Universitas Airlangga Official Website

Fitotelmata yang Menjadi Tempat Perindukan Nyamuk di Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan

Infeksi DBD masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang tergolong negara atropis. Infeksi DBD disebabkan oleh virus Dengue yang menyebar melalui nyamuk spesies Aedes yaitu Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Sejak berevolusi untuk berdampingan dengan tempat tinggal manusia, jangkauan geografis Ae.aegypti dibatasi oleh faktor lingkungan, terutama suhu, yang berada di atas 22°C dan di bawah 32°C berdasarkan umur dan kelangsungan hidup telur, larva, pupa. , dan fase fekunditas orang dewasa. Jenis tempat perkembangbiakan Aedes diantaranya adalah tempat perindukan alami yang disebut fitotelmata. Fitotelmata adalah habitat perairan yang tercipta secara alami ketika air tertampung oleh bagian tumbuhan, baik hidup maupun mati.

Mikroorganisme, makroinvertebrata, yang merupakan penyusun sebagian besar biomassa hewan, dan vertebrata kecil semuanya dapat hidup di fitotelmata. Studi observasional analitik dengan desain cross-sectional dilakukan pada musim hujan (Januari 2023) di wilayah yang mempunyai risiko tinggi DBD di Kecamatan Mantup, Lamongan. Purposive sampling dilakukan pada 30 titik pengambilan sampel yang tersebar di sepanjang Kecamatan Mantup. Surveyor melakukan penentuan 30 titik pengambilan sampel dilakukan secara purposif, yaitu pemilihan yang ditujukan pada titik yang kondisi lingkungannya berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes.

Beberapa faktor lingkungan yang berkontribusi terhadap penularan infeksi demam berdarah adalah migrasi manusia, aktivitas manusia, pasokan makanan, dan perubahan iklim. Jenis tempat perkembangbiakan lainnya adalah habitat perkembangbiakan alami yang disebut fitotelmata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman spesies Aedesspecies pada fitotelmata di Kecamatan Mantup, Lamongan, Jawa Timur, Indonesia.

Penelitian observasional analitik dilakukan dengan desain purposive sampling. Pengumpulan jentik nyamuk dilakukan pada bulan Februari hingga Maret 2023 di Kecamatan Mantup yang merupakan wilayah endemis infeksi DBD di Lamongan. Nyamuk yang belum dewasa dipelihara di laboratorium hingga berkembang menjadi nyamuk dewasa. Penelitian ini menemukan empat kelompok fitotelmata: ketiak daun, ruas bambu, daun tumbang, dan tempurung kelapa. Jenis fitotelmata yang paling dominan adalah ketiak daun (86,67%). Sedangkan persentase terendah adalah batok kelapa dan daun-daun berguguran (3,33%).

Sebanyak 56 jentik nyamuk yang terdiri dari 12 ekor Aedes aegypti jantan, 21 ekor Ae.aegypti betina, 12 ekor Aedes albopictus jantan, dan 11 ekor Ae.albopictus betina berhasil dikumpulkan dari 30 titik pengamatan. Pada penelitian ini ditemukan sebelas famili fitotelmata. Famili yang dominan adalah Araceae (33,3%), sedangkan yang terendah adalah Agavaceae, Commelinaceae, Marantaceae, dan Liliaceae (3,33%). Phytotelmata merupakan tempat perkembangbiakan nyamuk yang perlu diperhatikan dan diperhatikan dalam program pengendalian vektor demam berdarah.

Keberadaan fitotelmata di Kecamatan Mantup Lamongan patut diwaspadai. Selain itu, kesadaran dan pendidikan masyarakat mungkin penting dalam mencegah penyebaran nyamuk Aedes di Kecamatan Mantup. Warga harus didesak untuk sering memeriksa kebun mereka dan daerah sekitarnya untuk mencari tempat berkembang biak yang potensial dan mengambil tindakan untuk menghilangkannya. Penggunaan larvasida atau perangkap nyamuk merupakan upaya pemberantasan nyamuk yang efisien dan dapat dilakukan oleh pemerintah setempat untuk membantu warga.

Dapat disimpulkan bahwa berbagai fitotelmata yang ditemukan di sepanjang Kecamatan Mantup merupakan tempat perkembangbiakan nyamuk, khususnya Aedes sp. Sebelas famili fitotelmata ditemukan dalam penelitian ini. Yang dominan adalah Aedes sp. famili Araceae (33,3%), sedangkan yang terendah adalah Agavaceae, Commelinaceae, Marantaceae, dan Liliaceae (3,33%). Phytotelmata merupakan tempat perkembangbiakan nyamuk yang perlu diperhatikan dan diperhatikan dalam program pengendalian vektor demam berdarah.

Penulis: Dr. Hariyono, M.Kep., Shifa Fauziyah, S.Si., M.Ked.Trop; Teguh Hari Sucipto, S.Si., M.Si; Nur Fadhilah, S.Pd., M.Imun; Anik Eko Novitasari, S.Si., M.Farm Artikel selengkapnya dapat diakses di : https://smujo.id/biodiv/article/view/14548/7158