Universitas Airlangga Official Website

Gender dan Dinamika Status Sosial dalam Merespons Pujian: Kajian Pragmatik Lintas Budaya pada Mahasiswa Indonesia dan Pakistan

Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam berinteraksi dan berkomunikasi dalam masyarakat Perlu strategi dalam menjalin hubungan agar terjadi harmonisasi dalam pergaulan. Strategi—strategi tersebut dipelajari dalam bidang pragmatik. Salah satu yang aspek pragmatik yang menarik dalam berinteraksi adalah memuji dan merespon pujian. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui cara mahasiswa Indonesia dan Pakistan dalam merespon pujian yang diberikan kepadanya. Kajian ini termasuk dalam pragmatik lintas budaya yang menguraikan bagaimana dalam bahasa dan budaya yang berdeda masyarakatnya menerapkan tindak tutur merespon pujian.

Pragmatik lintas budaya merupakan kajian yang menarik karena berangkat dari sebuah pemahaman bahwa dalam masyarakat yang berbeda, menggunakan bahasa yang berbeda dan menerapkan tindak tutur yang berbeda. Tindak tutur dan realisasi linguistik sangat bervariasi dalam setiap masyarakat dan budaya yang berbeda. tutur. Oleh sebab itu mengkaji salah satu aspek pragmatik yaitu tindak tutur merespon pujian merupakan topik yang sangat penting untuk memahami bagaimana masyarakat lain menerapkan strategi dalam merespon pujian khususnya mahasiswa Indonesia dan Pakistan. Data dikumpulkan dengan  menyebarkan kuesioner lewat gooogle form dengan model DCT (Discourse Completian Task) kepada mahasiswa Indonesia dan Pakistan.

Dengan mengacu pada strategi model Yu (2004) ada enam strategi yang dapat diterapkan dalam merespon pujian yaitu (1) acceptance meliputi appreciation token, agreement, pleasure, association; (2) Amandement technic meliputi return, downgrade, upgrade, question, transfer, association; (3) non acceptance terdiri atas disagreement, qualification, association; (4) face relation -related response strategis; (5) combination strategis; dan (6) No-acknowledgement. Salah satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap pemilihan strategi tersebut adalah aspek gender karena gender memegang peranan penting dalam interaksi sosial.

Penelitin ini menemukan bahwa terkait gender ( mahasiswa dan mahasiswi)  Indonesia dan Pakistan cenderung memilih  acceptance strategy  atau menerima pujian yang diberikan kepadanya. Fakta yang menarik adalah mahasiswa (laki-laki) di Indonesia lebih banyak menggunakan acceptance strategy daripada strategi lainnya sedangkan di Pakistan mahasiswi (perempuan) lebih memilih menggunakan acceptance strategy daripada strategi lainnya.

Terkait dengan kelangsungan dan ketidaklangsungan (direct and indirect) respon, mahasiswi Indonesia dan Pakistan cenderung menerapkan strategi yang bersifat indirect dan modest respon yang merefleksikan ekspektasi sosial dan sikap rendah hati. Selain gender, aspek lain yang mempengaruhi pemilihan strategi dalam merespon tindak tutur memuji adalah status sosial. Dalam situasi di mana pembicara yang memiliki status lebih rendah (-Power) akan menerapkan strategi seperti acceptance, contribution, dan amandement. Sebailknya, dalam situasi ketika pembicara dan pendengar memiliki status yang sama (=Power) mahasiswa menggunakan strategi no acceptance dan no acknowledgement. 

Refleksi dari hasil penelitian ini bahwa baik di Indonesia maupun Pakistan peran gender tradisional sangat mempengaruhi laki-laki dan perempuan dalam merespon pujian yang diberikan. Di negara Pakistan masyarakatnya masih memegang sistem patriarki yang memprioritaskan laki-laki daripada perempuan. Laki-laki sangat taat pada pada norma-norma maskulin mengenai ketegasan dan kepercayaan diri. Oleh sebab itu dalam pemilihan strategi dalam merespon pujian ini laki-laki cenderung lebih sedikit menggunakan strategi acceptance (penerimaan) dan amandement strategy. Di lain pihak, perempuan menunjukkan kesopanan dan rasa hormat yang lebih tinggi dalam memilih strategi acceptance dan combination strategy. Perbedaan-perbedaan ini dapat disebabkan oleh norma dan harapan budaya, peran dan sosialisasi gender, dinamika kekuasaan, serta gaya bahasa dan komunikasi.

Temuan-temuan ini mempunyai implikasi penting terhadap komunikasi antarbudaya, menekankan perlunya memahami dan menghormati norma-norma budaya yang beragam dan dinamika gender ketika terlibat dalam interaksi lintas budaya. Menyadari peran dinamika kekuasaan dan bahasa dalam merespon pujian akan meningkatkan pemahaman kita tentang pola komunikasi dan mendorong pemahaman dan  pertukaran antarbudaya yang efektif. Pada akhirnya, memahami dan menavigasi seluk-beluk merepon pujian, berkontribusi dalam membina hubungan antar budaya yang positif, mengurangi kesalahpahaman, dan meningkatkan rasa saling menghormati dan komunikasi yang efektif di berbagai budaya.

Penulis: Fariha Bibi, Ni Wayan Sartini

Sumber: Fariha Bibi & Ni Wayan Sartini (2023) â€śGender and social power dynamics in compliment responses: A cross-cultural pragmatic study of university students in Indonesia and Pakistan”, Cogent Arts & Humanities, 10:1,  https://doi.org/10.1080/23311983.2023.2262076