemah. Sehingga siswa yang memiliki evaluasi negatif terhadap kemampuan bahasa mereka sendiri cenderung memiliki tingkat kemampuan bahasa yang rendah.
Kecemasan mahasiswa terhadap evaluasi negatif merupakan refleksi dari penerapan materi bahasa Inggris yang kurang terekspos. Dengan kata lain, mahasiswa cenderung memiliki sedikit pengalaman atau kurangnya latihan dalam kehidupan sehari-hari. Karena jarang menggunakan bahasa tersebut, mahasiswa cenderung kesulitan dalam praktik bahasa asing. Karena pembelajaran ESP terpusat pada komunikasi dan percakapan, mahasiswa yang memiliki kemampuan komunikasi rendah merasa kesulitan. Selain itu, mahasiswa juga mengalami kesulitan dalam berbicara di depan rekan kelompoknya karena merasa penampilan mereka dimonitor secara berkala. Dalam kasus ini, mahasiswa yang aktif berkomunikasi dalam bahasa Indonesia bisa menunjukkan sikap pasif dalam berkominakasi dalam Bahasa Inggris.
Untuk mengatasi hal tersebut, dosen atau instruktur Bahasa Inggris perlu memahami tingkat kemampuan bahasa tiap mahasiswa agar mampu memberikan panduan dan bantuan yang tepat untuk memenuhi capaian pembelajaran. Selanjutnya, perlu adanya usaha untuk meningkatkan rasa percaya diri mahasiswa melalui pembelajaran kolaboratif dan aktifitas yang menyenangkan serta tidak berorientasi pada ujian. Terakhir, dosen perlu memberikan kesempatan yang cukup agar mahasiswa mampu mempraktikan kemampuan bahasa mereka di luar kelas. Salah satunya adalah memanfaatkan media sosial dan situs daring yang bisa mereka akses kapan saja dan dimana saja.
Penulis: Lutfi Ashar Mauludin, S.Pd., M.A., M.Pd.
Judul Artikel: Investigating the Anxiety Factors among English for Specific Purposes Students in a Vocational Education setting





