Obesitas merupakan masalah global yang diperkirakan akan menyentuh separuh populasi dewasa dunia pada tahun 2030. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan risiko penyakit kronis, tetapi juga dapat mempercepat penuaan seluler melalui jalur molekuler seperti mTORC1. Gen ini mengatur metabolisme dan pertumbuhan sel. Jika gen ini terlalu aktif dan berlebihan dapat merusak kemampuan tubuh dalam mengatur kadar gula darah dan lemak, serta memicu stres oksidatif dan inflamasi kronis. Periodic Fasting disebutkan dapat memperbaiki status kesehatan metabolik dan memperlambat proses penuaan. Namun, studi yang mendalami hubungan PF–mTORC1 pada obesitas masih terbatas.
Penelitian yang dikerjakan merupakan penelitian yang didesain sebagai quasi-eksperimental dengan kontrol pasca dan pra-puasa. Partisipan yang berperan serta sebanyak 40 orang dewasa (BMI ≥23), dibagi kelompok puasa dan kontrol. Puasa dilakukan selama 12 jam per hari (makan pukul 6 pagi & 6 sore), konsumsi kalori diturunkan ~40%, dan hidrasi cukup. Parameter yang diukur adalah tekanan darah, glukosa puasa, berat badan, lingkar pinggang, ekspresi gen mTORC1, gangguan makan (BED), dan kualitas hidup.
Hasil penelitian ini membuktikan puasa selama 12 jam dan penurunan kalori intake dapat menurunkan tekanan darah sistolik, glukosa puasa, berat badan, BMI, lingkar pinggang, dan lingkar perut. Sedangkan secara genetik didapatkan penurunan ekspresi mTORC1 secara drastis menjadi hanya 0,13 kali dari nilai awal. Artinya, puasa dan restriki kalori efektif menurunkan gen pemicu penuaan. Pada kelompok intervensi juga dijumpai kesehatan mental yang lebih stabil sehingga tidak terjadi peningkatan gangguan makan; justru jumlah peserta tanpa BED naik dari 80% menjadi 85%. Skor QoL tetap stabil, dengan peningkatan domain psikologis hingga 90%. Pada kelompok intervensi hanya 3,1% yang melaporkan keluhan ringan seperti lemas, kedinginan,
Studi ini menggarisbawahi bahwa puasa teratur sederhana dapat menjadi alat efektif menjaga kesehatan dan memperlambat penuaan pada kasus obesitas ringan–sedang. Dengan dampak yang signifikan terhadap gen penuaan tetapi minim efek samping, pendekatan ini menawarkan wawasan biologi molekuler dalam praktik harian dan membuka peluang bagi revolusi gaya hidup sehat di masa depan.
Penulis: Purwo Sri Rejeki
Akses lengkap artikel: https://ijirss.com/index.php/ijirss/article/view/7573





