Universitas Airlangga Official Website

Guru Besar FST UNAIR Paparkan Peran Histologi Hewan dalam Eksplorasi Teripang Lokal 

Prof Dr Dwi Winarni MSi saat menyampaikan orasi ilmiah dalam upacara pengukuhan guru besar Universitas Airlangga (foto: PKIP UNAIR)

UNAIR NEWS – Histologi merupakan cabang ilmu Biologi yang mempelajari  struktur mikroskopis jaringan pada organisme hidup. Saat ini, teknologi dalam pemeriksaan histologi telah banyak berkembang. Hal tersebut membawa dampak signifikan pada efisiensi, akurasi, dan cakupan analisis jaringan. 

Topik tersebut Prof Dr Dwi Winarni MSi sampaikan pada orasi ilmiahnya dalam upacara pengukuhan guru besar Universitas Airlangga (UNAIR) pada Kamis (24/4/2025) di Aula Garuda Mukti, Gedung Manajemen UNAIR Kampus MERR-C. “Struktur jaringan secara langsung mempengaruhi fungsi biologisnya demikian pula dari strukturnya, dapat diperkirakan fungsi biologisnya,” paparnya.

Prof Dwi menjelaskan bahwa pengamatan dan analisis jaringan hewan melibatkan berbagai teknik untuk memahami hubungan antara struktur jaringan dengan fungsi biologisnya. Pada perkembangannya, menurut Prof Dwi, teknologi berperan penting pada automasi dalam pemrosesan jaringan serta mengurangi tingkat kesalahan oleh laboran. 

“Teknologi pada mikroskop memungkinkan dihasilkan citra tiga dimensi dengan resolusi tinggi. Teknologi digital memungkinkan citra irisan jaringan dapat disimpan dalam format digital yang kemudian dapat dianalisis lebih lanjut, dan teknologi molekuler dan genetika memunculkan teknik pewarnaan imunohistokimia dan teknik hibridisasi in situ yang dapat mendeteksi keberadaan protein dan urutan DNA atau RNA spesifik dalam jaringan,” paparnya. 

Prof Dwi menceritakan sepanjang karirnya sebagai seorang peneliti dukungan teknologi dalam histologi sangat membantunya dalam penelitian. Salah satunya pada kajian struktur tubuh teripang lokal yang hidup di perairan Selat Madura. Melalui histologi, Prof Dwi dapat mengetahui potensi teripang sebagai bahan yang bermanfaat secara farmakologis. 

“Bagian tubuh teripang yang diketahui mengandung kolagen adalah dinding tubuh dengan kandungan kolagen 70% dari total kandungan protein. Keberadaan kolagen penyusun tubuh teripang maupun Echinodermata lainnya merupakan struktur khas yang disebut mutable collagenous tissue (MCT),” jelasnya. 

Prof Dwi menjelaskan bahwa kandungan kolagen pada teripang umumnya adalah kolagen tipe I, yang juga sama dengan 90% kolagen pada manusia. Oleh karena itu, produk-produk yang mengandung kolagen tipe I dari teripang memiliki nilai komersial tinggi. Produk-produk tersebut memiliki banyak manfaat untuk kepentingan perawatan kulit, rambut dan kuku, juga untuk kesehatan sendi. 

“Keunggulan marine collagen, juga kolagen teripang, antara lain berat molekul (BM) yang lebih kecil sehingga lebih mudah larut dan terserap dalam air, bebas dari resiko penularan zoonosis dan masalah kehalalan, imunogenisitas rendah, dan resiko respons inflamasi rendah serta lebih mudah terekstrak,” papar Prof Dwi.

Prof Dwi juga menjelaskan bahwa histologi sangat penting dalam mendorong eksplorasi spesies teripang. Apalagi sejak tahun 2019 beberapa jenis teripang telah masuk daftar The Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) karena terancam punah akibat eksploitasi berlebihan. 

“Kondisi ini mendorong peneliti untuk mengeksplorasi spesies lokal yang belum populer secara komersial. Upaya ini penting agar pemanfaatan teripang tetap berkelanjutan. Sebagai ahli histologi hewan, saya berperan sejak tahap eksplorasi awal hingga pengujian produk kolagen,” ungkap Prof Dwi. 

Penulis : Febriana Putri Nur Aziizah

Editor : Edwin Fatahuddin