Universitas Airlangga Official Website

Faktor Lingkungan yang Berhubungan dengan Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Banyuwangi, 2020-2022

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Penyakit ini merupakan masalah kesehatan global yang terus meningkat, termasuk di Indonesia. Kabupaten Banyuwangi, sebagai salah satu daerah di Indonesia, tidak luput dari risiko peningkatan kasus DBD.

Pada rentang waktu 2020-2022, Kabupaten Banyuwangi mengalami tantangan signifikan terkait peningkatan kasus DBD. Cuaca dan iklim di Kabupaten Banyuwangi dapat berkontribusi pada perkembangan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, vektor utama penyakit DBD. Perubahan iklim, suhu yang tinggi, dan curah hujan yang tidak teratur dapat menciptakan kondisi yang ideal untuk perkembangan larva nyamuk.

Sebuah studi dilakukan oleh Yudhastuti, dkk (2023) di Kabupaten Banyuwangi  yang merupakan salah satu daerah endemis DBD di Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukan bahwa  Curah hujan berkontribusi pada habitat perkembangbiakan Aedes aegypti sebagai vektor penyakit demam berdarah. Namun demikian kondisi ini tidak secara langsung mempengaruhi IR DBD.

Pengaruh Pengaruh curah hujan dapat bergantung pada jumlah curah hujan frekuensi hari hujan, geografis, kondisi fisik, dan sifat fisik, dan tipe habitat dari nyamuk Aedes aegypti. Waktu yang dibutuhkan nyamuk untuk nyamuk untuk berkembang dan menularkan virus ke manusia menyebabkan fluktuasi curah hujan secara keseluruhan tidak mempengaruhi demam berdarah pada bulan yang sama.

Intensitas curah hujan juga  perlu dipertimbangkan dalam menilai pengaruh curah hujan terhadap kasus DBD karena jika kekuatan curah hujan sangat tinggi, maka dapat menghanyutkan tempat perindukan nyamuk. Faktor DBD lain yang dinilai dalam penelitian ini adalah pencapaian desa Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). STBM adalah pendekatan melalui pemberdayaan masyarakat untuk mengubah perilaku higienis dan higienis dan perilaku sanitasi dengan melakukan pemicuan (19).

CBTS terdiri dari dari lima pilar: berhenti buang air besar sembarangan, cuci tangan cuci tangan pakai sabun, mengelola air minum dan makanan rumah tangga mengelola sampah rumah tangga, dan mengelola limbah cair rumah tangga dan mengamankan limbah cair rumah tangga. Sebuah desa dikatakan sebagai desa STBM jika telah mencapai lima pilar CTPS. Penelitian yang secara langsung  embahas hubungan antara STBM dan kasus DBD belum ditemukan.

Untuk mengendalikan dan mencegah hal ini, pemerintah harus terus meningkatkan sistem surveilans kasus DBD dan kasus DBD dan faktor-faktor terkait seperti LFI, curah hujan, desa CBTS, dan rumah sehat. desa, dan rumah sehat. Pemicuan masyarakat dapat dilakukan untuk mencegah kasus DBD, seperti seperti mengurangi tempat perindukan nyamuk, meningkatkan perilaku hidup bersih, gaya hidup sehat, dan mendukung pelaksanaan CBTS.

Penulis: Prof. Dr. Ririh Yudhastuti, drh., M.Sc.

Judul: Spatial Analysis Of Environmental Factors Related To Dengue Hemorrhagic Fever  Cases In Banyuwangi Regency, 2020-2022 DOI: 10.20473/jkl.v15i3.2023.217-225 (https://scholar.unair.ac.id/en/publications/spatial-analysis-of-environmental-factors-related-to-dengue-hemor)