Universitas Airlangga Official Website

FK UNAIR Gelar International Guest Lecture Bahas Hipoglikemia dan Hiperinsulinisme pada Bayi

Prof Suresh saat memaparkan materi dalam International Guest Lecture di Aula FK UNAIR (dok: FK UNAIR) Jumat (27/2/2026). (Foto: Istimewa)
Prof Suresh saat memaparkan materi dalam International Guest Lecture di Aula FK UNAIR (dok: FK UNAIR) Jumat (27/2/2026). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar International Guest Lecture pada Jumat (27/2/2026) di Aula FK UNAIR. Kegiatan itu merupakan kolaborasi antara FK UNAIR dengan KK Women’s and Children’s Hospital SingHealth serta Medika Karya Airlangga. Hadir sebagai pembicara utama Clin Assoc Prof Suresh Chandran MBBS DCH MD (Pediatrics) MRCP (UK) FRCPCH (UK) CCST (UK) FAMS yang membawakan topik “When Glucose Fails: Managing Metabolic Transition in HighRisk Neonates”. Hadir dalam forum ini para dosen, dokter spesialis anak, residen, hingga dokter muda.

Dalam opening speech, Dekan FK UNAIR Prof Dr dr Eighty Mardiyan Kurniawati SpOG Subsp UroginRE menyatakan bahwa penguatan kapasitas klinis pada periode neonatal menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya kompleksitas kasus bayi risiko tinggi. “Topik hari ini mengenai manajemen transisi metabolik pada bayi risiko tinggi merupakan salah satu fase paling kritis dalam kehidupan manusia, khususnya pada periode neonatal. Transisi dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin adalah perjalanan metabolik yang kompleks,” ujarnya.

Dekan FK UNAIR, Prof Dr dr Eighty Mardiyan Kurniawati SpOG Subsp UroginRE saat memberikan opening speech pada International Guest Lecture pada Jumat (27/2/2026) di Aula FK UNAIR. (Foto: Istimewa)
Perubahan Protokol Hipoglikemia Neonatal Tekan Rawat Inap Bayi Baru Lahir

Prof Suresh mengungkapkan bahwa Hipoglikemia pada jam awal kehidupan selama ini ditangani dengan pendekatan yang berorientasi pada angka glukosa semata. Banyak fasilitas kesehatan memeriksa kadar gula dalam 30 menit pertama setelah lahir, saat secara fisiologis kadar tersebut memang sedang turun. Praktik ini sering mendorong tenaga medis memberikan infus glukosa lebih cepat dan merawat bayi di ruang perawatan khusus, meski sebagian besar bayi tidak menunjukkan gejala klinis.

Prof Suresh mengkritisi pendekatan tersebut. Ia menilai penggunaan ambang batas pada waktu yang tidak tepat justru mengganggu proses adaptasi metabolik alami bayi. “Hipoglikemia dalam beberapa jam pertama kehidupan tetap menjadi kondisi metabolik paling umum pada neonatus. Namun hingga kini kita belum benar-benar mengetahui kadar gula normal bayi saat lahir. Sehingga manajemennya selama ini masih bertumpu pada bukti yang sangat terbatas,” ungkap Prof Suresh.

Sesi foto bersama kegiatan International Guest Lecture pada Jumat (27/2/2026) di Aula FK UNAIR. (Foto Istimewa)

Sebagai respons, timnya mengganti pendekatan glucose-centric menjadi feed-centric pathway. Tenaga medis memprioritaskan inisiasi menyusu dan perawatan kulit ke kulit dalam satu jam pertama, lalu mengevaluasi kadar glukosa pada usia dua jam kecuali bayi menunjukkan gejala. Perubahan ini menurunkan angka perawatan di ruang neonatal hingga lima kali lipat tanpa peningkatan kasus kekambuhan. Pendekatan tersebut kini diadopsi dalam penyesuaian protokol klinis pada fase transisi metabolik bayi baru lahir.

Kompleksitas Penanganan Hipoglikemia Berat pada Bayi Baru Lahir

Setelah membahas transisi metabolik pada bayi risiko tinggi, sesi berikutnya mengangkat kondisi yang lebih serius, yakni hipoglikemia persisten akibat hiperinsulinisme. Prof Suresh menjelaskan kondisi ini muncul ketika kadar gula tetap rendah setelah 48 jam pertama kehidupan dan tidak lagi termasuk fase adaptasi normal. Menurutnya, dokter harus memastikan penyebabnya secara tepat karena hipoglikemia berulang dapat mengganggu perkembangan otak. Keputusan klinis pada fase ini memerlukan ketelitian dan pemantauan ketat.

Lebih lanjut Prof Suresh menekankan bahwa proses diagnosis tidak bisa disederhanakan hanya berdasarkan angka laboratorium.“Menavigasi kompleksitas tidak mudah karena diagnosisnya memang tidak sederhana. Secara teori kriterianya terlihat jelas: glukosa rendah, insulin terdeteksi, keton rendah, dan asam lemak bebas rendah. Siapa pun bisa memahaminya. Tetapi dalam praktik klinis, kondisinya tidak sesederhana itu,” tuturnya. 

Sebagian bayi memerlukan terapi khusus seperti diazoxide, pemeriksaan genetik, hingga kemungkinan tindakan bedah. Penanganan hiperinsulinisme membutuhkan pendekatan sistematis dan berbasis bukti untuk mencegah hipoglikemia berulang serta menekan risiko cedera neurologis permanen sejak dini.

Penulis: Kania Khansanadhifa Kallista. 

Editor: Ragil Kukuh Imanto.