Universitas Airlangga Official Website

Guru Besar UNAIR Dorong Kebijakan Kependudukan untuk Ekonomi Berkelanjutan 

Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Pembangunan dan Kependudukan Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Lilik Sugiharti SE MSi. (Foto: Humas UNAIR)
Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Pembangunan dan Kependudukan Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Lilik Sugiharti SE MSi. (Foto: Humas UNAIR)

UNAIR NEWS – Resmi menyandang Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Pembangunan dan Kependudukan Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Lilik Sugiharti SE MSi ternyata memiliki kecintaan terhadap bunga anggrek. Ia menikmati proses merawat tanaman tersebut, mulai dari menunggu tunas tumbuh hingga bunganya mekar sempurna. 

Baginya, merawat anggrek bukan sekadar hobi. Anggrek mengajarkan bahwa pertumbuhan membutuhkan kesabaran, perhatian, dan proses yang tidak instan. Nilai yang sama pula ia pegang selama menempuh perjalanan akademik sejak jenjang sarjana hingga meraih gelar guru besar.

 “Saya merasa sangat prestisius dan bermanfaat, di situ ada pembelajaran hidup yang luar biasa. Ketelatenan melatih saya untuk fokus dan berkonsentrasi, lalu dari situlah hadir kebahagian,” ungkapnya. Nilai-nilai itulah yang kemudian mengantarkannya menapaki karier keilmuannya hingga menyandang guru besar.  

Dalam sambutannya guru besarnya, Prof. Lilik menyoroti bahwa Indonesia menghadapi paradoks demografis dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, yakni mencapai 284,47 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 69 persen berada pada usia produktif. 

Menurutnya, kondisi itu menjadi peluang besar sekaligus tantangan bagi Indonesia dalam mewujudkan pembangunan ekonomi berkelanjutan. “Peluang tersebut hanya akan bermanfaat apabila diiringi peningkatan kualitas modal manusia, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga keterampilan tenaga kerja,” jelasnya. 

Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa dinamika kependudukan memiliki keterkaitan langsung dengan tiga aspek utama pembangunan berkelanjutan. Ia menyebut bonus demografi menghadirkan tiga peluang utama, yakni peningkatan akumulasi modal melalui tabungan dan investasi domestik, kenaikan produktivitas, serta penguatan konsumsi domestik. 

“Pembangunan berkelanjutan berkaitan dengan dimensi ekonomi yang menekankan perlunya penguatan modal manusia melalui investasi dalam pendidikan dan kesehatan serta dimensi lingkungan yang menempatkan keberlanjutan sebagai batas sekaligus prasyarat pertumbuhan ekonomi,” imbuhnya. 

Lebih lanjut, Prof. Lilik menegaskan bahwa penduduk memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan. Namun, ia juga mengingatkan adanya tantangan berupa urbanisasi yang tidak terkendali dan degradasi lingkungan. 

“Penduduk perlu diposisikan sebagai aset pembangunan yang harus dikelola secara terintegrasi melalui perataan lintas sektoral berbasis data berkelanjutan yang berpotensi menjadi motor ekonomi yang inklusif dalam mendukung kinerja pemerintah,” tegasnya.

Selain itu, Prof Lilik menekankan pentingnya kebijakan yang harus dilakukan oleh pemerintah. Di antaranya menyeimbangkan pembangunan antarwilayah dengan dukungan kebijakan kependudukan yang komprehensif, penguatan investasi modal manusia, memperbaiki kinerja pasar tenaga kerja dan sektor terkait, menyiapkan jaring perlindungan sosial inklusif, hingga mengintegrasikan aspek kependudukan dalam seluruh siklus perencanaan pembangunan berkelanjutan. 

“Perlu adanya pemerataan program reskilling dan upskilling, menyiapkan sistem perlindungan sosial yang responsif termasuk penguatan skema jaminan kesehatan dan pensiun, layanan dan infrastruktur, serta pengembangan program inklusi sosial yang mendorong produktivitas,” pesannya.

Penulis: Putri Andini

Editor: Khefti Al Mawalia