Infeksi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) telah menjadi krisis kesehatan masyarakat secara global. Penyakit ini pertama kali ditemukan pada Desember 2019 di Wuhan, Cina, dan telah menginfeksi 213 negara secara cepat dengan jumlah kematian mencapai 6.78% dari jumlah infeksi yang dilaporkan. Pada bulan Maret 2020, badan Kesehatan dunia (WHO) mendeklarasikan Covid-19 sebagai pandemik global. Sebagai respon, berbagai negara memperkenalkan berbagai konsep lock down untuk memperlambat penyebaran virus. Tidak terkecuali Indonesia, yang menerapkan pembatasan mobilitas masyarakat serta mempromosikan perilaku pencegahan Covid-19 yang meliputi penggunaan masker, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, dan menjaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter.
Pada pertengahan 2021, Indonesia menghadapi gelombang kedua Covid-19 dengan adanya penyebaran virus varian Delta dan tingkat vaksinasi Covid-19 yang masih rendah dan belum merata. Gelombang kedua ini diperparah pula dengan adanya keterbatasan bidang medis (misal: terbatasnya jumlah tenaga dan fasilitas medis), dan merebaknya berita hoax serta misinformasi terkait Covid-19 yang menyebabkan tingginya angka kematian baik di rumah sakit maupun di rumah.
Perilaku manusia memiliki peranan penting dalam penyebaran virus, oleh karenanya, memahami pembentukan perilaku pencegahan Covid-19 perlu dilakukan untuk membantu memperlambat penyebaran virus. Kami mengembangkan alat ukur untuk memahami faktor penentu perilaku pencegahan Covid-19 berdasarkan reasoned action approach (RAA) dengan melibatkan total 863 responden dari 34 provinsi di Indonesia. Pengambilan data dilaksanakan pada 18 Juni sampai dengan 18 Agustus 2021 dengan menggunakan kombinasi teknik sampling purposive dan snowball melalui berbagai media social seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan WhatsApp.
Penelitian kami menggunakan pendekatan reasoned action approach – perluasan dari theory of planned behavior sebagai kerangka teoritis. Menurut RAA, penentu paling dekat dari perilaku kesehatan seseorang adalah niat orang tersebut untuk terlibat dalam perilaku yang dimaksudkan. Selanjutnya, niat untuk melakukan perilaku kesehatan dipandu oleh keyakinan yang terkait dengan perilaku:
- keyakinan perilaku tentang konsekuensi ketika seseorang melakukan perilaku, yang menentukan sikap individu terhadap perilaku kesehatan. Selanjutnya, sikap dibedakan menjadi; a. sikap instrumental – evaluasi kognitif tentang apakah suatu perilaku bermanfaat, misal: “Memakai masker ketika keluar rumah selama masa pandemi membuat saya terhindar dari infeksi Covid-19”; b. sikap pengalaman – komponen afektif dari sikap, misal: “Memakai masker ketika keluar rumah selama masa pandemi membuat saha merasa lebih aman”.
- keyakinan normatif yang menghasilkan norma subjektif, yang mengacu pada tekanan sosial yang dirasakan untuk terlibat atau tidak terlibat dalam suatu perilaku, dibedakan menjadi; a. norma-norma injunktif – apakah orang lain yang signifikan dalam satu kehidupan akan menyetujui atau tidak menyetujui mereka melakukan perilaku Kesehatan. Misal: “Pasangan saya mengharapkan saya selalu mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer setelah menyentuh benda-benda, sebelum menyentuh wajau atau makan, dan sebelum memasuki rumah selama masa pandemi”; b. norma deskriptif – apakah orang penting dalam satu pertunjukan melakukan atau tidak melakukan perilaku Kesehatan. Misal: “Orang tua saya selalu mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer setelah menyentuh benda-benda, sebelum menyentuh wajau atau makan, dan sebelum memasuki rumah selama masa pandemi”.
- kontrol keyakinan akan faktor pribadi dan lingkungan yang membantu atau menghambat kinerja perilaku kesehatan, dikategorikan menjadi; a. persepsi kapasitas – mencerminkan persepsi kemampuan untuk melakukan perilaku Kesehatan. Misal: “Saya yakin saya dapat tetap menjaga jarak 1 meter ketika bertemu dengan keluarga saya selama pandemi”; b. persepsi otonomi – tingkat kontrol atas perilaku. Misal: “Sejauh mana saya dapat mengontrol diri saya untuk tetap dapat menjaga jarak 1 meter ketika bertemu dengan keluarga selama masa pandemi”.
Penulis: Dr. Triana Kesuma Dewi Link jurnal: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2352340922003511





