Tuberkulosis (TBC) bukan hanya penyakit yang menyerang paru-paru, tetapi juga dapat memperburuk kondisi gizi anak. Anak yang menderita TBC sering mengalami penurunan nafsu makan, gangguan metabolisme, dan akhirnya mengalami kekurangan berat badan bahkan stunting (kerdil). Di sisi lain, anak yang mengalami malnutrisi juga lebih mudah tertular penyakit, termasuk TBC. Inilah yang menjadi dasar penelitian terbaru dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.
Penelitian ini berfokus pada pemberian Food for Special Medical Purposes (FSMP)—susu khusus bergizi tinggi—selama 90 hari kepada anak-anak usia 1–5 tahun yang mengalami kekurangan gizi dan terinfeksi TBC. FSMP adalah susu tinggi kalori yang diformulasikan secara medis untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus, termasuk anak-anak yang mengalami gangguan tumbuh kembang dan infeksi kronis.
Sebanyak 29 anak berpartisipasi dalam studi ini. Mereka mendapatkan 400 ml FSMP setiap hari. Selama tiga bulan, tim dokter memantau perkembangan berat badan, tinggi badan, dan juga kadar interleukin-10 (IL-10), yaitu salah satu indikator peradangan dalam tubuh.
Hasilnya sangat menggembirakan. Setelah 90 hari konsumsi rutin, ditemukan:
- Berat badan anak meningkat rata-rata 0,75 kg
- Tinggi badan bertambah sekitar 2,75 cm
- Indikator gizi seperti WAZ (berat menurut usia) dan LAZ (tinggi menurut usia) membaik secara signifikan
Hal menarik lainnya adalah tingkat kepatuhan anak-anak dalam mengonsumsi FSMP juga meningkat secara bertahap. Pada awalnya hanya 69% anak yang mampu menghabiskan minimal 75% dari susu yang diberikan. Namun pada bulan ketiga, 100% anak dapat meminumnya sesuai anjuran dokter. Ini menunjukkan bahwa anak-anak mulai menerima rasa dan rutinitas minum susu tersebut dengan baik.
Namun demikian, ada satu hasil yang kurang sesuai harapan. Meskipun terjadi penurunan kadar IL-10 sebesar 35,8%, perubahan ini tidak signifikan secara statistik. Artinya, dari sisi peradangan dan respons imun, efek FSMP masih perlu diteliti lebih lanjut. IL-10 sendiri adalah zat yang bisa menghambat peradangan, tapi dalam jumlah berlebih justru bisa memperlemah sistem kekebalan tubuh dalam melawan TBC.
Mengapa IL-10 tidak menurun secara signifikan? Para peneliti menduga ada faktor lain yang belum diteliti lebih dalam, seperti adanya infeksi lain seperti parasit atau faktor genetik yang bisa mempengaruhi kadar IL-10. Penelitian ini memang hanya fokus pada anak dengan TBC, dan belum menyinggung faktor lingkungan, status imun, atau infeksi penyerta lainnya.
Meski demikian, penelitian ini menegaskan bahwa intervensi gizi yang tepat—dalam hal ini FSMP—dapat membantu mempercepat pemulihan pertumbuhan anak yang kekurangan gizi dan menderita TBC. Susu medis ini dapat menjadi solusi praktis dalam program pemulihan gizi, terutama di daerah dengan kasus TBC tinggi.
Apa maknanya bagi orang tua dan tenaga kesehatan?
Bagi orang tua, hasil penelitian ini mengingatkan bahwa anak-anak dengan masalah gizi berat memerlukan intervensi khusus, tidak cukup hanya dengan makanan sehari-hari. Bagi tenaga kesehatan, penting untuk mempertimbangkan FSMP sebagai bagian dari terapi pendamping dalam kasus anak dengan TBC dan malnutrisi.
Kesimpulannya: susu medis FSMP terbukti mampu membantu pertumbuhan anak dengan kondisi khusus, meskipun pengaruhnya terhadap sistem kekebalan tubuh masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Penelitian ini menjadi bukti bahwa pendekatan multidimensi—menggabungkan terapi medis dan nutrisi—adalah kunci dalam memutus lingkaran setan antara malnutrisi dan infeksi.
Penulis: Dr. Nur Aisiyah Widjaja, dr., Sp.A(K) dan tim
Informasi detail artikel: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/the-impact-of-food-for-special-medical-purposes-on-interleukin-10





