UNAIR NEWS – Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) menghelat Kuliah Tamu Aquatic bertajuk Evakuasi dan Rehabilitasi pada Dugong dan Lumba-Lumba Terdampar. Inisiasi program kerja oleh Wildlife Animal Care (WLAC) Himpunan Mahasiswa Kedokteran Hewan (HMKH) tersebut berlangsung pada Sabtu (28/6/2025) secara daring melalui Zoom Meeting.
Hadir sebagai narasumber utama, Drh Dwi Suprapti MSi, dokter hewan dengan spesialisasi satwa akuatik yang telah lebih dari dua dekade berkecimpung dalam upaya konservasi megafauna laut. Dalam pemaparannya, Drh Dwi menjelaskan bahwa istilah mamalia laut merujuk pada satwa seperti dugong atau lumba-lumba, yang memiliki struktur tubuh dan sistem pernapasan berbeda dengan ikan.
“Perbedaan paling mendasar terletak pada posisi ekor serta sistem pernapasannya. Kalau mamalia laut itu ekornya horizontal, bernapas pakai paru-paru, dan punya blowhole (lubang napas) di atas kepala. Ikan, sebaliknya, ekornya vertikal dan bernapas dengan insang,” ujarnya.
Penyebab Kejadian Terdampar
Definisi terdampar, sambungnya, adalah kondisi di mana mamalia laut tidak mampu kembali ke habitatnya secara mandiri. Misalnya, ketika berada di perairan dangkal atau terdampar di darat. Adapun penyebab kejadian terdampar sangat beragam. Ia menyampaikan ada sebelas penyebab utama kejadian terdampar.
“Mulai dari terjebak di air surut, penyakit, predator seperti cookiecutter shark, kebisingan, aktivitas perikanan, tertabrak kapal, gempa dasar laut, blooming alga, badai matahari, cuaca ekstrem, sampai pencemaran laut,” jelasnya.
Drh Dwi juga membagikan pengalamannya saat menangani bayi dugong yang terdampar dan terpisah dari induknya karena air surut. “Berbeda dengan lumba-lumba, dugong yang masih kecil cenderung mendekati manusia. Biasanya mereka suka bersembunyi di bawah ketiak penyelam karena mengira itu induknya,” tambahnya.
Penanganan Berdasarkan Kode
Penanganan mamalia laut terdampar terbagi menjadi lima kode. Kode satu untuk mamalia laut yang masih hidup dan memerlukan evakuasi. “Lubang napas dari dugong, lumba-lumba, atau mamalia laut lainnya harus tetap terbuka, mata jangan sampai kena pasir, sirip dada jangan sampai patah karena tekanan tubuh. Itu semua harus dilindungi,” tuturnya.
Kode dua merujuk pada mamalia laut yang mati segar, yang memungkinkan untuk nekropsi. Kode tiga berarti tubuh mulai membusuk, tetapi masih bisa dikenali dan dilakukan nekropsi pada sebagian tubuhnya. Sedangkan kode empat menunjukkan kondisi bangkai yang telah membusuk berat, hanya bisa mendapatkan dokumentasi dari bagian luar. Lalu kode lima berarti hanya tersisa kerangka.
Drh Dwi menekankan bahwa saat mendekati mamalia, pendekatan harus dilakukan dengan tenang agar tidak menambah stres. Untuk evakuasi, perlu disiapkan tandu yang kokoh namun lembut karena kulit mereka sangat sensitif. Sementara dalam kasus terdampar massal, pelepasan ke habitatnya juga membutuhkan penanganan khusus.
“Kalau terdampar massal, misalnya sekelompok lumba-lumba, itu pelepasannya nggak bisa satu per satu. Mereka harus dilepas bersamaan sambil membentuk semacam lingkaran supaya bisa saling melihat. Kalau ada yang tertinggal, besar kemungkinan dia akan ikut terdampar lagi,” ungkapnya.
Terakhir, ia juga mengingatkan pentingnya pelaporan setiap kejadian terdampar ke otoritas yang berwenang. “Jangan jadi pahlawan sendirian. Selalu libatkan KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan), DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan), atau otoritas terkait. Dan jangan lupa dokumentasikan serta pelajari tiap kejadian sebagai pembelajaran bersama,” tutupnya.
Penulis: Fania Tiara Berliana Marsyanda
Editor: Ragil Kukuh Imanto





